DARI LAPANGAN

Getah Karet Kini Terasa Manis

12 Jun, 2017

Faozaro Harefa sedang menyadap getah karet di kebunnya. Dengan teknik okulasi yang diaplikasikan pada benih pohon getah karet yang dihasilkan pohon akan lebih banyak.

Bagi Faozaro Harefa (51) getah karet adalah ‘makanan’ harian. Dengan tekun, bapak enam anak ini merawat kebun keretnya yang seluas empat hektar. Pagi dan malam, ia menyadap getah karet dari pohonnya untuk kemudian dijual jika jumlahnya sudah cukup. Pria dari Desa Tuhanekhae, Kabupaten Nias yang juga seorang Kepala Sekolah ini baru fokus terhadap perkebunan karet sejak tujuh tahun terakhir.

“Saya mulai tertarik berkebun karet sejak tahun 1984. Saya sedang berada di Pekanbaru saat itu. Dibanding dengan karet di Nias, karet Pekanbru memang lebih baik karena petani memakai teknik okulasi untuk  bibit-bibit karetnya,” kata Faozaro, mengenang pengalaman pertamanya mengenal karet. “Karena tertarik saya membawa bibit-bibitnyadari Pekanbaru dan menanamnya di sini tapi tidak berhasil. Saya baru tahu bahwa bibit-bibitnya tidak tumbuh karena kita tidak menerapkan teknik okulasi.”

Sejak saat itu, Faozaro tidak terlalu menaruh perhatian ke perkebunan karet karena hasil yang ia dapat tidak memadai. Sampai akhirnya pada tahun 2010 Faozaro bertemu dengan Wahana Visi Indonesia (WVI) kantor operasional Nias yang memulai pendampingan masyarakat melalui program perekonomian yang berfokus pada kebun karet. WVI melatih beberapa petani karet yang tergabung dalam sebuah kelompok untuk mengolah tanaman karet dengan teknik okulasi.

“WVI melatih kami untuk mendapatkan benih karet yang berkualitas dan cara menyadap karet yang benar. WVI juga menyediakan kami bibit-bibit karet berkualitas dari Medan dan sekarang kami sudah menanamnya di kebun karet kami,” kata Faozaro menjelaskan manfaat yang ia peroleh dari WVI.

Faozaro mengikuti pelatihan teknik okulasi beberapa kali hingga akhirnya ia familiar dengan teknik okukasi. Awalnya warga di Desa Tuhannekae mengolah satu hektar lahan untuk ditanami bibit karet. Kini lahannya sudah bertambah seiringn hasil panen yang meningkat.

“Kami telah banyak berubah. Teknik okulasi batang membuat panen kami bertambah. Dulu kami cuma duduk-duduk menunggu panen tapi sekarang kami bisa mengurus kebun  dan menyadap karet tiap hari,” ceritanya.

Dari satu hektar lahan, Faozaro bisa mendapat kurang lebih satu ton lateks atau getah karet. Jika harga sedang bagus, 1 kilogram lateks bisa dihargai Rp. 10.000. Dari empat hektar yang kebun yang diusahakan oleh Faozaro, bapak dari enam anak ini mendapat hasil yang cukup untuk menyekolahkan keenam anaknya. Dua diantaranya bahkan telah melanjutkan pendidikan ke jenjang universitas.

“Kalau saya hanya bergantung pada pekerjaan saya sebagai kepala sekolah, saya belum tentu bisa menyekolahkan anak saya. Saya bersyukur dan berterima kasih pada Wahana Visi Indonesia karena telah menolong kami mengelola kebun karet dan melatih tentang teknik okulasi,” tutup Faozaro.

Dengan teknik okulasi, getah karet kini terasa 'manis' terutama bagi para petani. Kini mereka memiliki getah karet yang lebih banyak untuk dijual. Semakin banyak getah karet yang diperoleh, semakin banyak dana yang diperoleh oleh masyarakat untuk pendidikan anak-anak mereka.

 

Ditulis oleh Rena Tanjung, Field Communications Officer, Wahana Visi Indonesia