DARI LAPANGAN

Ketika Ondel-ondel Berubah Jadi Boneka dan Gantungan Kunci

09 Aug, 2017

Nasfati (kanan) bersama dengan suami dan kedua anaknya mendapat berbagai manfaat dari hasil berjualan kerajinan ondel-ondel yang terbuat dari barang bekas.

Siapa tidak kenal dengan ondel-ondel? Boneka raksasa yang jadi ikon Kota Jakarta ini selalu menarik perhatian siapapun saat muncul dalam acara pernikahan adat Betawi. Dengan iring-iringan pemusik tradisional Betawi, boneka yang selalu tampil berpasangan ini pasti menimbulkan kesan tersendiri bagi warga Jakarta terutama anak-anak. Begitu juga dengan Nasfati (28).

Wanita muda tidak pernah melewatkan sesi apapun ketika ondel-ondel lewat di depannya waktu ia masih kecil. Kini setelah ia menikah, ondel-ondel masih lekat dalam kehidupannya bahkan pendapatan rumah tangganya kini bergantung pada ondel-ondel. Ia mencoba mengubah pandangan orang tentang ondel-ondel yang selalu muncul sebagai raksasa menjadi  berbagai macam aksesoris ondel-ondel seperti boneka ondel-ondel dan gantungan kunci.

“Saya dan suami penyuka ondel-ondel jadi kami membuat berbagai macam aksesoris dan kebetulan banyak peminatnya di Jakarta,” tutur Nasfati yang tinggal di Kramatjati, Jakarta Timur ini.

Pembuatan ondel-ondel yang dilakukan oleh Nasfati terbilang unik dan instimewa sebab ia tidak menggunakan material baru namun hanya mengolah dari barang-barang bekas seperti tempat shuttlecock, botol bekas, bambu, dan barang-barang sisa dari beberap pabrik. Semua bahan juga ia ambil dari tetangga sendiri.  Alasannya, Nasfati yang semasa kecil pernah didampingi oleh Wahana Visi Indonesia (WVI) ingin mengembangkan perekonomian tetangga sekitarnya.

Nasfati yang mendesain gantungan kunci sendiri mematok harga gantungan kunci seharga Rp. 10.000 dan boneka ondel-ondel ukuran medium seharga Rp. 150.000. Dalam sebulan, ia mampu memperoleh keuntungan bersih senilai Rp. 3.000.000. Uang tersebut ia gunakan untuk modal membeli peralatan untuk membuat aneka ondel-ondel, memenuhi kebutuhan harian, dan membantu perekonomian keluarganya.

Melalui program Sobipoor (Social Business Incubator Poor Families), Nasfiati belajar tentang berbagai hal baru seperti pengemasan barang dan juga cara membuka dan mengelola usaha. Wanita ini bercerita bagaimana ia juga mendapat stimulan berupa pinjaman modal pada awal usahanya. Sobipoor adalah salah satu program WVI yang bertujuan untuk mengurangi angka kemiskinan di daerah urban Jakarta dengan meningkatkan ekonomi mikro di daerah urban yang tertinggal secara ekonomi dan berdampak pada peningkatan kesejahteraan anak-anak mereka.

“Saat dulu kami ingin membuka usaha, kami terkendala modal, namun lewat program Sobipoor kami mendapat pinjaman modal dan usaha kami bisa berjalan dengan baik,” katanya.

Kini ia sudah memiliki merek sendiri yang sudah terdaftar dalam konsultan Hak Kekayaan Intelektual. Merek untuk ondel-ondelnya ia beri nama ‘Ozza Icha’ yang diambil dari namanya dan nama suaminya. Dalam seminggu ia dan suaminya bisa menghasilkan 100 buah ondel-ondel yang dengan aneka bentuk. Jumlah tersebut akan bertambah saat ada orang yang memesan untuk pernikahan mereka.

“Terima kasih WVI dan Sobipoor karena pernah membantu usaha kami terutama dalam pemberian stimulan atau pinjaman modal. Dulu kami tidak tahu cara memasarkan sekarang kami bisa dengan mudah memasarkan karena sudah beberapa kali mengikuti bazaar juga,” kata Nasfati yang mengaku pernah dua kali diliput oleh media televisi karena usaha uniknya ini.

 

Ditulis oleh Rena Tanjung, Field Communications Officer, Wahana Visi Indonesia