DARI LAPANGAN

Pendidikan Karakter Sejak Dini di Napungliti

08 Aug, 2017

Elisabeth (kiri) sedang mengajar murid-muridnya dengan cara yang menyenangkan supaya mereka tetap semangat belajar di kelas.

Elisabeth tampak bersemangat mengajar murid-murid kelas 1, SDK Napungliti pada siang hari itu. Dengan posisi duduk melingkar, pandangan murid-murid tersebut bisa langsung terarah padanya. Meski sedari tadi ia mengajak murid-murid menyanyi, bertepuk tangan, dan bergerak, namun tak tampak rasa lelah pada wajahnya. Semangatnya terus terpancar selama 11 tahun ini ia mengajar murid-murid kelas 1 SD.

“Dulu anak-anak tidak pernah bersemangat seperti ini,” cerita Elisabeth membuak percakapan “Mereka biasanya malas-malasan datang ke kelas.”

Ternyata, bukan tanpa alasan murid-muridnya kini memiliki sifat yang berbeda. Setelah  menerapkan Pendidikan dengan spirit Kulababong, anak-anak memiliki sikap yang berbeda karena cara mengajarnya termasuk guru-guru lain juga telah berubah. Jika dulu mereka hanya terpaku pada cara belajar di kelas, kini guru bisa mengajak anak-anak untuk belajar di luar kelas supaya suasana tidak menjadi kaku lagi dan anak-anak menjadi lebih mudah mengerti setiap materi pelajaran yang diajarkan.

Sejak tahun 2012, Elisabeth mulai mengenal pendidikan kontekstual dengan Spirit Kulababong saat Wahana Visi Indonesia kantor operasional Sikka mulai mendampingi SDK Napungliti. Spirit Kulababong atau dalam bahasa Sikka berarti berkumpul untuk bermusyawarah memecahkan satu masalah. Dalam pendidikan kontekstual, Spirit Kulababong diterapkan guru di dalam kelas untuk memecahkan setiap masalah pelajaran yang dihadapi oleh para murid. Metode pendidikan ini juga mengajarkan setiap murid untuk memiliki Harmoni Diri, Harmoni Sesama, dan Harmoni Alam. Harmoni Diri, anak menjadi lebih mencintai dirinya sendiri dan percaya diri, Harmoni Sesama mengajarkan anak didik untuk memiliki hubungan yang baik dengan orang lain sementara itu untuk Harmoni Alam mengajarkan anak agar memiliki hubungan yang baik dengan alam dan kebudayaan mereka.

Di dalam kelas, berbagai hiasan yang terbuat dari barang-barang bekas seperti botol plastik, tempurung kelapa, sabut kelapa dan batu-batuan yang sudah disulap menjadi barang hiasan di kelas. Tampak juga di sudut ruangan patung Bunda Maria beserta beberapa lilin yang terletak di atas meja.

“Mayoritas di sekolah kami beragama Katolik. Sebelum pelajaran dimulai dan saat pelajaran akan berakhir, murid-murid biasanya berdoa di Sudut Rohani,” cerita Elisabeth menjelaskan fungsi Sudut Rohani di bagian sudut belakang ruang kelas.

Tak hanya di kelas 1 saja, metode Pendidikan dengan Spirit Kulababong telah diterapkan mulai kelas 1 hingga kelas 6 SD. Sebagai guru yang cukup lama mengajar di SDK Napungliti, Elisabeth mengaku melihat banyak perubahan positif lainnya yang terjadi pada murid-murid.

“Sekarang anak-anak kelas 1 SD saja sudah lancar membaca, mereka juga jadi berani untuk tampil di depan kelas. Dulu, murid-murid saya tidak pernah seperti ini,” ceritanya, “Kami para guru juga jadi lebih kreatif untuk membuat modul pembelajaran di kelas, meski lama tapi kami terlatih untuk jadi kreatif.”

Melihat murid-muridnya memiliki peningkatan karakter dan kemampuan, Elisabeth menjadi semakin bersemangat mengabdi di sekolahnya.

“Terima kasih WVI sudah mendampingi kami,” pungkasnya.

 

Ditulis oleh Rena Tanjung, Field Communications Officer, Wahana Visi Indonesia