DARI LAPANGAN

Pertanian Organik, Cara Pintar Hadapi Pemanasan Global

14 Jun, 2017

Aseni menunjukkan bawang merah organik yang dipanen dari kebunnya.

Pemanasan global adalah naiknya suhu bumi yang disebabkan oleh peningkatan keluaran (emisi) gas rumah kaca seperti di atmosfer. Kenaikan suhu dan perubahan pola curah hujan dapat berdampak signifikan terhadap penurunan hasil pertanian akibat musim tanam dan musim panen yang gagal.

Wahana Visi Indonesia (WVI) yang didukung oleh Australian Aid mengembangkan ketahanan pangan masyarakat Kota Palu dan Kabupaten Sigi lewat proyek Maroso.  Kota Palu dan Kabupaten Sigi sebagai wilayah yang dilewati garis khatulistiwa memiliki kerentanan yang tinggi terhadap pemanasan global.

Salah satu intervensi yang dilakukan lewat proyek Maroso ini adalah melalui pertanian organik. Pertanian organik dipercaya mampu memperkecil penggunaan bahan bakar fosil dan menyerap karbondioksida dan udara penyimpanannya sebagai karbon di dalam tanah. Salah satu desa yang telah menerapkan pertanian organik adalah Desa Dombu di Kabupaten Sigi.

“Sekarang saya bisa memanen sayur setiap hari. Dulu saya dan tetangga masih sering menunggu mas-mas (tukang sayur) cuma untuk beli sayur dan harganya lumayan  mahal. Sekarang kalau butuh sayur, saya tinggal naik ke kebun dan petik saja,” cerita Aseni (41) adalah seorang ibu rumah tangga yang mendapatkan pendampingan pertanian organik lewat proyek Maroso.

Aseni telah mengelola kebun sayur organik selama tiga tahun sejak 2014 bersama dengan suami  dan rekan-rekan kelompok taninya. Mereka bahkan telah mendapat sertifikat petani organik dari sebuah lembaga sertifikasi.

Ternyata, kebun seluas satu hektar yang dimiliki Aseni tak hanya mampu memenuhi kebutuhan pangan harian tapi juga bisa dijual untuk memenuhi kebutuhan sekolah anak-anaknya.

“Lewat pendampingan pertanian organik dari WVI, saya bisa jual sayur seperti selada dan bawang. Untuk selada saya jual Rp. 7.000 per ons. Hasilnya saya tabung dan dipakai untuk biaya sekolah anak,” ujarnya.

Dengan pertanian organik, para petani terutama di wilayah Palu dan Sigi diharapkan memiliki ketahanan pangan yang baik dalam menghadapi pemanasan global.

 

Ditulis oleh Rena Tanjung, Field Communications Officer, Wahana Visi Indonesia