DARI LAPANGAN

Saatnya Kekerasan Terhadap Anak Dihapuskan

28 Jul, 2017

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembise, menandatangani komitmen Indonesia Tanpa Kekerasan 2030 dalam acara peluncuran PKTA di Ruang Auditorium RRI, Rabu, 26 Juli 2017.

Kampanye Penghapusan Kekerasan Terhadap Anak (PKTA) secara resmi diluncurkan pada tanggal 26 Juli 2017 di Ruang Auditorium Radio Republik Indonesia (RRI) Jakarta Pusat. Acara ini diselenggarakan oleh Aliansi PKTA yang terdiri dari 21 organisasi untuk anak dan masyarakat sipil yang berjuang untuk menghapuskan kekerasan terhadap anak di Indonesia yakni Aliansi Remaja Indonesia, ChildFund Indonesia, Ecpat Indonesia, Handicap International Indonesia, Institute for Criminal Justice Reform, ICT Watch, MPS PP Muhammadiyah, PKBI, Plan International Indonesia, Puskapa UI, Rifka Annisa, Rutgers WPF Indonesia, SAMIN, Sejiwa, Setara, Smeru, SOS, Yayasan Sayangi Tunas Cilik, TDH, Youth Network on Violence Against Children, dan Wahana Visi Indonesia.

Acara peluncuruan kampanye PKTA dihadiri oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembise, dan Dien Emawati, Kepala Dinas Pemberdayaan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk Provinsi DKI Jakarta. Tak hanya meresmikan, Ibu Yohana dan Ibu Dien menerima 10 rekomendasi suara anak dari para wakil anak.

Menanggapi maraknya aksi kekerasan terhadap anak yang terjadi, Menteri Yohana mendukung setiap upaya yang dilakukan oleh Aliansi PKTA untuk mengurangi jumlah kasus kekerasan terhadap anak di Indonesia. Menurutnya tugas dan tanggung jawab ini bukan hanya urusan pemerintah saja namun juga masyarakat bahkan keluarga.

“Tidak boleh ada lagi kekerasan terhadap anak kita. Harus kita putuskan mata rantai ini. Bullying terjadi dimana-mana dan pemicunya adalah kekerasan di dalam rumah tangga. Kekerasan di dalam rumah tangga masih tinggi dari Sabang sampai Merauke. Suami isteri saling berkelahi. Bagaimana anak tidak akan meniru. Kekerasaan di sekolah masih ada. Guru memukul anak. Mereka (Guru) mereka bilang anak harus dipukul baru menjadi anak baik. Saya bilang, tugas bapak ibu guru adalah memberikan informasi dan pengetahuan kepada anak. Tidak boleh dengan cara memukul. Itu yang terjadi di sekolah. Mereka meniru lingkungan keluarga dan sekolah,” ujarnya seperti dikutip oleh RRI, Rabu, 26 Juli 2017.

Dengan diluncurkannya kampanye PKTA yang akan berlangsung selama lima tahun nanti, Wahana Visi Indonesia bersama mitra yang tergabung dalam Aliansi PKTA bisa membantu pemerintah dalam mengurangi bahkan menghapus jumlah kekerasan anak di Indonesia.

 

Ditulis oleh Rena Tanjung, Field Communications Officer, Wahana Visi Indonesia