DARI LAPANGAN

Sayur Berubah Jadi Ikan

16 Jun, 2017

Veronika (paling kiri) di kebun gizi di pekarangan rumahnya. Kini ia tidak perlu lagi membeli sayur di tukang sayur karena ia dapat memetiknya langsung.

Kebun gizi merupakan pemanfaatan lahan pekarangan untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga khususnya anak balita dan ibu hamil. Di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur kebun gizi telah dikembangkan semenjak akhir tahun 2015 di dua desa yakni Desa Were III dan Uluwae II. Pada tahun 2017, kebun gizi yang didampingi oleh Wahana Visi Indonesia (WVI) kantor operasional Ngada telah berkembang ke 3 desa lainnya, diantaranya Desa Uluwae, Uluwae I, dan Were II.

Salah satu warga yang telah mengembangkan kebun gizi adalah Veronika dari Desa Were III. Ia menggali bedeng, mempelajari cara membuat pupuk bokasi (pupuk organik) dan menanam sayuran sumber gizi di pekarangannya. Di pekarangannya, kita dapat menemukan bedeng yang hijau ditanami dengan sawi, Pak Choy (sayuran sejenis sawi), kangkung dan kacang panjang. Mama Veronika tertarik untuk ikut mengembangkan kebun gizi setelah mendapatkan informasi dari Mama Esi yang merupakan peserta kebun gizi sekaligus ketua kader Posyandu dari Dusun Zaa, Desa Were III yang didampingi oleh WVI.

“Mama Esi memberikan motivasi kepada saya. Dia bilang bahwa sebagai anggota Posyandu, kita harus ada kebun gizi karena sayur itu berguna untuk anak-anak,” ceritanya.

Mama Veronika memiliki dua orang anak yang bernama Aurel (5) dan Kristi (3). Kedua anak tersebut mendapat manfaat dari kebun gizi yang telah mulai ia kembangkan.

“Saya senang karena semenjak ada kebun gizi saya sudah berkurang membeli sayur di pasar. Uang malah bertambah karena ada orang membeli sayur dari pekarangan, langsung saya beli ikan,” katanya dengan tersenyum. Ia juga menuturkan bahwa Aurel suka makan sayur dan kebun gizi membantunya untuk dapat menyediakan sayur bagi anak-anaknya.

“Saya mau terus mengembangkan kebun gizi,” kata Mama Veronika ketika ditanya tentang harapannya dari kebun gizi. Hingga saat ini, sebagai hasil dari sharing Mama Esi dan para kader Posyandu di Dusun Zaa, terdapat 6 orang yang telah mulai mengembangkan kebun gizinya. Semoga dampak dari kebun gizi dapat dirasakan oleh lebih banyak anak, khususnya para balita.

 

Ditulis oleh Monica Agnes Sylvia, Monitoring, Evaluation and Learning Coordinator, Wahana Visi Indonesia kantor operasional Ngada