DARI LAPANGAN

Selamat Tinggal Pengeluaran Membeli Sayur!

07 Sep, 2017

Selamat tinggal pengeluaran membeli sayur! Mama Ludis mengatakan, ia tidak perlu ke pasar lagi untuk memenuhi kebutuhan sayur-mayur karena cukup memetiknya dari kebun gizi.

Sekarang pekarangan di rumah kami tidak lagi kosong, sudah dimanfaatkan untuk kebun gizi,” kata Mama Ludis.

Menyejukkan mata adalah kalimat yang tepat untuk menggambarkan pekarangan rumah Mama Lutgardis (45 tahun) atau yang biasa dipanggil Mama Ludis. Di sini tumbuh berbagai macam tanaman sayur dan buah seperti bayam, kangkung, sawi, singkong, kacang panjang, terung, wortel, tomat, labuh kuning, cabai dan papaya. Dari pekarangan inilah wanita yang biasa dipanggil Mama Ludis ini memenuhi kebutuhan gizi keluarganya.

Mama Ludis adalah petani sekaligus kader Posyandu yang tinggal di Desa Uluwae, Kecamatan Bajawa Utara, Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur.  Pada bulan Desember 2016, ia mengikuti pelatihan yang diadakan oleh Wahana Visi Indonesia (WVI) Kantor Operasional Ngada. Dalam pelatihan ini dijelaskan pemanfaatan lahan pekarangan untuk pemenuhan gizi rumah tangga dengan teknik gali dua kali. Teknik yang biasa dilakukan oleh petani adalah dengan pencangkulan dan membolak-balik tanah. Berbeda dengan teknik gali dua kali, yaitu mengisi tanah dengan berbagai macam bahan yang tujuannya agar tanah menjadi lebih subur dan tidak boros air. Bahan yang diisi ke dalam tanah adalah batang pisang, abu dapur, sekam padi, daun gamal dan pupuk bokasi. Sebagai tindak lanjut dari pelatihan, Mama Ludis membuat kebun gizi dengan memanfaatkan lahan di samping rumahnya.

Dalam kurun waktu dua bulan, kebun gizi ini sudah menghasilkan. Kebutuhan makan sehari-hari dengan asupan bergizi bagi keluarga terpenuhi melalui kebun gizi ini. “Bahkan kadang kami kelebihan produksi sehingga dapat dijual,” ungkap Mama Ludis. Ia melanjutkan, pendapatan dari hasil kebun gizi ini berkisar Rp 400.000, “Uang ini saya gunakan untuk membeli lauk pauk, membiayai anak sulung yang sedang kuliah di Malang, sampai membayar listrik.”

Mama Ludis tidak mau ilmu yang telah didapatnya hanya untuk dirinya sendiri. “Saya memberi pelatihan untuk kader lain, ibu-ibu di Posyandu dan juga tetangga saya. Awalnya mereka ragu, tapi setelah melihat hasil kebun gizi saya, mereka menyesal karena tidak melakukan dari dulu.” Ia berharap semua warga Desa Uluwae memiliki kebun gizi agar dapat memenuhi kebutuhan konsumsi keluarga. Dan, bagi para ibu bayi balita ia berharap mereka juga memiliki kebun gizi untuk meningkatkan status gizi anak mereka.

 

Ditulis oleh Dimas Realino, Fasilitator Lapangan, Wahana Visi Indonesia Kantor Operasional Nagekeo