14 September 2026
Samuel Wangsa
Share now

The Maple Media, Jakarta - Di balik tawa dan keceriaan anak, ada dunia batin yang sering kali luput dari perhatian orang dewasa. Tekanan akademik, perubahan sosial, hingga paparan dunia digital membuat semakin banyak anak menghadapi tantangan emosional yang tidak selalu tampak. Mereka mungkin tetap bersekolah, bermain, tetapi tidak berarti mereka baik-baik saja.
Kesehatan mental anak bukan sekadar terbebas dari gangguan psikologis, melainkan kemampuan anak mengenali dan mengelola emosi, membangun hubungan yang sehat, serta menghadapi tantangan hidup dengan percaya diri. Semua itu hanya dapat tumbuh ketika anak memiliki ruang aman untuk bercerita, didengar tanpa dihakimi, dan didampingi secara konsisten oleh keluarga maupun lingkungan sekitarnya.
Data terbaru dari Cek Kesehatan Gratis (CKG) Kemenkes tahun 2025 menunjukkan anak Indonesia sedang menghadapi tantangan serius dalam aspek kesehatan mental. Kasus bunuh diri pada anak yang viral di beberapa wilayah Indonesia hanyalah puncak gunung es. Berdasarkan data CKG 2025, jumlah anak yang mengalami gangguan emosional dan perilaku meningkat signifikan, bahkan lima kali lebih besar dibandingkan kelompok dewasa dan lansia. Selain itu, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat 116 kasus bunuh diri sepanjang 2023–2026, tertinggi di Asia Tenggara.
Fenomena ini dapat dipahami melalui teori efikasi diri Albert Bandura (1977). Efikasi diri adalah kepercayaan anak terhadap kemampuannya menghadapi tantangan. Anak dengan efikasi diri yang tinggi cenderung lebih tangguh, mampu mengelola stress, dan percaya diri dalam mengambil keputusan. Efikasi diri dibentuk melalui pengalaman keberhasilan, dukungan yang konsisten, teladan orang dewasa, serta kemampuan mengelola emosi. Sebaliknya, anak yang sering dikritik, jarang diberi kesempatan mencoba, atau minim dukungan emosional cenderung memiliki efikasi diri rendah sehingga lebih rentan mengalami kecemasan, depresi, dan kesulitan menghadapi tantangan sosial maupun akademik.
Dalam kerangka teori ini, pola asuh yang kurang tepat menjadi salah satu penyebab krisis kesehatan mental anak. Orang tua yang terlalu protektif membuat anak lebih rentan mengalami kegagalan emosional karena menganggap kegagalan sebagai bentuk hukuman, bukan bagian dari proses belajar. Begitu pula ketika anak terus dituntut berfokus pada hasil tanpa menghargai proses. Harga diri mereka menjadi sangat bergantung pada prestasi, sehingga kegagalan mudah memicu keruntuhan efikasi diri dan rasa tidak berdaya.
Selain pola asuh, lingkungan juga berperan besar. Ketika anak tidak dapat mengkomunikasikan emosi negatif kepada orang tua atau lingkungan terdekat, mereka cenderung mencari validasi dari informasi di sekitarnya, termasuk media digital. Kondisi ini membuat anak lebih mudah menjadikan penilaian orang lain sebagai tolak ukur dirinya dan kehilangan kedekatan emosional yang utuh. Kerentanan tersebut semakin besar ketika anak mengalami perundungan, baik dalam bentuk kekerasan fisik, verbal, maupun diskriminasi karena kondisi ekonomi atau keterbatasan perlengkapan belajar.
Dalam situasi ini, peran orang tua menjadi sangat penting. Membangun komunikasi yang terbuka dan empatik, menyediakan ruang bercerita tanpa menghakimi, serta menghindari tuntutan berlebihan terhadap prestasi merupakan langkah mendasar. Rutinitas sederhana seperti makan atau melakukan hobi bersama dapat menumbuhkan rasa aman. Orang tua juga perlu menghargai proses, bukan hanya hasil, memberikan pujian yang spesifik, mendorong anak mengambil keputusan sesuai usianya, mengajarkan cara mengelola stres, dan memberi kesempatan mencoba hal-hal baru agar mereka belajar dari keberhasilan maupun kegagalan. Anak perlu tahu bahwa rumah adalah tempat mereka bisa menjadi diri sendiri tanpa takut dihakimi.
Dalam konteks digital, orang tua dapat menerapkan aturan screen break dan memanfaatkan waktu tanpa gawai untuk membangun komunikasi yang lebih aktif. Di momen inilah orang tua perlu menjadi mentor, bukan sekadar polisi internet, dengan mendiskusikan apa yang anak lihat di media sosial beserta dampaknya agar mereka mampu menyaring informasi negatif.
Bagi pemerintah, pelaksanaan program anti-perundungan yang jelas dan terukur tidak bisa ditawar. Langkah ini dapat dimulai melalui layanan konseling dan pelaporan di sekolah yang ramah anak, pelatihan guru dalam literasi kesehatan mental dan deteksi dini perubahan perilaku, serta memastikan beban akademik sesuai tahap perkembangan anak.
Di saat yang sama, pemerintah dan lembaga sosial perlu memperluas akses layanan dukungan psikososial seperti UPSRADA dan konselor sekolah, sekaligus menggencarkan kampanye untuk mengurangi stigma terhadap layanan kesehatan mental.
Komunitas RT/RW, lembaga keagamaan, karang taruna, dan pusat kegiatan anak juga dapat memperkuat dukungan sosial melalui ruang bermain yang aman, kelompok kreatif, dan berbagai kegiatan komunitas yang memberi ruang bagi anak untuk berekspresi, membangun relasi, dan merasa diterima.
Kesehatan mental anak merupakan fondasi yang penting bagi masa depan bangsa. Tantangannya memang besar, tetapi setiap pihak memiliki peran untuk menciptakan lingkungan yang mendukung penguatan efikasi diri dan menyediakan akses layanan yang memadai. Ketangguhan mental tidak tumbuh dengan sendirinya. Ia dibentuk melalui kepedulian, pendampingan, dan konsistensi dari orang tua, sekolah, serta masyarakat. Setiap langkah kecil yang dilakukan hari ini akan menjadi pondasi kokoh bagi generasi mendatang.