Saat Anak Tak Punya Ruang Aman, Tragedi Bunuh Diri Siswa dan Tekanan

18 Juni 2026

Samuel Wangsa

Share now

cover image

Kompas.com, Jakarta – Peristiwa tragis anak YBR (10) di Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), yang memilih mengakhiri hidup menjadi peringatan keras bahwa persoalan bunuh diri anak tidak bisa dibaca semata sebagai masalah keluarga atau individu.

Kasus ini mengungkap persoalan yang jauh lebih luas, yaitu rapuhnya sistem pendidikan, pengasuhan, dan perlindungan anak yang saling bertaut dalam kehidupan sosial masyarakat.

YBR hidup dalam kondisi kemiskinan ekstrem. Sejak usianya belum genap dua tahun, ia dititipkan untuk diasuh oleh neneknya.

Sang ibu yang bekerja sebagai petani tinggal bersama empat saudara YBR di desa lain, sementara ayah kandungnya merantau ke Kalimantan sejak YBR masih dalam kandungan.

Kondisi ini membuat YBR tumbuh tanpa pendampingan langsung orangtua kandung dalam keseharian.

Psikolog keluarga dan anak, Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid, menilai situasi pengasuhan tersebut berpotensi menimbulkan rasa kesepian dan dorongan untuk tidak menjadi beban bagi orangtua, terlebih dalam kondisi ekonomi yang sangat terbatas.

"Itu jadi ada beban psikologisnya. Dengan kondisi kemiskinan, apa yang dia harapkan atau inginkan lebih sulit dicapai, misalnya soal bekal sekolah tentu sangat berbeda," ujar Alissa, dikutip dari situs PBNU.

Fakta bahwa kebutuhan dasar pendidikan, seperti alat tulis, menjadi sesuatu yang sulit dijangkau menunjukkan bahwa akses pendidikan anak di NTT tidak hanya bergantung pada keberadaan sekolah, tetapi juga pada kondisi ekonomi keluarga, dukungan sosial, serta lingkungan pengasuhan yang aman secara emosional.

Pola Asuh dan Tekanan Sosial Satrio Dwi Rahargo, Child Protection and Participation Manager Wahana Visi Indonesia (WVI), menjelaskan bahwa pola pengasuhan di Kabupaten Ngada tidak dapat dilepaskan dari konteks budaya dan struktur sosial masyarakat setempat.

WVI sendiri melakukan pendampingan perlindungan anak di salah satu kabupaten di Pulau Flores, lokasi Kabupaten Ngada berada. "Pola asuh dengan kekerasan (fisik maupun emosional) masih cukup sering terjadi. Pola asuh otoriter dan kuat dengan pengaruh budaya dan adat menjadi hal yang dominan," ungkap Satrio kepada Kompas.com, Senin (9/2/2026).

Satrio menekankan bahwa meskipun anak-anak diberi ruang untuk berpendapat, perbedaan pandangan kerap dimaknai sebagai bentuk ketidakpatuhan. "Sehingga mendorong tindakan kekerasan sebagai konsekuensi atas ketidaktaatannya," tutur Satrio.

Dalam berbagai pendampingan, WVI menemukan bahwa anak-anak di Ngada banyak mengeluhkan pola asuh yang menutup ruang dialog. Mereka merindukan hubungan yang lebih dekat dengan orangtua, terutama komunikasi yang aman dan setara.

"Pola komunikasi yang terbuka dan seimbang (didengar dan dihargai pendapatnya) menjadi bagian yang sangat esensi bagi anak – anak di Ngada maupun di NTT secara umum," tutur Satrio.

Pengasuhan Kolektif dan Dampak Kemiskinan Dalam konteks budaya lokal, pengasuhan anak merupakan tanggung jawab keluarga besar, sejalan dengan nilai gotong royong yang kuat di masyarakat. Namun, praktik ini juga dipengaruhi oleh kemiskinan struktural dan keterbatasan lapangan kerja di desa.

"Namun faktor lain juga karena didorong oleh faktor kemiskinan dan kurangnya sumber pendapatan di desanya, sehingga banyak orangtua yang kemudian bermigrasi keluar wilayah desanya (terkadang sampai keluar negeri) dan meninggalkan anaknya untuk diasuh oleh keluarga besarnya," ucap Satrio. Di sisi lain, pemahaman tentang pengasuhan positif masih terbatas.

Banyak orangtua menilai pengasuhan yang baik cukup diukur dari terpenuhinya kebutuhan jasmani. "Kedekatan maupun komunikasi yang positif sering terlupakan karena kehidupan anak dipenuhi oleh kewajiban secara sosial maupun tanggung jawab sebagai anak di rumah, seperti membantu kehidupan ekonomi keluarga," jelasnya.

Menjaga Nama Baik dan Beban Psikologis Anak Masyarakat Ngada menganut prinsip matrilineal yang menempatkan ibu atau perempuan sebagai figur sentral dalam keluarga. Nilai adat ini membentuk karakter anak agar patuh, bertanggung jawab, dan menjaga martabat keluarga.

"Pengaruh budaya atau adat yang kuat juga membuat pengasuhan didasari oleh dorongan agar anak selalu menjaga nama baik keluarga dalam perilaku," ujar Satrio. Nilai tersebut, meski membentuk disiplin dan solidaritas, juga berpotensi menjadi tekanan psikologis ketika anak menghadapi kesulitan.

"Anak akan cenderung menutupi dan sangat sensitif dengan apa yang menjadi perspektif dari orang lain terhadap keluarganya," terang Satrio. Akibatnya, anak sering memilih memendam persoalan, takut dianggap lemah atau tidak bersyukur. Dalam kondisi seperti ini, sekolah, keluarga, dan lingkungan sosial seharusnya menjadi ruang aman untuk mendeteksi tanda-tanda kerentanan mental anak.

Kasus YBR menegaskan bahwa pencegahan bunuh diri anak di NTT tidak bisa hanya difokuskan pada sekolah atau keluarga semata. Diperlukan perbaikan sistemik yang mencakup pengentasan kemiskinan, penguatan pengasuhan positif berbasis budaya lokal, serta sistem pendidikan yang mampu membaca dan merespons kesehatan mental anak secara lebih dini dan menyeluruh.

Saat Anak Tak Punya Ruang Aman, Tragedi Bunuh Diri Siswa dan Tekanan