23 Juni 2026
Samuel Wangsa
Share now

Dina duduk diam di rumah tetangganya yang kosong, seratus hari setelah bencana merenggut rasa amannya. Hingga kini, setiap kali hujan datang, ia masih terbangun dan pergi menjauh.
Nationalgeographic.co.id, Sumatra — Dina tidak lagi bisa tidur nyenyak sejak November. Setiap kali hujan turun, ia bangkit dari tempat tidur, mengenakan sandal, dan bergegas keluar dari rumahnya yang sudah setengah kosong. Ia menjauh, menunggu hingga langit kembali bisa "dipercaya". Perempuan warga Sibolga itu tidak sendirian saat menyaksikan longsor menghantam bangunan tepat di depan matanya.
Seratus hari setelah banjir bandang menerjang Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat pada akhir November 2025, rasa takut itu belum hilang dari matanya. Bencana memang sudah berlalu, tapi bagi ribuan orang yang tersebar dari pesisir Tamiang hingga lembah Tapanuli, seratus hari bukanlah waktu yang cukup untuk pulih.
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 25 Desember 2025 mencatat setidaknya 659 orang meninggal dunia dan 475 lainnya dinyatakan hilang. Angka tersebut menjadikan banjir Sumatra 2025 sebagai salah satu bencana hidrometeorologi paling mematikan di wilayah ini dalam beberapa dekade terakhir.

Di Sibolga, Anastasia duduk di depan gundukan sampah yang terbawa banjir bandang dari TPA di bukit atasnya. Longsor itu tidak hanya menghancurkan rumah, tapi juga sumber kehidupan warga di sekitarnya.Donny Fernando/National Geographic Indonesia
Sementara itu di desa lain, Anastasia duduk di depan gundukan sampah yang bukan miliknya. Tumpukan itu berasal dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di atas bukit yang terbawa air deras selama sepekan hujan tanpa henti, hingga meratakan lima rumah sekaligus. Air yang menggenang pun membawa masalah baru: nyamuk berkembang biak dengan cepat. Warga mulai jatuh sakit.
"Kami terganggu karena bau sampahnya dan kondisi airnya. Ditambah lagi, gara-gara bau sampah dan genangan itu, warga kena malaria," kata Anastasia.
Ia sudah melaporkan kondisi tersebut kepada pemerintah kota. Petugas sudah datang menyurvei dan menjanjikan relokasi sementara. Namun, gundukan sampah itu tetap bergeming. Anastasia pun masih bertanya-tanya: siapa yang selama ini membiarkan bukit sampah tumbuh setinggi itu di lokasi yang begitu dekat dengan permukiman?
Di salah satu desa di Tapanuli Selatan, Adamal selaku kepala desa setempat masih ingat betul minggu-minggu pertama setelah banjir. Pipa air bersih hancur tersapu arus dan mata air di hulu rusak. Warganya (sekitar 500 jiwa yang tersebar di tiga dusun) hanya bisa menunggu kiriman air dari relawan.
"Kami hanya menunggu belas kasihan masyarakat. Relawan yang memberikan air minum. Kadang kami pernah merasakan makan siang, tidak ada minum karena kehabisan air," tutur Adamal.
Sebulan kemudian, sebuah lembaga bantuan datang membantu memperbaiki pipa yang hanyut. Kini air sudah kembali mengalir. Meski belum berlimpah, menurut Adamal, jumlahnya sudah memadai untuk kebutuhan memasak dan minum secara bergantian, sebuah kemewahan kecil yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan harus disyukuri sedalam ini.
Lukman juga masih mengingat warna langit pada 25 November 2025: gelap, nyaris tanpa matahari. Hujan turun silih berganti. Lalu pada malam 26 November, angin kencang menerjang diikuti longsor di beberapa titik. Pohon-pohon bertumbangan menutup jalan lintas.
"Puncaknya pada malam Jumat tanggal 27 itu. Wilayah saya yang biasanya tidak pernah banjir, kali ini tenggelam. Baru kali ini air benar-benar total," ujar pria yang menjabat sebagai Datok Rantau Pauh, Aceh Tamiang, tersebut.
Dari 12 kecamatan di Aceh Tamiang, hanya enam desa yang tidak terdampak. Sisanya, 210 desa, terendam. Ini adalah banjir terbesar yang pernah Lukman saksikan sepanjang hidupnya, melampaui banjir besar tahun 2006 yang selama ini ia jadikan tolok ukur terburuk.
Angelina Theodora, National Director Wahana Visi Indonesia yang turun langsung ke lapangan, menjelaskan mengapa bencana ini terasa begitu dahsyat: titik-titik terparah justru berada di wilayah yang biasanya aman dari banjir.
"Ini bisa dibilang bencana yang tidak terduga karena wilayah-wilayah terdampak sebelumnya belum pernah mengalami banjir. Masyarakat tidak siap dan tidak siaga karena menganggap wilayah mereka bukan zona rawan," jelas Angel.
Para ilmuwan dari BRIN memiliki penjelasan atas anomali tersebut. Peneliti Pusat Riset Iklim dan Cuaca Ekstrem BRIN, Erma Yulihastin, menyebut bahwa badai tropis yang seharusnya menjauh dari daratan Indonesia kini cenderung mendekat dan lebih sering menghantam. Banjir Sumatra kali ini dipicu oleh Siklon Tropis Senyar, sebuah fenomena yang dianggap janggal karena siklon tropis lazimnya melintas jauh dari garis ekuator.

Kerusakan akibat banjir bandang dan longsor di Aceh Tamiang terlihat meluas dari udara, seratus hari setelah bencana melanda. Bentang alam yang berubah menjadi penanda bahwa pemulihan masih jauh dari selesai.Donny Fernando/National Geographic Indonesia
Siklon Senyar memicu curah hujan ekstrem hingga lebih dari 150 milimeter per hari di Aceh Utara, Langkat, serta Tapanuli Tengah dan Selatan. Intensitas tersebut menurut para peneliti sudah cukup untuk melumpuhkan ekosistem, bahkan dalam kondisi lingkungan yang normal sekalipun.
Ketika air surut di Aceh Tamiang, yang tersisa bukan sekadar lumpur. Di sebuah pesantren yang dihantam banjir bandang, kayu-kayu besar berdiameter luar biasa tampak menggunung, terbawa arus dari hutan di hulu.
"Saya terkejut melihat banyak kayu berdiameter besar. Punya siapa itu? Saya lihat ada nomor-nomor di kayunya. Jelas ada aktivitas penebangan di atas sana," kata Lukman.
Kayu-kayu itu sudah diangkut sebelum kunjungan Presiden dan para menteri. Kini kayu-kayu itu lenyap, namun pertanyaannya tetap tinggal: seberapa parah sebenarnya kerusakan hutan di hulu Tamiang?
Di Tapanuli Selatan, Adamal punya jawabannya sendiri. Dulu, gunung-gunung di sekitar desanya ditumbuhi pohon besar penyerap air. Sekarang, vegetasi itu telah berganti menjadi perkebunan sawit.
"Sekarang sudah jadi sawit semua. Otomatis daya simpan air di gunung makin mengecil. Debit air berkurang bukan karena faktor lain, tapi karena gunungnya sudah ditanami sawit," ungkap Adamal.
Ia tidak menyalahkan warganya yang memilih menanam sawit. "Masyarakat juga butuh ekonomi," katanya dengan nada lelah. Namun konsekuensinya nyata: saat hujan deras, tidak ada lagi akar pohon besar yang menahan laju air. Air langsung terjun ke bawah membawa lumpur dan petaka.
Seratus hari setelah bencana, ada luka yang tidak kasatmata di balik reruntuhan. Lisa Hernawati, Response Manager Wahana Visi Indonesia yang bertugas di Sumatra Utara, menyoroti kondisi psikologis anak-anak.
"Banyak yang kehilangan rumah, orang tua kehilangan pekerjaan, dan anak-anak kehilangan ruang bermain. Saat mengalami bencana, sering kali mereka tidak punya ruang untuk menceritakan apa yang mereka rasakan," kata Lisa.
Anak-anak sangat menyukai keteraturan, dan bencana menghancurkan hal itu secara total. Jika kondisi psikososial mereka diabaikan, dampaknya bisa panjang: trauma mendalam, rasa bersalah yang tidak beralasan, hingga anggapan bahwa bencana terjadi karena kesalahan mereka.

Pingkan bersama kucingnya, Bolo, bertahan di posko pengungsian Aceh Tamiang. Di tengah semua yang hilang, Bolo menjadi satu-satunya yang berhasil ia selamatkan.Donny Fernando/National Geographic Indonesia
Sayangnya, pemulihan psikososial kerap menjadi prioritas terakhir. Setelah urusan pangan dan papan selesai, barulah kondisi batin anak-anak di pengungsian mulai dipikirkan, itu pun jika masih ada sumber daya yang tersisa.
Seratus hari telah berlalu. Bagi Lukman, itu berarti sudah hampir empat bulan ia menjadi jembatan antara harapan warga dan birokrasi pemerintah yang bergerak dengan logikanya sendiri.
Ia menyinggung janji seorang menteri yang hingga kini belum terealisasi. "Janjinya sebelum puasa bantuan sudah ada. Sekarang sudah mau Lebaran, tapi belum muncul juga. Inilah yang menjadi beban mental bagi masyarakat," keluh Lukman.
Lukman tidak bermaksud menyalahkan pemerintah secara membabi buta karena ia paham ada prosedur verifikasi. Namun, menjelaskan alasan birokrasi kepada warga yang sudah empat bulan tidur di tenda bukanlah perkara mudah.
Angel melihat respons bencana ini secara keseluruhan sudah berada di jalur yang benar (on the right track). Kebutuhan dasar terpenuhi dan koordinasi berjalan. Namun, skala dampaknya memang melampaui kapasitas lokal.
"Sumber daya yang diperlukan untuk pulih sangat besar, mungkin melebihi kapasitas di level desa. Kita perlu kerja bareng," pungkas Angel.
Tepat di belakang tempatnya duduk saat wawancara, pemandangan pilu masih terlihat: reruntuhan yang belum dibersihkan dan lumpur mengeras yang sulit diangkat tanpa bantuan alat berat.

Warga mengambil air di titik pipanisasi darurat di Tapanuli Tengah yang menjadi tumpuan kehidupan pasca bencana. Di tempat yang hampir kehilangan segalanya, air bersih yang mengalir adalah harapan yang paling sederhana.Donny Fernando/National Geographic Indonesia
Ada satu hal yang sering terlupakan: air tidak pernah mengalir ke tempat yang salah. Ia hanya menuju jalur yang sudah ditakdirkan ribuan tahun lalu (lembah dan dataran rendah) jauh sebelum manusia membangun peradaban di sana. Yang berubah bukan watak air, melainkan apa yang kita bangun di atas jalurnya dan apa yang kita babat di sekitarnya.
Hutan hulu Sumatra tidak musnah dalam semalam. Ia menipis perlahan lewat konsesi, izin perkebunan, dan musim tanam. Kini, lereng-lereng itu terbuka. Air tidak punya pilihan selain meluncur deras ke bawah, menghancurkan apa pun yang menghadang.
Sebuah studi bertajuk "The role of climate and population change in global flood exposure and vulnerability" yang terbit di jurnal Nature (2025) memproyeksikan bahwa pada tahun 2100, jutaan orang akan terpapar bahaya banjir akibat perubahan iklim.
Namun bagi Adamal, angka statistik itu terasa jauh. Yang nyata di depan matanya adalah bukit gundul di belakang desa dan ancaman yang mengintai setiap kali awan mendung datang.
Bencana ini mungkin bukan datang dari luar, melainkan tumbuh dari dalam, dari kumpulan keputusan kecil yang masing-masing terasa masuk akal: perut yang harus diisi, ekonomi yang harus dipacu, dan kota yang terus meluas tanpa menghitung daya dukung alam yang menopangnya.