KERJA KAMI

PENDIDIKAN

Wahana Visi Indonesia percaya bahwa pendidikan adalah salah satu sarana utama untuk mengubah dunia. Itulah mengapa, akses anak terhadap pendidikan yang berkualitas menjadi salah satu prioritas WVI. WVI berfokus pada Pendidikan Dasar 9 tahun dengan 3 area besar: cakap membaca, cakap menulis, dan keterampilan hidup.

PENDIDIKAN

WVI UNTUK PENDIDIKAN

"Pendidikan bukan sekedar memberikan pengetahuan tetapi juga mengasah sikap moral serta menghasilkan karya bagi kepentingan umat manusia " - Ki Hajar Dewantara

WVI menjalankan program pendidikan dalam meningkatkan akses kepada pendidikan berkualitas. Fokus pendidikan ini adalah PAUD; keterampilan hidup dan pendidikan karakter kontekstual; dan pendidikan non-formal (6-11 tahun). Total ada 50.853 anak usia 6-11 tahun yang mendapat manfaat dari program pendidikan yang telah dijalankan pada 2017.

1. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)

Anak kecil perlu mendapat dukungan dalam proses pengembangan kemampuan fisik, mental, dan sosial supaya berkembang. Dalam memahami konsep PAUD,
penting untuk mengerti bagaimana seorang anak berkembang dan tahun-tahun awal kehidupan seorang anak. Melalui program ini, pada 2017 ada 794 anak di
bawah usia 6 tahun yang menghadiri PAUD dan 146 (dari 529) tutor PAUD telah mendapat pelatihan.

2. Pendidikan Karakter Kontekstual (6-11 tahun)

Tujuan pendidikan karakter kontekstual adalah untuk meningkatkan hasil belajar anak-anak melalui pengembangan perilaku dan sikap dari nilai kearifan lokal (pendidikan moral). Pembangunan pendidikan karakter kontekstual memotivasi para guru untuk berpartisipasi lebih banyak dan menjadi lebih interaktif dalam mengajar sehingga nilai-nilai kearifan lokal dapat disampaikan dengan baik kepada siswa serta bisa mengubah karakter mereka. Selama tahun 2017, 786 guru dari 264 sekolah dilatih dan 31 sekolah mereplikasi model pendidikan karakter kontekstual.

3. Pendidikan Non Formal (6-11 tahun)

Pendidikan non-formal adalah pendekatan yang dilakukan untuk mengembangkan keterampilan hidup anak (kemampuan psikososial untuk perilaku adaptif dan positif) melalui kegiatan bakat dan minat. Kegiatan ini dilakukan di luar jam sekolah dan diakomodasi oleh masyarakat. Pada 2017, WVI mendampingi 187 kelompok anak. Selain itu, WVI mendukung pemerintah desa terkait penerapan kebijakan pro-anak untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Pada tahun yang sama, ada 22 peraturan desa pro-anak yang telah dirumuskan.

4. Proyek Wahana Literasi

Wahana Literasi adalah program literasi yang dilakukan di 6 wilayah pelayanan WVI yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan membaca bagi siswa-siswi di kelas awal melalui intervensi di sekolah, setelah jam sekolah dan di rumah. Pendekatan peningkatan kemampuan baca ini fokus meningkatkan lima kemampuan dasar siswa termasuk pengenalan membaca, pengenalan huruf, pengucapan kata, membaca dengan lancer, kos kata dan pemahaman membaca. Komponen inti dari model ini adalah:

  • Penilaian Membaca
    Baseline dan endline untuk penilaian membaca menentukan level membaca anak, mengevaluasi kebutuhan belajar mereka dan membantu sekolah serta kementerian pendidikan untuk mengukur kemajuan siswa.
  • Pelatihan Guru
    Para guru belajar untuk menggabungkan keterampilan membaca ke dalam kurikulum dan menerima bimbingan yang berkelanjutan. Para guru belajar untuk menciptakan lingkungan yang menarik di ruang kelas mereka dan memastikan bahwa anak-anak tetap termotivasi saat belajar membaca.
  • Aksi Komunitas
    Memobilisasi orang tua dan masyarakat untuk mendukung anak-anak ketika mereka belajar membaca melalui kamp-kamp membaca yang menyenangkan di luar sekolah.
  • Materi Mengajar & Belajar
    Pembuatan bahan bacaan lokal yang relevan dan bermutu yang berisi tentang cara anak-anak belajar membaca serta bagaimana guru dan orang tua dapat membantu dan menciptakan budaya membaca: di sekolah, rumah, dan masyarakat.

5. Sekolah Aman
Program sekolah aman bertujuan untuk menciptakan sekolah aman yang sejalan dengan kebijakan Sekolah Ramah Anak sehingga anak-anak di sekolah aman dan bebas dari segala bentuk kejahatan. Program ini diimplementasikan lewat beberapa proyek seperti SIGAP di Jakarta yang berfokus pada pengurangan risiko bencana, Pendidikan dalam Kebencanaan di Sulawesi Tengah selama dua tahun lewat proyek CENTRE yang merespons bencana gempa bumi dan tsunami di Palu serta Pendidikan dalam Kebencanaan di Lombok yang merespons bencana gempa bumi. Pelaksanaannya dilakukan lewat pembentukan dan pemantauan Sekolah Belajar Sementara, distribusi paket perlengkapan sekolah, pengembangan kapasitas pada keterampilan psikososial, pendidikan darurat dan pengurangan risiko bencana.

-