BERITA & CERITA

Ada Hikmah di Balik Musibah

04 Sep 2019

Budiono (baju biru) dan anak istrinya berdiri di depan huntara tempat tinggal mereka hingga saat ini.

#SatuHatiUntukSulteng - Budiono (49) adalah seorang petani dengan keterbatasan fisik. Ia terlahir sebagai tunarungu dan tunawicara. Namun pria yang tinggal di Desa Lolu, Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah ini tak pernah menyerah dengan keadaan. Dengan kegigihan yang diajarkan oleh orangtuanya sejak kecil, bapak satu anak ini menggarap sawah dan ladang hingga berhasil panen. Namun sayang, semua yang telah ia kerjakan bertahun-tahun lenyap akibat gempa bumi bermagnitudo 7,4 yang terjadi pada 28 September 2018. Gempa ini memicu likuifaksi parah di desanya. Sawah, ladang, termasuk rumah Budiono hancur.

“Saat gempa, saya sedang berada di dalam rumah bersama anak saya, Fahri, yang baru berusia tiga tahun. Saya lalu lari menggendong anak saya ke tempat yang lebih aman bersama warga lainnya sedangkan istri saya sudah lari duluan,” cerita Budiono menggunakan bahasa isyarat.

Budiono dan keluarga kecilnya sempat tinggal di tenda selama beberapa minggu karena rumah mereka rusak total. Pria ini otomatis juga kehilangan mata pencahariannya sebagai petani. Terlatih untuk selalu berjuang, Budiono tak patah arang sebab ia percaya selalu ada hikmah di balik musibah.

 

Budiono memanen bawang merah perdana di ladangnya.

Beberapa bulan pascagempa, Budiono mengikuti program pemulihan ekonomi petani yang diadakan oleh Wahana Visi Indonesia (WVI) dengan pendanaan dari Taiwan ICDF (International Cooperative and Development Fund). Budiono mendapat pelatihan pengolahan ladang, bantuan bibit bawang, cabai, dan jagung serta sistem pengairan untuk ladang melalui kelompok taninya yaitu Kelompok Beringin 1. Dengan pendampingan dan berbagai bantuan ini, Budiono dan petani lainnya di Desa Lolu perlahan bisa kembali bekerja.

“Terima kasih WVI dan Taiwan ICDF untuk bantuannya. Saya senang sekali karena saya bisa kembali bertani dan menanam cabai, jagung, dan bawang merah,” lanjut Budiono yang akan memanen bawang merahnya dalam waktu dekat.

Sebagai seorang kepala keluarga, Budiono bermimpi bisa menabung seluruh hasil panennya nanti untuk membangun kembali rumahnya yang rusak. Maklum, setelah hampir satu tahun, Budiono dan anak istrinya masih tinggal di huntara semi-permanen berukuran kecil.

“Saya ingin bangun rumah saya kembali untuk anak istri saya, semoga bisa terlaksana,” pungkas Budiono.

Pendampingan pemulihan mata pencaharian petani di Desa Lolu menyasar tujuh kelompok tani yaitu Kelompok Kabelotapura, Kelompok Sintuvu, Kelompok Mutiara, Kelompok Beringin Jaya, Kelompok Beringin 1, Kelompok Beringin 2, dan Kelompok Beringin Kembar. Selain menyediakan pelatihan dan memberi bantuan bibit serta penyediaan sistem irigasi, para petani juga mendapat pelatihan manajemen kelompok tani yang masih berlangsung hingga awal tahun depan.

Program pendampingan pemulihan mata pencaharian petani ini merupakan satu bentuk komitmen WVI dalam membantu proses pemulihan sumber penghidupan masyarakat yang terdampak bencana gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah. Komitmen ini dilaksanakan melalui berbagai intervensi yang meliputi pemberian bantuan tunai multiguna, program padat karya, penyediaan sumber penghidupan alternatif dan pemulihan sumber penghidupan dalam sektor pertanian. Hingga bulan Agustus 2019, sebanyak 66.366 individu telah menerima manfaat di sektor ekonomi yang tersebar di wilayah Kota Palu, Kabupaten Sigi, dan Kabupaten Donggala.

 

Ditulis oleh: Rena Tanjung, Communications Officer, Wahana Visi Indonesia

Artikel Terkait

11 Nov 2019

Naik Kelas dari Petani

Naik Kelas dari Petani

Sarjan (40 tahun) merupakan salah satu petani jagung di Desa Bora, Kecamatan Biromaru,…

11 Oct 2019

Menerima Banyak Ilmu dengan Bermitra

Menerima Banyak Ilmu dengan Bermitra

Theresia Oktavini, biasa disapa Vini, adalah salah satu tenaga kesehatan di Pusksemas Pantoloan…

04 Oct 2019

WVI Lakukan Respons Tanggap Bencana Gempa di Maluku

WVI Lakukan Respons Tanggap Bencana Gempa di Maluku

#GempaAmbon - Gempa bermagnitudo 6,8 (dimuktahirkan menjadi M 6,5) yang terjadi di Ambon,…

Ikuti Kami

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • Youtube