BERITA & CERITA

Aku Mau Kelasku Bagus

09 May 2019

Kondisi SDN 25 Mimpin di Kabupaten Landak, Kalimantan Barat

Setiap anak berhak untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan memadai. Kualitas pendidikan selain ditentukan oleh jumlah tenaga pengajar dan kualitas pembelajaran, juga oleh kelayakan sarana dan prasarana sekolah. Kondisi minimnya sarana dan prasarana sekolah yang layak masih menjadi kendala di Kabupaten Landak, Kalimantan Barat untuk mempersiapkan peserta didik yang siap bersaing dengan daerah lain. Salah satunya terjadi di SDN 25 Mimpin.

SDN 25 Mimpin berdiri sejak tahun 1982. Sekolah tersebut terletak di Dusun Mimpin, Desa Kayu Ara. Dusun ini berjarak sekitar 4 km dari jalan utama desa dan berbatasan langsung dengan Dusun Tutu. 

SDN 25 Mimpin dahulu diakses oleh anak-anak dari kedua dusun. Namun karena konflik antar dusun, anak-anak Dusun Tutu lantas bersekolah di desa sebelah, yakni Desa Angan Tembawang. Sekolah ini adalah satu-satunya sekolah yang mudah dijangkau oleh anak-anak Dusun Mimpin. Meski dekat, sekolah di Angan Tembawang berjarak 2 kilometer, anak-anak harus melewati hutan dan sawah karena belum ada jalan penghubung.

SDN 25 Mimpin saat ini dimanfaatkan oleh 37 siswa. Hanya ada tiga ruang kelas untuk kelas 1-6, 1 gedung perpustakaan, 1 ruang UKS, dan 1 ruang guru. Guna menyiasati kekurangan ruangan ini, kepala sekolah berinisiatif untuk menggunakan ruang guru sebagai tambahan ruang kelas. Ruangan ini dipakai khusus untuk kelas 6 sehingga para murid bisa fokus untuk menghadapi ujian kelulusan. Sementara itu, siswa kelas 1 dan 2 digabung, begitu pula siswa kelas 3 dan 4.

“Dulu sekolah ini sudah hampir rubuh, sehingga setelah beberapa kali saya usulkan untuk direhab, maka Dinas Pendidikan dan Kebudayaan merenovasi gedung ini tahun 2016. Saat ini kondisi sekolah sudah tidak lagi layak untuk belajar karena plafon sudah banyak yang lepas, dindingnya sudah berlubang di sana sini, dan lantai kayunya pun sudah ada yang patah,” ungkap Kadiman, Kepala sekolah SDN 25 Mimpin.

Sekolah ini jauh dari pengawasan, karena selain jarak, medan perjalanan pun sulit terlebih saat hujan karena jalan nya masih berupa tanah merah.

“Saya sudah berkali-kali mengusulkan supaya sekolah ini dibenahi. Namun, tidak ada tanggapan dari pemerintah. Kami tidak bisa berharap besar pada anak-anak, yang penting mereka bisa menulis dan membaca, karena fasilitas dan jumlah guru tidak memadai,” tambah Kadiman.

Kondisi ini turut menjadi keprihatinan Wahana Visi Indonesia (WVI). Melalui aksi penggalangan dana yang melibatkan banyak pihak, lewat Kampanye Gift Catalogue, WVI akan memberikan bantuan 3 ruang kelas baru, 2 toilet, dan fasilitas belajar untuk 3 kelas baru. Bantuan ini disambut antusias oleh masyarakat Dusun Mimpin.

“Kami sangat bersyukur dusun kami terpilih untuk menerima bantuan ini. Memang sudah lama kami ingin sekolah ini diperbaiki tapi usaha kami belum berhasil,” jelas Kasdim, Kepala Dusun Mimpin.

Hal senada juga diungkapkan oleh Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Dasar Buyung, S.Pd.

“Kami merasa sangat terbantu dengan adanya rencana pembangunan ini. Di Kabupaten Landak ini ada 437 sekolah dasar, jumlah yang sangat banyak dan masih banyak di antaranya yang perlu dibenahi. Namun, proses mendapatkan bantuan dari jalur pemerintah memang cukup rumit, sehingga bantuan dari WVI ini patut disyukuri,” ujar Buyung.

Pembangunan kelas dan toilet baru ini sudah disepakati akan dilakukan dengan adanya partisipasi masyarakat melalui pembentukan Panitia Pembangunan yang beranggotakan masyarakat saat pertemuan awal. Dalam kesempatan tersebut, Anggoro, Area Program Manager WVI Area Program Landak mendorong masyarakat untuk aktif mengawasi pembangunan.

“Bapak Ibu, WVI tidak tidak tinggal di Mimpin, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan juga tidak tinggal di sini sehingga kualitas pembangunan kelas ini bukan ditentukan oleh kami, tapi oleh bapak ibu sekalian. Bangunan ini juga akan tercatat menjadi aset pemerintah dan aset desa ini,” tegas Anggoro.

Anak-anak sebagai penerima manfaat langsung dari rencana pembangunan ini juga menyampaikan rasa senang mereka. Salah satu murid yang duduk di bangku kelas 2 mengungkapkan kebahagiaannya.

“Kelas kami campur, suka ribut, payah dengarnya. Tempat duduknya juga jelek. Aku mau kelas ku bagus supaya kami ndak di luar terus. Terus ndak campur jadi ndak beribut,” ujar siswa tersebut.

Dengan rencana pembangunan sekolah yang ramah anak ini, WVI berharap bisa membantu mewujudkan cita-cita seluruh anak yang bersekolah di SDN 25 Mimpin, karena setiap anak berhak untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan memadai.

 

Ditulis oleh: Fenny Samosir, Technical Program Coordinator Area Program Landak Wahana Visi Indonesia

Artikel Terkait

22 May 2019

Saya Tidak Perlu Lagi Membeli Sayuran

Saya Tidak Perlu Lagi Membeli Sayuran

Sayuran menjadi salah satu komponen penting untuk memenuhi kebutuhan gizi anak, khususnya bagi…

02 May 2019

Ruang Kelas Baru Itu Akhirnya Datang Juga

Ruang Kelas Baru Itu Akhirnya Datang Juga

Terbatasnya keberadaan ruang kelas di beberapa sekolah di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat membuat…

29 Apr 2019

Mengabadikan Dahulu, Digunakan Kemudian

Mengabadikan Dahulu, Digunakan Kemudian

Ada yang istimewa di awal tahun 2019. Sebagian anak di Kabupaten Sambas terlihat…

Ikuti Kami

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • Youtube