BERITA & CERITA

Anak Sumba Timur Suarakan Kepentingan Anak di Ajang Internasional PBB

12 Jul 2019

Oslin saat berbicara di hadapan peserta konferensi HLPF yang diselenggarakan di New York

Roslinda (14), biasa dipanggil Oslin, merupakan siswi sekolah menengah pertama asal Desa Kombapari, Sumba Timur. Anak keempat dari lima bersaudara ini menjadi perwakilan anak Indonesia untuk berbicara di rangkaian kegiatan High Level Political Forum (HLPF) on Sustainable Development di New York, pada 9-18 Juli 2019.

Pertemuan ini merupakan agenda tahunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk melihat sejauh mana implementasi agenda tujuan pembangunan berkelanjutan (sustainable development goals/SDGs) telah dilaksanakan. Indonesia, merupakan satu dari 47 negara yang menghadiri forum tersebut dan menyampaikan laporan nasionalnya (voluntary national report/VNR) dalam mengimplementasi agenda tujuan pembangunan berkelanjutan.

Oslin secara khusus berbicara mengenai target pembangunan 16.2, khususnya tentang penghapusan kekerasan terhadap anak. Dirinya turut menceritakan pengalaman dan keterlibatannya dalam melakukan advokasi perlindungan anak di wilayahnya.

Meskipun berasal dari desa yang kecil dengan segala keterbatasan fasilitas dan akses, tidak membuat Oslin berdiam diri saat kekerasan anak kerap terjadi di desanya. Komitmen Oslin diwujudkan dengan terlibat aktif dalam menyelesaikan isu tersebut, yakni dengan terlibat di Forum Anak Kombapari dampingan Wahana Visi Indonesia sejak tahun 2016 dan menjadi ketua sejak tahun 2018.

Terpilihnya Oslin sebagai wakil anak Indonesia, bahkan sebagai satu-satunya perwakilan anak dari Asia Tenggara, dalam acara HLPF pun berdasarkan kontribusi kerja advokasi yang dilakukannya bersama teman-temannya melalui Forum Anak Kombapari.

“Saya bersemangat untuk memperjuangkan hak anak, terutama hak untuk perlindungan dan pendidikan. Saya membayangkan setiap anak di desa dan negara saya terlindungi dari segala bentuk kekerasan,” ujar Oslin.

Melalui upaya advokasi Forum Anak Kombapari perubahan kini terjadi. Kini pemerintah dan masyarakat Kombapari telah memiliki komitmen untuk menjadi Desa Layak Anak dan telah memastikan 100 persen anak di wilayah tersebut memiliki Akta Lahir. Selain itu, kini anak-anak Forum Anak Kombapari telah dilibatkan secara aktif dalam Musrenbangdes (Musyarawarah Perencanaan dan Pembangunan Desa) serta mereka turut berkontribusi mengupayakan tersedianya dana desa sejumlah Rp60 juta guna mewujudkan kampanye penghapusan kekerasan terhadap anak diterbitkannya peraturan desa perlindungan anak untuk mencegah pernikahan dini dan kewajiban kepemilikan akta lahir.  

Pasca keikutsertaannya di HLPF, Oslin berharap mampu mendorong teman-teman sebayanya untuk turut terlibat aktif dalam upaya penghapusan kekerasan terhadap anak di Indonesia.

“Karena setiap anak layak mendapatkan perlindungan dan dilindungi dari setiap kekerasan,” pungkasnya.

Oslin berbicara di hadapan peserta dan delegasi PBB, perwakilan pemerintah setiap negara, sektor privat, NGO Internasional, anak-anak dan pemuda. Acara yang diusung oleh World Vision dan UNICEF ini mengusung tema ‘Memberdayakan Masyarakat dan Menjamin Inklusivitas dan Kesetaraan’.

Sepulangnya dari konferensi tersebut, Oslin akan mengikuti perayaan Hari Anak Nasional di Makasar pada Juli 2019 ini.

 

Ditulis oleh: Theodora D. Paramita, Media Relation Executive Wahana Visi Indonesia

Artikel Terkait

16 Aug 2019

HAN Pertama di Pedalaman Asmat

HAN Pertama di Pedalaman Asmat

Tanggal 23 Juli 2019 merupakan hari yang istimewa bagi anak-anak Indonesia, pasalnya hari…

09 Aug 2019

Menghidupkan Tanah Gersang Sekolah

Menghidupkan Tanah Gersang Sekolah

Botol air mineral bekas yang berisi air terikat di tiap pohon yang tertanam…

06 Aug 2019

Cerita Anak: Bersuara di Musrenbang? Siapa Takut!

Cerita Anak: Bersuara di Musrenbang? Siapa Takut!

Berpartisipasi di Musrenbang (Musyawarah Perencanaan Pembangunan) desa adalah pengalaman pertama untuk saya. Saya…

Ikuti Kami

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • Youtube