BERITA & CERITA

Basri: Memang Saya Tidak Bisa Lepas dari Kakao

05 Nov 2018

Basri dan keluarganya menjadi salah satu penerima manfaat dari program Cocoa Life di Pinrang, Sulawesi Selatan

Bagi Basri (52) menjadi petani kakao bukanlah satu-satunya pilihan di hidupnya. Kondisi perekonomian keluargalah yang mengharuskannya menjalani kehidupan seperti saat ini. Jatuh dan bangkit dari keterpurukan pun rela ia lakukan demi mendapatkan hasil terbaik bagi keluarganya.

Basri ingat betul bagaimana dirinya berperan sebagai tulang punggung keluarga pasca kepergian sang ayah, sesaat setelah ia menuntaskan pendidikan SMA. Berbekal lahan kurang dari 1 hektare, Basri mencoba mengelola kebun yang ditinggalkan ayahnya dengan menanam bibit kakao.

Meski sempat mendatangkan keuntungan dari bibit kakao yang dikelolanya, peruntungan Basri mengelola kebun kakao ternyata tak selamanya berbuah manis. Sekitar tahun 2000-an, Basri mengalami gagal panen. Beragam penyakit tanaman menyerang buah kakao di kebunnya dan membuatnya memutuskan untuk membabat habis semua pohon kakao yang pernah ia rawat.

Usaha demi usaha dilakukan Basri untuk mengubah kehidupannya. Ayah dengan lima orang anak ini akhirnya mencoba mengubah haluan dan memilih menanam jagung di bekas lahan kakao. Sayangnya, tanaman jagung pun tidak memberikan hasil yang maksimal bagi keluarga Basri.

“Saya menanam jagung kurang lebih sepuluh tahun. Tapi tanaman jagung tidak terlalu menjanjikan, hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari saja,” ujar Basri.

Basri kembali ‘putar otak’ untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Kebun kakao rupanya kembali jadi solusi dari permasalahan keuangannya kala itu. Bermodalkan uang Rp17 juta, Basri membeli sebidang lahan di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan untuk dijadikan kebun kakao.

“Saya kembali mengingat masa lalu saat menanam cokelat dan saya beralih menanam kakao kembali pada tahun 2015,” kenangnya.

Sejak saat itu, Basri dan istrinya, Erlisa (42), kembali berjuang merawat buah-buah kakao dengan bantuan putra sulung mereka, Rahmat (24). Dengan menanam kakao, Basri mengaku perekonomian keluarganya pun semakin merangkak naik.

“Memang saya tidak bisa lepas dari kakao. Saya tertarik sekali kalau mengenai kakao, karena semua yang saya beli baik rumah, kebun, sawah, semua dari hasil kakao,” jelas pria yang juga memiliki lahan sawah dan pisang ini.

Menurut Basri, perubahan pendapatan tersebut juga didukung berkat adanya program Cocoa Life yang diikutinya. Pasca bergabung dengan program ini, Basri mendapatkan pengetahuan yang tidak pernah ia ketahui sebelumnya terkait pengelolaan kebun kakao. 

Bersama mitra Wahana Visi Indonesia (WVI) dalam program Cocoa Life, Barry Callebaut, Basri mendapatkan berbagai pelatihan yang membuatnya semakin mengerti cara merawat buah-buah kakao di kebunnya.

“Kami mendapatkan pengetahuan tentang cara pemangkasan, cara panen yang benar, cara memberi pupuk yang benar dan sebagainya,” tambah Basri.

Kini Basri mengaku paham bagaimana cara memotong buah kakao tanpa harus menggunting seluruh dahan. Bahkan, dirinya juga sudah mengerti bagaimana menanam pupuk di dalam tanah, tanpa harus menghamburkannya di sekitaran pohon kakao. Hasilnya, kebun milik Basri kini dijadikan kebun contoh bagi para petani kakao lainnya. Penyakit tanaman kakao yang kerap membuatnya resah pun kini bisa dicegah lewat implementasi langsung di lapangan.

“Sebelum menjadi demplot (kebun contoh), kebun ini dirawat oleh anak saya. Perawatannya begitu-begitu saja secara tradisional. Akhirnya datang Barry Callebaut dengan program Cocoa Life yang memberikan pengarahan cara merawat kakao, maka saya semakin semangat untuk lebih aktif lagi merawat kakao,” ujar Basri.

Kehidupan Basri kini memang tidak berlebih. Namun, ia mampu memberikan masa depan yang lebih baik bagi kelima buah hatinya. Basri kini boleh berbangga hati dengan jerih payahnya merawat pohon kakao dan menjadi panutan bagi anak-anaknya.

“Dahulu sebelum tahun 2015, anak saya cuma dua orang yang berkuliah. Sekarang sudah ada empat yang kuliah. Alhamdulilah sekarang semua biaya tercukupi,” pungkasnya.

 

Ditulis oleh : Putri ianne Barus, Field Communication Officer Wahana Visi Indonesia

 

#Mondelez #CocoaLife

Artikel Terkait

13 Dec 2018

Diseminasi Survei Pekerja Migran Indonesia

Diseminasi Survei Pekerja Migran Indonesia

Pengasuhan anak yang positif dapat terjadi dengan dukungan berbagai faktor. Dimulai dari perencanaan…

10 Dec 2018

6 Film Pendek Tentang Kekerasan Anak Siap Dinikmati Penonton Indonesia

6 Film Pendek Tentang Kekerasan Anak Siap Dinikmati Penonton Indonesia

Minggu (2/12), bisa dikatakan sebagai puncak kegiatan sebagian anak-anak yang tergabung dalam Forum…

07 Dec 2018

Sekarang John Bisa Cuci Tangan Pakai Sabun

Sekarang John Bisa Cuci Tangan Pakai Sabun

#ProgramAsmatSehat - John adalah murid salah satu sekolah dasar inpres di…

Ikuti Kami

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • Youtube