BERITA & CERITA

Bebas Bau Berkat Toilet Portabel

03 Dec 2018

Fatin di depan salah satu toilet portabel di posko evakuasi Baiya Mangu

#SatuHatiUntukSulteng – Masalah sanitasi kerap menjadi prioritas kesekian dalam penanganan korban bencana alam. Padahal potensi penyakit justru tinggi apabila hal tersebut terabaikan.

Sore itu, tengah dilakukan distribusi paket kebersihan untuk warga yang bermukim di lapangan pengungsian Baiya Mangu, Kecamatan Palu Utara. Setelah menerima paket yang berisi sabun, shampoo, detergent, pasta gigi, dan alat kebersihan lainnya, seorang ibu bernama Fatin (28) kembali ke tendanya yang terletak tidak jauh dari lokasi distribusi.

Ia tinggal bersama dengan suami dan satu orang anaknya yang berusia 4 tahun di tenda berukuran 2x3 meter. Sudah sejak Oktober awal hingga saat ini ia dan keluarganya harus tinggal di tenda karena rumahnya rusak parah dan tidak dapat ditempati kembali.

Persis di depan tenda tempat ia tinggal, ada sebuah kotak kecil berukuran 1x1 meter yang ditutup karung sebagai pagar dengan atap terbuka. Tempat tersebut adalah toilet darurat yang dibangun swadaya oleh warga untuk kebutuhan buang air kecil selama tinggal di lokasi pengungsian.

“Bau sekali, terutama saya yang tinggal di dekatnya,” ujar Ibu Fatin bercerita kondisi yang ia alami dengan adanya toilet darurat tersebut.

Pasalnya toilet tersebut tidak memiliki saluran pembuangan. Hanya sebuah lubang yang tidak terlalu dalam, sehingga bau menyengat kerap menyeruak, terutama bagi warga yang tinggal di dekat toilet darurat tersebut. Jadi meskipun telah disiram dengan banyak air, genangan akan tetap ada. Tidak ada saluran pembuangan untuk mengalirkan air tersebut di sana.

Sementara itu untuk melakukan buang air besar, warga biasanya akan pergi ke sungai kering yang berjarak sekitar 10 menit dengan berjalan kaki. Sungai yang kering, membuat warga harus membawa air dari pemukiman. Akibat jarak dan ketersediaan air, warga kerap menahan untuk BAB atau saling tunggu agar bisa bersama-sama ke sungai kering tersebut.

“Sungainya kering jadi tidak ada air untuk membasuh, biasanya kita bawa langsung dari tenda,” ujar Fatin menceritakan pengalamannya.

Melihat kondisi ini, Wahana Visi Indonesia membangun dua buah unit jamban untuk warga di Baiya Mangu. Jamban ini sudah dilengkapi dengan sistem pembuangan limbah yang tepat, sehingga tidak menciptakan genangan yang memunculkan bau yang berakibat padatimbulnya beragam penyakit.

Sebanyak 10 jamban sudah dibangun di dua lokasi posko evakuasi, yaitu Baiya Mangu dan Lero Tatari, untuk mengakomodir kebutuhan warga yang tinggal di posko pengungsian.

Sejak tersedianya jamban, warga kini melakukan buang air kecil dan buang air besar dengan mudah di sana. Tidak perlu lagi pergi ke sungai kering atau menggunakan toilet darurat yang dibangun sebelumnya.

“Sekarang sudah tidak tercium bau lagi, karena warga sudah tidak kencing lagi di toilet darurat di depan tenda saya,” ujarnya senang.

Meski demikian, ia berharap suatu saat bisa kembali lagi tinggal di rumahnya mengingat kondisi anaknya yang masih kecil dan harus terus menerus berada dalam tenda siang dan malam.

Ditulis oleh: Melya Findi Astuti, Communication Officer CENTRE Wahana Visi Indonesia

Artikel Terkait

23 Nov 2018

Analisa Pasar Melalui Pengkajian Pasar Terpadu

Analisa Pasar Melalui Pengkajian Pasar Terpadu

#SatuHatiUntukSulteng - Menjelang pukul enam pagi, tim gabungan dalam penilaian pasar…

21 Nov 2018

Pemenuhan Nutrisi Bagi Bayi dan Anak di Dapur PMBA

Pemenuhan Nutrisi Bagi Bayi dan Anak di Dapur PMBA

#SatuHatiUntukSulteng - Hari menjelang siang, Novela (40) berjalan menuju rumah ibu kader…

14 Nov 2018

Semangat yang Tetap Menyala di Posko Evakuasi

 Semangat yang Tetap Menyala di Posko Evakuasi

#SatuHatiUntukSulteng – Palu kini tengah berbenah. Tanpa terasa gempa dan tsunami…

Ikuti Kami

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • Youtube