DARI LAPANGAN

Belajar Mandiri di Pos Evakuasi Gunung Agung

6 hari yang lalu

Gunung Agung yang terletak di Kabupaten Karangasem, Bali menunjukkan peningkatan aktivitas drastis sejak tanggal 25 November 2017. Puluhan ribu penduduk Bali yang tersebar di sembilan kabupaten harus mengungsi dan meninggalkan rumah dan sumber mata pencaharian di desa mereka setelah rentetan erupsi kecil terjadi. Data terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 5 Desember 2017 menyatakan bahwa sebanyak 63.855 warga terdampak oleh letusan Gunung Agung yang sampai saat ini masih dinyatakan dalam status Awas.

Wahana Visi Indonesia (WVI) telah merespons bencana ini sejak tanggal 27 September 2017. Mulai saat itu, WVI telah melakukan pendampingan psiko-sosial lewat Ruang Sahabat Anak di 17 posko dan 5 sekolah yang terletak di 4 kecamatan.

WVI juga mengajak anak-anak beraktivitas melalui Mobil Sahabat Anak yang beroperasi di 38 posko dan 2 sekolah yang terletak di 7 kecamatan. WVI mengadakan pelatihan keterampilan bagi 72 warga di 2 titik evakuasi yang tersebar di Kecamatan Rendang dan Sidemen. Pendampingan livelihood ini dilakukan lewat pelatihan keterampilan seperti membuat benda kerajinan tangan, merajut dan menggunting rambut.

BACA JUGA : KISAH PERJUANGAN WARGA DESA MERAGUN CIPTAKAN DESA STOP BABS

Salah satu warga yang mendapat pelatihan keterampilan adalah I Wayan Kumarajaya (30). Menurut Wayan letusan Gunung Agung ini telah mengubah aktivitas hariannya sebagai seorang pekerja.

 “Letusan ini membuat kami gelisah karena mata pencaharian kami jadi terhambat,” ujarnya seperti dikutip dari BNPB TV, Sabtu (2/12/2017).

Kini Wayan bersama warga lainnya bermukim di pos evakuasi sementara. Saat berada di tempat ini, Wayan tak mau berdiam diri. Menurutnya, jika ia hanya berdiam diri saja, ia akan menjadi tertekan.

 “Selalu ada hikmah di balik bencana namun jika hanya berdiam diri saja, maka saya akan stres,” ungkap Wayan saat menjelaskan alasannya bergabung dalam pelatihan merajut bersama para ibu rumah tangga di Kecamatan Sidemen.

Wayan memang menjadi satu-satunya peserta pria dalam pelatihan tersebut namun hal ini tidak menjadikannya berkecil hati untuk mengikuti pelatihan merajut sepatu bayi.

WVI melakukan pendampingan livelihood setelah melakukan pendataan terhadap warga yang terdampak peningkatan aktivitas Gunung Agung. Banyak warga yang tidak bisa bekerja dan kehilangan mata pencaharian pasca erupsi. Karena itu, WVI tidak hanya mencari kegiatan produktif namun juga mengupayakan kegiatan yang dapat menjadi alternatif pendapatan baru bagi penyintas atau warga yang terdampak lewat program livelihood.

*(sumber foto : BNPB)

 

Ditulis oleh Rena Tanjung, Field Communications Officer Wahana Visi Indonesia