BERITA & CERITA

Berjuang Demi ‘Emas’ di Tanah Sendiri

07 May 2019

(Foto kiri) Para petani dampingan Stefanus Kota saat membuat pestisida alami. (Foto Kanan) Stefanus Kota bersama putrinya. Semangatnya membantu para petani lainnya di Desa Praibakul mampu membuat tanah di desa tersebut menghasilkan keuntungan bagi para petani di sana.

Banyak teknologi pertanian yang kini berkembang di tengah pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan. Tidak selalu tentang penggunaan mesin dan obat kimia. Namun, juga teknik-teknik bertanam sederhana yang bisa menghasilkan panen lebih baik dari biasanya.

Teknik menanam yang baik inilah yang selalu dipromosikan oleh para petani swadaya (PS) yang ada di masing-masing desa di Kecamatan Haharu, Nusa Tenggara Timur. Mereka inilah yang dengan sukarela mendampingi petani lainnya untuk berbagi rahasia agar tanaman petani bisa tumbuh subur dan berbuah lebat. Begitu pula yang terjadi di Desa Praibakul yang terkenal dengan komoditas kacang tanahnya.

Agar bisa menjangkau lebih banyak petani, para PS mengajak petani lainnya. Petani ini kemudian dikenal sebagai Second Layers (SL) atau petani penyokong. Petani penyokong juga memiliki kemampuan dan pengetahuan yang sama seperti petani swadaya umumnya.

Salah satu SL di Desa Praibakul, Stefanus Kota (31) menceritakan suka dukanya mendampingi para petani di desanya.

“Awalnya, waktu saya diajak Pak Erastus (PS Praibakul) untuk menjadi SL, saya keberatan,” kenangnya.

Ia beranggapan bahwa kebanyakan petani di desanya sulit untuk menerima teknik menanam yang baru. Apalagi kebiasaan menanam dengan banyak bibit di satu lubang sudah menjadi kebiasaan yang sudah diwariskan dari generasi ke generasi.

“Namun, setelah berdiskusi dengan PS, saya akhirnya memutuskan untuk mendampingi petani yang rumahnya berada dekat dengan saya,” ceritanya.

Ia pun memulainya dengan melakukan sosialisasi cara tanam yang baik dengan membuat bedengan dan menggunakan pupuk organik. Dalam pertemuan tersebut, ia berhasil mengajak 27 orang untuk belajar bersama. Lalu setelah pertemuan, 11 orang di antaranya mau untuk menerapkan teknik ini di kebun mereka masing-masing.

“Meski hanya 11 orang, saya tetap semangat,” katanya.

Ia menyadari, saat ini banyak petani yang sudah beralih profesi menjadi pekerja di salah satu perusahaan swasta yang ada di desanya. Namun, ia tetap mendorong bagi petani lainnya untuk tetap mengelola lahannya. Menurut Stefanus, jika masyarakat bias mengelola tanahnya sendiri, niscaya ‘emas’ (keuntungan .red) akan lebih banyak diperoleh.

Tak hanya itu, kegiatan selanjutnya yang ia fasilitasi bersama PS adalah pembuatan pestisida nabati. Camat Haharu, Hina Ndujurmana (61) yang ikut hadir mengapresiasi pelatihan tersebut.

“Pestisida nabati ini bagus sekali, karena bahannya murah dan mudah didapat dan tersedia di alam,” pujinya.

Ia pun berharap agar kelompok tani di desa tersebut semakin kuat dan berkembang. Lebih lanjut, ia pun tidak berkeberatan bila diminta untuk membantu melegalkan kelompok tani binaan desa yang sudah mandiri.

“Kelompok tani yang sudah permanen dan diakui desa akan lebih mudah mencari pasaran untuk hasil pertaniannya,” terangnya lagi.

 

Ditulis oleh: Samuel K.I.J.U.Ara dan Mardiyanti Taramata, Staf IRED Project Wahana Visi Indonesia

 

Artikel Terkait

15 May 2019

Meningkatkan Panen Jagung dengan ‘Jalur Ganda’

Meningkatkan Panen Jagung dengan ‘Jalur Ganda’

Tahukah Anda? Bila di dalam satu keluarga mengonsumsi jagung setiap hari, maka diperlukan…

02 Apr 2019

Memajukan Desa dengan Pancasila Ala Bloro

Memajukan Desa dengan Pancasila Ala Bloro

Desa Bloro di Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan desa…

06 Mar 2019

Ketika Pagar Menjadi Penyelamat Panen

Ketika Pagar Menjadi Penyelamat Panen

Kampung Tanganang, Desa Tanambas merupakan desa tetangga dari Desa Prailangina, Nusa Tenggara Timur.…

Ikuti Kami

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • Youtube