BERITA & CERITA

Berkat Suara dan Aksi Warga Negara, Kader Ini Tak Perlu Lakukan ‘Sweeping’

11 Jun 2018

Dengan implementasi program GPSA, masyarakat di 20 desa di Kabupaten Kupang berkesempatan untuk mengutarakan usulan, kritik dan sarannya kepada pemerintah lokal

Sulit bagi warga Desa Oeltua, Kabupaten Kupang mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai. Jarak Puskesmas dan Posyandu yang tidak dekat, juga jadi alasan para warga, terutama para ibu hamil dan ibu dengan balita untuk tidak menggiatkan diri memeriksakan kondisi kesehatannya. Namun, pasca  masuknya Suara dan Aksi Warga Negara (Suara) atau CVA (Citizen Voice and Action), masyarakat mulai menyenangi berbagai aktivitas yang dilakukan di Puskemas dan Posyandu.

Afliana Bantaika (50), salah satu fasilitator desa untuk program GPSA tahu betul bagaimana perubahan yang terjadi di desanya tersebut. Ia ingat bagaimana perjuangan dirinya dan keempat rekannya sesama kader saat melakukan sweeping untuk mengajak para ibu hamil dan ibu balita berkunjung ke Puskemas.

“Kami lima kader berbagi dan datang ke rumah untuk menyadarkan mereka untuk hadir bulan depan. Memang agak susah, dan kami tahu apa yang kami lakukan itu sukarela,” kenang Afliana.

Dirinya mengungkapkan bahwa keinginan para ibu untuk hadir membawa bayi dan balita mereka ke Posyandu sangatlah minim. Bisa saja mereka hanya datang satu kali dan menghilang di bulan-bulan berikutnya.

“Kami katakan, kalau ibu melakukan seperti itu, berarti ibu tidak mengetahui perkembangan dari anak ibu, sebaiknya ibu harus timbang anak itu setiap bulan supaya kita bisa mengetahui perkembangannnya,” jelasnya.

Afliana tidak kunjung menyerah untuk menyadarkan masyarakat di desanya untuk bisa turut memperhatikan kesehatan mereka. Apalagi, pasca masuknya Wahana Visi Indonesia melalui pendekatan Suara/CVA, Afliana kini merasa semangatnya tidak pernah padam.

“Program dari WVI ini bisa mendukung kami bersuara dari bawah dan kami kader juga sudah merasa senang,” ungkap Afliana.

Suara merupakan salah satu pendekatan yang dilakukan lewat implementasi program GPSA (Global Partnership for Social Accountability). Program yang diinisiasi oleh Wahana Visi Indonesia (WVI) lewat dukungan Bank Dunia ini, kerap dilakukan di tiga kabupaten di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Ketiganya adalah Kabupaten Kupang, Kabupaten Sikka dan Kabupaten Timor Tengah Utara.

Desa Oeltua adalah salah satu desa yang merasakan perubahan pasca berjalannya program tersebut sejak 2014. Menurut Afliana, pasca terjadinya keterbukaan di desanya, pemerintah desa mulai memberikan anggaran dana untuk peningkatan kesehatan ibu dan anak di sana. Dengan adanya dukungan dana tersebut, maka para ibu hamil dan ibu balita kini semakin giat untuk datang memeriksakan diri dan kesehatan mereka dan anak-anak mereka.

“Setelah ada Suara, tidak hanya kader tapi ibu-ibu PKK dan aparat desa sudah ikut terlibat.  Dulu mereka tidak aktif sama sekali sampai tahun 2016. Mungkin setelah ada usulan-usulan dari masyarakat mengenai desa, mereka jadi mau bergerak pada masyarakat,” tambah Afliana.

Dirinya menambahkan, pasca terbukanya kesempatan masyarakat untuk bersuara, mereka mulai mengkritisi berbagai kondisi pelayanan kesehatan yang ada. Misalnya saja, bidan desa yang terhitung jarang masuk (hanya 3 hingga 4 kali per minggu), kini sudah mulai mengerti akan tanggung jawabnya sebagai pelayan masyarakat, dan sudah aktif hadir setiap hari untuk membantu pelayanan di desa.

Lewat berbagai pelatihan yang diterimanya pada program GPSA, Afliana dan para fasilitator desa kini boleh berbangga hati karena suara mereka telah diperhitungkan dan didengarkan hingga ke tingkat kabupaten. Usulan dan ide-ide mereka kini telah memiliki ruang tersendiri bagi pemerintah Kabupaten Kupang.

“Musrenbang dari pemerintah itu hanya perwakilan, kalau untuk Suara, semua masyarakat juga boleh terlibat. Ruang dialog awalnya juga tidak ada, tapi di forum GPSA terbuka untuk semua isu yang tidak masuk ke Musrenbang. Kami bisa ke Musrenbang Kabupaten pasca WVI masuk. Sehingga, kami bisa berdialog langsung dengan pemerintah kabupaten. Kami bangga sekali bisa bersuara,” ujarnya bahagia.

 

Ditulis oleh : Putri ianne Barus, Field Communications Officer Wahana Visi Indonesia

Artikel Terkait

16 Oct 2018

Hancurnya Pelabuhan Wani, Tempat Bermain Kami

Hancurnya Pelabuhan Wani, Tempat Bermain Kami

#SatuHatiUntukSulteng - Seminggu telah berlalu sejak gempa bumi dan tsunami menghantam…

15 Oct 2018

Sekarang Bayi Saya Bisa Tidur Nyenyak

Sekarang Bayi Saya Bisa Tidur Nyenyak

#SatuHatiUntukSulteng - Ruth (38) tak berhenti mencium pipi Janetta. Ruth sangat menyayangi anak…

12 Oct 2018

Merawat Kebun Gizi dari Atas Panggung

Merawat Kebun Gizi dari Atas Panggung

#ProgramAsmatSehat - Wahana Visi Indonesia (WVI) sejak Januari 2018 ikut merespon…

Ikuti Kami

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • Youtube