BERITA & CERITA

Cerita Anak: Akhirnya Aku Jadi Penyiar Radio

19 May 2020

(kanan) Sara saat praktik menjadi seorang penyiar radio di RRI

#BersamaMelawanCovid19 - Namaku Sara, umurku 15 tahun. Sejak tanggal 19 Maret 2020 aku tidak lagi belajar di sekolah karena ada pandemic Covid-19. Jadi aku belajar di rumah. Guru-guru memberikan tugas selama kami belajar di rumah. Suatu hari, ada informasi menarik yang aku terima dari salah satu staf Wahana Visi Indonesia (WVI) Area Program Pegunungan Tengah.  

Siang itu dari kakak staf WVI bahwa akan diadakan pelatihan untuk penyiar cilik dan aku tertarik untuk mengikutinya. Motivasiku sebenarnya adalah untuk mengisi waktu luang sekaligus mencari pengalaman baru.

Syukurnya aku diizinkan oleh kedua orang tua, dan aku ikut menjadi penyiar pemula di Radio Republik Indonesia (RRI). Saat itu kami berjumlah tujuh orang dan mendapat arahan dari Kak Joko, staf WVI dan Kak Tanty dari RRI. Kami akan dimasukkan dalam program siaran informasi dan hiburan tentang Covid-19, yang kami beri nama LABEWA (Lagu dan Belajarnya Anak Wamena).

Siaran Labewa ini sudah membantu banyak anak di Papua, bukan hanya karena ada kuiz berhadiahnya, tetapi lewat siaran ini juga setiap pendengar mendapat ilmu dari narasumber yang diundang dan tetap belajar di rumah dengan mengikuti dan mendengar siaran Labewa.

Saat pertama kali siaran aku merasa gugup sekali, tetapi setelah satu bulan ikut siaran Labewa, aku merasa sangat senang. Dengan hadirnya program Labewa ini sangat membantuku untuk bisa berkarya dan melatih percaya diri, juga menghibur anak-anak lainnya yang di rumah. Melalui kegiatan ini aku belajar untuk lebih mengikuti protokol kesehatan agar tidak tertular Covid-19.

Orang tuaku berterima kasih banyak kepada WVI karena sudah melibatkan aku dalam kegiatan siaran di RRI ini. Lucunya, bapaku tidak mengenali suaraku, kalau saja mamaku tidak memberitahunya. Bahkan, beliau menyempatkan merekam saat aku siaran karena menurutnya siaranku bagus sekali. Padahal menurutku masih ada saja yang salah-salah.

Dari siaran yang aku lakukan ini aku bisa belajar dua hal yaitu: sebelum melakukan siaran, penyiar harus mengusai intonasi dari naskah yang diberikan, agar saat menyiar tidak gugup dan gagap saat berbicara. Kedua, sebelum memulai siaran, penyiar dan narasumber perlu membahas terlebih dahulu topik yang ingin dibawakan sebelum acara agar tidak saling bertanya saat menyiar.

Itu pengalamanku, bagaimana pengalamanmu?

Ditulis oleh: Sara, Anak Dampingan Area Program Pegunungan Tengah Wahana Visi Indonesia 

 

Artikel Terkait

28 May 2020

Mengantar Ilmu di Tengah Pandemi

Mengantar Ilmu di Tengah Pandemi

#BersamaMelawanCovid19 – Sejak merebaknya pandemi Covid-19, Pemerintah Kabupaten Nagekeo, NTT melalui…

27 May 2020

Gerak Cepat Sang Ketua RW

Gerak Cepat Sang Ketua RW

#BersamaMelawanCovid19 – Gerakan kemanusiaan yang berkontribusi demi kepentingan bersama sangat diperlukan…

22 May 2020

WVI Menyalurkan Bantuan Bahan Pangan Bagi Masyarakat Lombok Utara

WVI Menyalurkan Bantuan Bahan Pangan Bagi Masyarakat Lombok Utara

#BersamaMelawanCovid19 – Dampak dari COVID-19 menyebabkan sebagian besar masyarakat kehilangan pekerjaan,…

Ikuti Kami

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • Youtube