BERITA & CERITA

Cerita Staf: Beralaskan Tikar dan Rumput, Membaca Tidak Menjadi Halangan

09 Jan 2019

Agnes saat belajar mengenal huruf dan kata di atas sebuah tikar yang ditempatkan tak jauh dari Mobil Sahabat Anak Wahana Visi Indonesia

Mobil Sahabat Anak (MSA) itu terlihat tak berubah, datang dengan bentuk yang sama, dengan ukuran yang sama, dengan warna warni khas oranye yang sama. Buku-buku di dalamnya pun terlihat sudah lama bahkan ada yang sudah usang dan mulai rusak. Kadang hadir di satu tempat dengan musik dan lagu yang terdengar begitu keras melalui pengeras suara.  Namun, kadang datang dengan suasana sepi tanpa musik dan lagu. Setiap kali MSA hadir di suatu tempat, anak-anak akan segera datang dan berlarian menyambut kehadiran perpustakaan keliling itu di tempatnya.

Mereka adalah anak-anak kulit hitam berambut keriting, kulit hitam berambut lurus, kulit putih berambut keriting, kulit putih berambut lurus, kecil besar, jauh dekat rumah mereka, jalan kaki atau diantar orang tua yang sekedar melepas mereka dan pergi, bisa membaca atau belum bisa membaca, baru kenal huruf, baru bisa bisa susun suku kata demi suku kata. Mereka datang dengan beralaskan sandal, sepatu atau kaki alami alias tanpa alas kaki. Namun, coba perhatikan mata mereka, keinginan kuat untuk membaca itu ada di setiap anak, walau mereka kadang tak tahu bagaimana cara membaca.

“Kakak, bantu saya membaca, saya ingin bisa baca. Saya akan bisa baca to kakak?“  tutur Agnes, siswa kelas 2 SD itu dengan suara penuh harap yang hampir tak terdengar.

“Agnes mau belajar dengan kak Elis?” saya bertanya.

“Iya kakak, sekarang e,” jawab Agnes.

Saya lalu mengambil kartu-kartu huruf yang telah dilaminating yang selalu tersedia di tas saya. Kartu-kartu huruf itu menjadi perlengkapan untuk bekal saya ketika berjumpa dengan anak-anak, terutama anak-anak yang masih kesulitan membaca.

Saya menggelar kartu-kartu huruf tersebut di tikar yang diletakan berdekatan dengan MSA dan mendampingi Agnes belajar menyusun huruf, menyebut nama huruf, mengenal bentuk huruf dan selanjutnya mengajak Agnes menyusun kata-kata pendek seperti “domba”, “kecil”, “ di gunung”. Agnes sudah bisa membaca, tapi ada beberapa huruf yang tidak dikenalnya dengan baik, seperti huruf ‘g, p, b dan d”.

Selain Agnes, adalah Eden, siswa kelas 1 SD yang juga datang ke rumah baca dan ingin belajar membaca. Eden jauh lebih bisa membaca daripada Agnes. Ia sudah bisa membaca huruf, membedakan huruf, hanya beberapa huruf seperti ‘b, p dan d’ yang masih terbolak balik. Eden menyusun kata “nasi, mama dan bapa, lebih cepat dari Agnes.”

Keduanya sangat senang melakukan kegiatan menyusun huruf dan kata tersebut. Mereka senang melakukannya karena mereka secara bebas bisa membongkar huruf-huruf tersebut. Saat mereka bertanya tentang nama dan bentuk huruf, saya memberikan waktu dan kesempatan untuk menjawab mereka. Namun, butuh kesabaran yang besar untuk menolong Agnes belajar membaca.

Saat saya mengambil gambar Agnes yang sedang menyusun beberapa kata, saya bertanya dalam hati “Apakah saya bisa menolong Agnes membaca?” “Apakah saya punya cukup waktu, minimal satu dua kali datang menjumpai Agnes dan membantunya membaca?”. Jika Agnes rajin datang ke rumah baca dan dibantu dengan cara yang baik dan benar, tentunya Agnes bisa lancar membaca.

Di bagian yang lain, ada juga sepuluh anak kelas 1-2 SD dari panti asuhan yang ada di Desa Komba, yang biasa disebut “anak-anak panti”, sedang asyik membaca buku di teras gereja. Saat saya mengajak mereka untuk bermain menyusun huruf dan kata dengan kartu huruf, serentak anak-anak itu menjawab, “mau mama, kita mau belajar dengan mama,” panggilan yang biasa mereka sebut di rumah panti asuhan.

Kartu huruf ditebar di lantai beralaskan tikar dan anak-anak dibagi dalam kelompok berpasang-pasangan. Ada lima kelompok anak perempuan dan anak laki-laki. Mereka menyusun huruf sesuai abjad A-Z, selanjutnya menunjuk sambil menyebut huruf secara berurutan dan acak. Mereka saling beradu kecepatan untuk menyusun kata yang didiktekan. Mereka berhasil melakukannya dengan cepat dan tepat, sekalipun ada 1-2 anak yang bingung dengan huruf “p”, “b” dan “d”.   

Beralaskan tikar dan rumput di halaman gereja, anak-anak menikmati kegiatan membaca dan bermain menyusun huruf dan kata. Serasa mereka tak ingin berhenti sekalipun hari semakin sore.

“Kakak, kitong sudah mau pulang ka? Nanti kapan kaka datang lagi. Kitong bikin sambung-sambung huruf lagi e kaka. Tetapi lomba boleh kaka,” kata mereka antusias.

“Iya ade dong semua. Kitong pulang dulu e, karena hari sudah sore sekali. Kitong kegiatan sampai di sini dulu, nanti minggu depan hari Jumat, kita belajar lagi.” Saya mengajak adik-adik untuk mengakhiri kegiatan rumah baca bersama MSA.

Kegiatan diakhiri dengan menyanyi bersama dan doa. Sayonara.

 

Ditulis oleh: Elisabeth Bukorpioper, TP2 Coordinator Area Program Sentani Wahana Visi Indonesia

Artikel Terkait

11 Mar 2019

Toilet Baru untuk 17 Sekolah Dasar di Sambas

Toilet Baru untuk 17 Sekolah Dasar di Sambas

Jumlah murid Sekolah Dasar di Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat semakin bertambah, sehingga…

04 Mar 2019

Saat Suara Anak Sikka Menjadi Pertimbangan di Penyusunan RPJMD

Saat Suara Anak Sikka Menjadi Pertimbangan di Penyusunan RPJMD

“Anak-anak harus difasilitasi dalam wadah forum anak baik di tingkat desa maupun kecamatan…

01 Mar 2019

Anak Laki-Laki Juga Perlu Tahu Pendidikan Menstruasi

Anak Laki-Laki Juga Perlu Tahu Pendidikan Menstruasi

#SatuHatiUntukSulteng – Rosni (46) sudah menjadi guru sejak 2007. Sebagai guru…

Ikuti Kami

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • Youtube