BERITA & CERITA

Dukungan Psikososial untuk Mengembalikan Keceriaan Anak

09 Nov 2018

Beberapa peserta yang terlibat dalam pelatihan dukungan psikososial di Sulawesi Tengah yang diselenggarakan oleh Wahana Visi Indonesia dan PGI

#SatuHatiUntukSulteng – Tawa ceria anak-anak kerap kali mewarnai setiap rangkaian kegiatan di Ruang Sahabat Anak (RSA) yang dilakukan oleh tim respons tanggap bencana gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah. Mereka diajak untuk bernyanyi, bercerita, serta kegiatan bermain lainnya. Ruang Sahabat Anak dibentuk sebagai media untuk menghilangkan dampak pikiran pada anak-anak pascabencana terjadi.

Kegiatan di RSA merupakan salah satu langkah dalam serangkaian teknik psikososial yang perlu diberikan bagi anak-anak yang terdampak bencana. Psikososial merupakan salah satu bentuk bantuan kemanusiaan untuk menghilangkan dampak setelah bencana terjadi. Teknik rekreasional ini, tentunya masih harus diikuti pula dengan serangkaian teknik lain sehingga psikis anak dapat pulih kembali.  

Rully, staf Faith and Development Wahana Visi Indonesia pun menjelaskan selain teknik rekreasional, dukungan psikososial nantinya perlu didukung dengan teknis stabilisasi yang bertujuan untuk menenangkan gangguan perilaku pada anak, relaksasi, serta penerimaan dalam diri anak akan peristiwa yang sudah terjadi.

Berdasar pada kondisi anak di daerah-daerah posko evakuasi, Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) bersama Wahana Visi Indonesia mengadakan pelatihan psikososial bagi masyarakat, yang melibatkan gereja dari sejumlah denominasi di Kota Palu, guru sekolah minggu, relawan pendamping anak, guru agama di sekolah, dan lainnya. Pelatihan yang akan dilakukan selama tiga hari ini menjelaskan mengenai dasar-dasar psikososial, teknik penanganan anak, serta praktik penanganan langsung kepada anak-anak yang tinggal di posko-posko milik gereja.

Perkembangan psikososial adalah perkembangan yang berkaitan dengan emosi, motivasi serta bagaimana individu berinteraksi dengan orang lain. Dalam konteks bencana, dukungan psikososial bagi anak penting untuk dilakukan, utamanya dalam menghilangkan dampak negative yang dialami oleh anak.

Anak-anak memiliki kecenderungan untuk bergantung pada lingkunganya, sehingga ketika ada pemicu, dalam hal ini adalah gempa maka akan muncul ketakutan yang membuat mereka menjadi rentan. Hal ini yang membuat anak-anak menjadi target prioritas untuk mendapat perlindungan psikis agar dapat pulih kembali.

“Anak-anak itu sangat rentan, sehingga kondisi pascabencana seringkali membuat mereka trauma. Maka dari itu perlu ada dukungan dari lingkungan di sekitar sehingga anak dapat pulih kembali. Di sisi lain, anak-anak memiliki kemampuan untuk menghilangkan trauma lebih cepat apabila didukung dengan lingkungan yang mendukung,” ujar Rully menjelaskan.

Psikososial dapat dilakukan oleh siapapun baik dari orangtua, masyarakat, sekolah, dan tokoh agama bahkan masyarakat dalam upaya pemulihan psikis anak paska bencana terjadi. Hal ini yang kemudian membedakan antara teknik psikososial dengan teknik trauma healing.

Rahma (25) salah satu peserta yang juga menjadi relawan dalam RSA menyatakan bahwa dirinya senang dapat terlibat dalam kegiatan RSA. Dalam pengalamannya mendampingi anak-anak, ia seringkali menemukan beberapa anak yang masih tampak diam dan tidak bersemangat mengikuti kegiatan. Kondisi ini yang terkadang menjadi tantangan tersendiri bagi Rahma dan sejumlah teman relawan pendamping anak tentang bagaimana cara menghadapi anak-anak dalam kondisi demikian.

“Saya berharap dengan pelatihan ini, nantinya bisa menjadi bekal bagi diri saya ketika turun ke lapangan agar dapat mengembalikan keceriaan anak-anak seperti semula,” ujar Rahma saat ditanya harapan mengikuti kegiatan ini.

Wahana Visi Indonesia nantinya juga akan mengadakan kegiatan serupa dengan melakukan pendekatan kepada pemimpin dari agama Islam dengan menjalin kerjasama dengan MUI Kota Palu. Hal ini tentunya sejalan dengan nilai-nilai Wahana Visi Indonesia dalam mendedikasikan diri untuk bekerjasama dengan masyarakat paling rentan tanpa membedakan agama, ras, etnis dan gender.

Ditulis oleh: Melya Findi Astuti, Communication Officer Central Sulawesi Earthquake, and Tsunami Emergency Response

Artikel Terkait

14 Nov 2018

Semangat yang Tetap Menyala di Posko Evakuasi

 Semangat yang Tetap Menyala di Posko Evakuasi

#SatuHatiUntukSulteng – Palu kini tengah berbenah. Tanpa terasa gempa dan tsunami…

06 Nov 2018

Sekolah Darurat untuk Pendidikan yang Terus Berlanjut

Sekolah Darurat untuk Pendidikan yang Terus Berlanjut

#SatuHatiUntukSulteng - Kerusakan akibat gempa dan tsunami yang mengguncang Sulawesi Tengah…

31 Oct 2018

Distribusi Bantuan Menjadi Mudah karena LMMS

Distribusi Bantuan Menjadi Mudah karena LMMS

#SatuHatiUntukSulteng - Desa Mpanau merupakan satu desa yang berbatasan dengan Kota…

Ikuti Kami

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • Youtube