BERITA & CERITA

Dulu Kopi Dibuat dari Air Kali di Asmat

25 Feb 2019

Pius, salah seorang perangkat desa di Kampugn Dawer yang mengurus tempat Penampung Air Hujan dari WVI.

Kondisi geografis Asmat yang sebagian besar berada di daerah rawa tak jarang membuat segala aspek kehidupan di wilayah ini menjadi unik dan berbeda dibanding wilayah lain di Indonesia. Salah satunya adalah soal konsumsi air sehari-hari. Sebagian warga masih mengandalkan air kali untuk minum dan memasak bahkan untuk membuat kopi manis. Tapi, beruntung kisah ini tidak lagi berlanjut.

Pius (45) adalah salah seorang warga Kampung Dawer yang sempat mengandalkan kali sebagai sumber air utama untuk kebutuhan hidup keluarganya sehari-hari. Menurut pria yang juga salah satu aparatur pemerintahan di Kampung Dawer, meminum air kali bukan tanpa risiko sebab banyak sekali masyarakat terutama anak-anak yang menderita penyakit akibat mengonsumsi air kali. Keadaan diperparah dengan minimnya akses terhadap fasilitas kesehatan dan pengetahuan orangtua tentang gizi anak. Puncaknya pada bulan Januari 2018, sebanyak 73 anak di seluruh Kabupaten Asmat termasuk Kampung Dawer meninggal akibat Kejadian Luar Biasa (KLB) campak dan gizi buruk.

Menanggapi KLB tersebut, tim Wahana Visi Indonesia (WVI) melakukan respons KLB sejak awal Januari 2018. Pius ikut terlibat dalam upaya ini.

“Saya melihat WVI menerjunkan banyak bantuan. Yang pertama pelayanan campak dan gizi buruk lalu sosialisasi kemudian ada praktik dokter mengobati anak-anak sakit. Terakhir, ada bantuan berupa Penampung Air Hujan (PAH) dua unit di kampung ini,” cerita Pius yang juga aktif dalam kegiatan gereja di Kampung Dawer, “Masyarakat ikut bertanggung jawab untuk PAH di desa ini termasuk saat membangun PAH dan menjaganya sampai sekarang.”

Pius juga bercerita bahwa ia melihat banyak perubahan terjadi di desanya. Kini, tidak ada lagi anak-anak dan balita yang menderita campak di desanya.

“Anak-anak yang menderita campak dan gizi buruk bisa saja sudah dipanggil Tuhan dari dulu. Tapi sekarang semuanya sudah sembuh. Saya senang sekali karena ada program Pemberian Makan Bayi dan Anak dan posyandu di Kampung Dawer dan Amborep,” cerita Pius.

Sementara dalam mengurus PAH, masyarakat ikut terlibat. Penggunaan PAH diatur dua kali seminggu yakni hari Selasa dan Jumat. Seluruh warga berhak untuk mengambil air selama 24 jam pada kedua hari tersebut.

“Sekarang kami punya air bersih dari PAH. Setiap hari Selasa dan Jumat warga Kampung Dawer bergiliran jaga selama sehari supaya setiap orang kampung bisa mendapat air bersih. Terima kasih WVI atas bantuannya,” kata Pius lagi.

WVI telah melakukan pendampingan di Kampung Dawer dan Amborep serta beberapa kampung lainnya di wilayah Asmat selama setahun lewat program respons KLB yang kemudian dilanjutkan dengan Program Asmat Sehat. Kini meski program tersebut sudah selesai, WVI berharap supaya setiap upaya yang telah dilakukan di Asmat ini memberi dampak positif pada anak-anak serta masyarakat di Asmat serta berlanjut dan mengubah kebiasaan masyarakat.

 

Ditulis oleh Rena Tanjung, Field Communications Officer, Wahana Visi Indonesia

 

Artikel Terkait

16 Apr 2019

Semangat yang Tak Pernah Patah

Semangat yang Tak Pernah Patah

#PeduliSentani – Telah lebih dari 3 minggu tinggal di posko evakuasi pasca bencana, tidak…

11 Apr 2019

Tahunan Tak Miliki Tempat Tetap, Bangunan PAUD Holistik Integratif Efata Akhirnya Diresmikan

Tahunan Tak Miliki Tempat Tetap, Bangunan PAUD Holistik Integratif Efata Akhirnya Diresmikan

Sebuah lagu dan tarian dari puluhan anak-anak siswa PAUD Efata terdengar merdu dan…

08 Apr 2019

Mengenal Baik dan Buruknya Makanan di Posko Pengungsian

Mengenal Baik dan Buruknya Makanan di Posko Pengungsian

#PeduliSentani - Matahari bersinar terik hari itu. Namun, panas terik matahari…

Ikuti Kami

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • Youtube