BERITA & CERITA

Duta Besar PBB Lakukan Kunjungan ke Proyek IRED Sumba Timur

12 Jun 2019

Tim Wahana Visi Indonesia berfoto Bersama Duta Besar PBB untuk Lahan Kering beserta tim ICRAF World Agroforestry Centre dan perwakilan World Vision Australia. Kunjungan ini dilakukan untuk menyaksikan langsung teknik palotang yang mampu menghijaukan lahan di Sumba Timur.

Semua orang di Sumba Timur pasti mengenal pohon cendana. Pohon ini begitu popular hingga tahun 90-an. Tidak heran, bila kemudian pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur ini mendapat julukan sebagai pulau cendana. Permintaan yang tinggi terhadap pohon cendana karena kualitas kayunya yang sangat baik untuk industri furnitur serta manfaatnya untuk dapat diolah sebagai bahan parfum yang mahal, membuat banyak orang kemudian menebang dan menjualnya. Hasilnya, jumlah pohon cendana di rumahnya sendiri berkurang drastis.

Adanya mitos di kalangan masyarakat Sumba yang menganggap bahwa pohon cendana adalah pohonnya para dewa membuat tidak banyak orang mau menanamnya. Mereka menganggap, bila tetap bersikeras menanamnya, maka malapetaka akan menimpa mereka dan anak cucunya.

Selain itu, tidak banyak orang yang tahu teknik menanam cendana dengan baik. Cendana termasuk tumbuhan parasit, sehingga dia membutuhkan inang untuk bertumbuh besar.

Hal ini pula yang jarang diketahui oleh para petani dan menyebabkan mereka enggan menanam karena berkali-kali gagal. Padahal, menurut para ahli tanaman, cendana amat cocok bila ditanam di wilayah di Sumba Timur dengan kontur tanah berbatu.

Hal tersebut pula yang ditegaskan Duta PBB untuk Lahan Kering, Dennis Philip Garity (6-9 Mei 2019) dalam courtesy meeting dengan pemerintah daerah yang dipimpin oleh Wakil Bupati Sumba Timur Umbu Lili Pekuwali.

“Cendana di Sumba adalah salah satu cendana terbaik di dunia, tapi kini tidak banyak cendana yang ditemui. Saya mendorong agar pemerintah mampu melihat pontensi ini dan meyakinkan masyarakat untuk melakukan penanaman cendana. Misalnya ada kebijakan dari pemerintah untuk menanam 50 -100 pohon per rumah tangga,” ujar Umbu.

Ihwal kedatangan Dennis ke Sumba Timur karena ia mendengar bahwa pulau Sumba merupakan daerah yang kering karena curah hujan yang terbatas (3-4 bulan) dan tanahnya berbatu, sehingga masyarakat sulit mengolahnya. Hal menarik lainnya yang yang ia mau saksikan ialah gerakan menghijaukan sabana, memelihara mata air serta pemanfaatan lahan untuk meningkatkan ekonomi petani dengan menanam pohon dan memelihara pepohonan liar dengan teknik palotang (bahasa Sumba Timur yang berarti merawat dan membersihkan).

Teknik palotang sudah diperkenalkan sejak tahun 2012 oleh pelopornya sendiri yakni Anthony Rinaudo, seorang pemerhati lingkungan berkebangsaan Australia. Dengan teknik yang ia sebut dengan Farmer Managed Natural Regeneration (FMNR) atau palotang ini, Tony bersama masyarakat di Nigeria, Afrika Barat berhasil menghijaukan lahan seluas 6 juta hektare.

Hingga kini, kegiatan palotang masih berlangsung di masyarakat di 9 desa di Kecamatan Haharu yakni Desa Kalamba, Praibakul, Rambangaru, Kadahang, Wunga, Napu, Prailangina, Mbatapuhu dan Matawai Pandangu. Sebulan sekali, masyarakat di desa tersebut berkumpul untuk merawat pohon-pohon di sekitar mata air atau padang. Kegiatan palotang ini mendapat pendampingan dan dukungan dari proyek Indonesian Rural Economic Development (IRED) yang diinisiasi oleh Wahana Visi Indonesia Area Program Sumba Timur dengan dukungan dana dari pemerintah Australia.

Setelah mengunjungi lima desa, Dennis menyimpulkan bahwa gerakan palotang sudah semestinya mendapat dukungan penuh dari pemerintah dan semua pihak, sehingga masalah-masalah yang ditimbulkan oleh kekeringan seperti kekurangan air bersih, kegagalan panen, kebakaran padang, dan kelaparan dapat teratasi. Berdasarkan pengamatannya selama kunjungan di desa, penanaman pohon gamal dan lamtoro serta perawatan pohon liar di daerah sabana akan meningkatkan volume tanah (yang semula tipis karena bebatuan), sehingga bisa digunakan untuk lahan pertanian yang subur. Ditambah lagi, ia memberikan saran untuk menanam mangga sebab mangga merupakan salah satu tanaman yang cocok untuk wilayah kering.

Selain itu, Denis turut membandingkan pula kunjungannya ke berbagai wilayah kering lainnya di dunia. Menurutnya, Sumba Timur masih memiliki banyak potensi yang bagus untuk dikembangkan, salah satunya yakni lahannya yang luas. Ia mengomentari pula, aktivitas pembakaran sabana yang merugikan lingkungan yang kerap terjadi di Sumba Timur.

“Pembakaran sabana dengan alasan cadangan pakan ternak terbatas mampu diatasi dengan penyediaan bank pakan ternak yang bisa disediakan dengan melakukan palotang di semua desa,” ungkapnya.

Menanggapi penjabaran Duta Besar PBB untuk Lahan Kering tersebut, Wakil Bupati Sumba Timur Umbu Lili Pekuwali mengungkapkan rasa terima kasihnya atas masukan dan kerjasama yang telah terjalin.

“Pemerintah daerah selama ini juga sudah bekerja sama dengan baik dengan Wahana Visi Indonesia dan terus pula mendukung kegiatan palotang di desa-desa dampingan WVI. Bersama Dinas Lingkungan Hidup, kita juga sudah membentuk Masyarakat Peduli Api,” jelas Umbu.

Selanjutnya, ia berharap program IRED dapat terus berlanjut. Terlebih keberhasilan dari kegiatan palotang yang sudah mulai menampakkan hasil dalam mengubah lahan tandus menjadi subur.

 

Ditulis oleh: Uliyasi Simanjuntak, staf Area Program Sumba Timur Wahana Visi Indonesia

Artikel Terkait

11 Jun 2019

Komitmen Mewujudkan Gereja Ramah Anak di Sumba

Komitmen Mewujudkan Gereja Ramah Anak di Sumba

Sosoknya yang besar seakan seimbang dengan tanggung jawabnya yang diembannya sebagai pendeta di…

28 May 2019

Mengaliri Kehidupan Desa

Mengaliri Kehidupan Desa

Pemandangan dari Bukit Desa Mbatapuhu adalah pemandangan yang paling dicari para pemburu foto…

15 May 2019

Meningkatkan Panen Jagung dengan ‘Jalur Ganda’

Meningkatkan Panen Jagung dengan ‘Jalur Ganda’

Tahukah Anda? Bila di dalam satu keluarga mengonsumsi jagung setiap hari, maka diperlukan…

Ikuti Kami

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • Youtube