BERITA & CERITA

Kebun Gizi Solusi Terbaik untuk Pangan Keluarga

30 Aug 2019

Sisilia di kebunnya. Setelah menanam sayuran di kebunnya, kini Sisilia mendapatkan banyak manfaat.

Asmat Hope - Perjuangan untuk mengonsumsi sayur segar oleh masyarakat Asmat pada umumnya dan Kampung Damen khususnya, merupakan hal yang sangat sulit. Kondisi tanah yang berawa dengan tingkat keasaman yang tinggi membuat sayuran sulit untuk tumbuh dengan baik. Masyarakat yang kebanyakan tinggal di area pinggir sungai pun masih sulit untuk melakukan kebiasaan berkebun.  

Sumber sayuran yang dijual di pasar wilayah Agats, ibu kota Kabupaten Asmat, merupakan sayur dari luar kota Agats, seperti Timika, Merauke. Sumber yang jauh membuat harga sayur menjadi tidak bersahabat

Mama Sisilia (35) berkata, “Kami orang Asmat dari dulu hidup dari alam. Jadi alam ini yang memberi kami kehidupan, tetapi sekarang ini orang tidak mau lagi pergi ke befak (pondok) untuk pangkul sagu (potong dan ambil sagu). Tanah kami ini luas kami bisa kerja apa saja, tanam apa saja pasti tumbuh yang penting kita coba dulu untuk menanamnya,” ujarnya.  

Wanita dengan kebun sayur seluas 30 meter di belakang rumahnya ini telah menanam sayur sawi, kacang panjang, buncis, petatas, kangkung cabut, gambas dan ubi kayu. Menurutnya, pasca mendapatkan pendampingan dari Wahana Visi Indonesia, dirinya mendapatkan pengetahuan baru.  

“Memang dulu kami tanam saja begitu, ketika air naik dan merendam semua sayur akhirnya sayur mati. Tetapi sekarang tidak lagi, kakak WVI datang ajar kita tanam sayur supaya kalau air naik tidak lagi kena di bibit sayur, ini saya punya sayur sudah bertumbuh dengan baik,” tambahnya.  

Mama Sisilia mengaku dirinya membuat kebun tersebut agar anak-anaknya kelak bisa menikmati sayuran, sehingga mereka bisa tumbuh dengan sehat dan bahagia. Selain itu, dirinya akan menjual sayuran tersebut guna keperluan biaya sekolah anak-anaknya kelak.  

Tak hanya Mama Sisilia, semangat yang sama juga dimiliki Wartelus (50). Kini ia dan istrinya telah rajin menanam sayur dan mendapatkan penghasilan dari hasil menanam tersebut. Wartelus sudah memiliki kebun seluas 50 meter, pohon-pohon yang tumbuh di belakang rumahnya sudah ia bersihkan untuk jadikan kebun. Saat ini sayurnya sudah mulai bertumbuh dengan baik.

“Saya dan mama (istri Wartelus) kerja sama-sama, anak-anak juga ikut bantu kerja di kebun. Kalau kita kerja sama pasti cepat selesai,” terangnya.

Perlu diketahui bahwa budaya orang Asmat, perempuan merupakan tulang punggung keluarga  mencari makan untuk kebutuhan keluarga, akan tetapi bagi bapak yang memiliki lima orang anak memiliki perspektif yang berbeda.

“Bukan hanya Mama yang butuh makan, kita semua butuh makan, jadi kita harus kerja sama-sama,” pungkasnya.

 

Ditulis oleh: Solfrimus Dasman, Health Coordinator Asmat HOPE Wahana Visi Indonesia

 

 

Artikel Terkait

17 Mar 2020

Sepatu Baru untuk Anak-anak Asmat

Sepatu Baru untuk Anak-anak Asmat

Bersekolah bukanlah prioritas bagi sebagian keluarga di Kampung Damen, Kabupaten Asmat, Papua. Orang…

13 Mar 2020

Makanan Bergizi Demi Anak Sehat

Makanan Bergizi Demi Anak Sehat

Siang itu Jemi Bakper dan Yustina Kanakaimu melangkah menuju tempat para orang tua…

03 Mar 2020

Cerita Anak: Forum Anak Kami Semakin Baik

Cerita Anak: Forum Anak Kami Semakin Baik

Nama saya Iqbal, umur saya 17 tahun. Saya adalah ketua salah satu forum…

Ikuti Kami

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • Youtube