DARI LAPANGAN

Kehilangan Anak Dorong Jadi Kader MTBSM

10 Apr 2018

Kehilangan anak bukanlah hal yang mudah. Namun lewat kejadian itu, Desi berani untuk menjadi kader MTBSM

Desi (31) tidak menyangka saat Bapak Kepala Desa memilihnya menjadi Kader Manajemen Terpadu Balita Sakit Berbasis Masyarakat (MTBSM). Padahal, ia hanya menempuh pendidikan hingga tingkat Sekolah Dasar (SD). Awalnya rasa tidak percaya diri menghantuinya, tapi mengenang kembali anaknya yang meninggal saat usia 1 bulan, hanya dikarenakan batuk dan terlambat mendapat penanganan medis, itulah yang menjadi alasan utama Desi kemudian bersedia melayani sebagai Kader MTBSM.

Manajemen Terpadu Balita Sakit Berbasis Masyarakat (MTBSM) adalah program Wahana Visi Indonesia untuk mengatasi permasalahan kesehatan, dimana banyak anak yang terlambat mendapat penanganan medis karena jarak dari rumah dan fasilitas kesehatan yang terlalu jauh. Beberapa warga dipilih untuk menjadi Kader, yang kemudian dilatih oleh Dinas Kesehatan untuk dapat melakukan tindakan awal pencegahan terhadap penyakit ringan yang bisa ditolong segera, seperti diare, demam, sebelum dirujuk ke rumah sakit. Mereka juga diperlengkapi dengan obat-obatan untuk diberikan kepada pasien.

“Saya ingin melihat anak-anak sehat di kampung kami. Saya tidak mau anak-anak lain bernasib sama seperti anak saya yang harus pergi hanya karena penyakit batuk,” ujarnya.

Selama menjadi kader, banyak suka duka yang dilakukan Desi. Cukup banyak orang tua yang masih terlambat memberi informasi dan lambat memberikan penanganan karena ketidaktahuan mereka. Ada pula yang kemudian menyalahkan Desi saat anaknya meninggal di Rumah Sakit. Akan tetapi, sejak menjadi kader MTBSM, telah ada 26 anak yang sembuh dan kembali sehat karena penanganan cepat darinya. Hal inilah yang kemudian membuat Desi tetap terus semangat melayani menjadi Kader MTBSM.

“Sampai saat ini, saya belum merasakan kesulitan menjadi kader. Banyak pelatihan dan informasi yang diberikan oleh Dinas Kesehatan dan Wahana Visi Indonesia. Sekalipun sampai malam, saya masih tetap melayani,” jelasnya.

 

Ditulis oleh Yuventa, Marketing Komunikasi Wahana Visi Indonesia

Artikel Terkait

20 Jul 2018

#ResponsAsmat Sistem Rujukan Anak Sakit Selamatkan Petronela

#ResponsAsmat Sistem Rujukan Anak Sakit Selamatkan Petronela

#ResponsAsmat - Tersisia (26) berkali-kali melongok ke luar pintu menunggu kedatangan…

17 Jul 2018

Pelatihan PMBA yang Memberikan Harapan Baru

Pelatihan PMBA yang Memberikan Harapan Baru

Wahana Visi Indonesia (WVI) Area Program Sekadau mulai melakukan proyek model PMBA (Pemberian…

16 Jul 2018

Desa Bokong Tidak Lagi Tertinggal

Desa Bokong Tidak Lagi Tertinggal

Dalam upaya peningkatan kualitas layanan kesehatan dasar bagi masyarakat, Wahana Visi Indonesia (WVI)…

Ikuti Kami

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • Youtube