BERITA & CERITA

Komitmen Mewujudkan Gereja Ramah Anak di Sumba

11 Jun 2019

Pendeta Apris saat sedang berkotbah dalam kebaktian Minggu di GKS Manubara

Sosoknya yang besar seakan seimbang dengan tanggung jawabnya yang diembannya sebagai pendeta di GKS Manubara. Sudah lebih dari 3 tahun ia memimpin jemaat di gereja tersebut. Perlahan-lahan perubahan mulai tampak. Juni lalu, dengan pasti dan berani, ia, segenap majelis, dan jemaat meluncurkan gerakan menuju Gereja Ramah Anak (GRA). Beliau adalah Aprianus Meta Djangga Uma (36) yang akrab disapa Pendeta Apris.

Bagaimana hingga akhirnya GKS Manubara mengadopsi gerakan GRA ini? Apa tantangan yang dihadapinya? Simak wawancara tim Wahana Visi Indoenesia (WVI) bersama Pendeta Apris yang juga penggemar nasi goreng dan bakso ini.

Apa yang menjadi latar belakang hingga akhirnya Anda memutuskan untuk bergabung dalam gerakan GRA?

Di Manubara ini, bisa dibilang hampir seperempat anak-anaknya lahir tanpa ayah akibat pergaulan bebas. Kasus KDRT (Kekerasan dalam Rumah Tangga )nya pun tinggi. Banyak anak-anak yang bekerja menjadi pemulung, penjual garam, melelang sayur di jalan raya, yang bisa mengancam jiwa mereka.

Belum lagi sanitasi yang tidak bagus. Apalagi Manubara ini merupakan tempat pembuangan sampah terakhir. April tahun lalu, 2 orang anak terkena tetanus dan meninggal.

Masalah di kalangan orang dewasa juga banyak, seperti tingkat perselingkuhan yang tinggi, membuat lingkungan yang tidak nyaman bagi anak-anak. Akibatnya pergaulan bebas terus terjadi. Manubara ini sudah darurat HIV/AIDS juga karena sudah 3 orang penderitanya yang meninggal di sini. Mereka anak-anak yang tamatan SMA, lalu merantau ke Bali dan terlibat pergaulan bebas di sana.

Kemudian, kami juga mendapat pembekalan berupa pelatihan-pelatihan tentang sosialisasi Konvensi Hak Anak dan Undang-Undang Perlindungan Anak. Ada juga seminar tentang Gereja Ramah Anak dan Perlindungan Anak Berbasis Lintas Agama yang diselenggarakan oleh WVI bekerja sama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Ini juga yang menguatkan kami, pihak gereja untuk segera bergerak cepat dan bertindak.

Apa tanggapan orang tua saat ide gerakan GRA ini disosialisasikan di GKS Manubara?

Sebenarnya gereja ini pun, sejak di bangun tahun 1980 memang diperuntukkan untuk sekolah minggu saja. Nah, dengan adanya GRA ini, kita seperti mengembalikan fungsi gereja ini ke awalnya. Tentu saja orang tua, majelis jemaat dan aktivis komisi yang ada di GKS Manubara sangat mendukung program ini.

Mereka berharap dengan adanya gerakan ini, anak-anak semakin diarahkan untuk melakukan hal-hal yang positif bagi masa depan mereka. Orang tua juga mulai menyadari bahwa mendidik anak adalah tugas dan tanggung jawab yang harus dilakukan oleh orang tua.

Apa perubahan yang terjadi sejak gerakan menuju GRA dicetuskan di GKS Manubara?

Jumlah anak yang berusia di bawah 18 tahun ada 210 orang. Jadi, kita berusaha mengikut sertakan mereka dalam setiap kegiatan yang dilakukan gereja, seperti;

  1. Meningkatkan dan mengembangkan PAUD (pendidikan Anak Usia Dini) yang saat ini telah berjalan 3 tahun.
  2. Mengembangan kurikulum anak melalui modul SuperBook. Jadi anak-anak lebih mudah mengenal tokoh-tokoh Alkitab. Kegiatan pun menjadi lebih seru karena dilengkapi dengan gerak, tari dan puji-pujian serta menghafal ayat (Jumat Ceria).
  3. Mengembangan kegiatan ekstrakurikuler (menari, menyanyi, bermain sepak bola).
  4. Mengembangan sekolah minggu dengan menambah jam kebaktian anak yakni di pagi hari pukul 09.00 dan sore hari pukul 16.00. Selain itu ada penambahan 1 tempat kebaktian di wilayah Pamalala (Pakamburung).
  5. Mengaktifkan dan melibatkan anak dalam pelayanan atau ibadah di kebaktian umum.
  6. Mengadakan bazar kreatif dengan mengembangkan talenta anak melalui lomba menyanyi, cerdas cermat Alkitab, cerdas cermat kebangsaan dan lomba bayi sehat.
  7. Membentuk forum anak.
  8. Membagikan Alkitab untuk anak.

Apa tantangan mewujudkan GRA sejauh ini?

Rendahnya motivasi para volunteer (sukarelawan) untuk mendampingi anak. Saya pikir hal ini sudah semestinya menjadi perjuangan semua pihak. Kemudian, kebiasaan buruk yang masih sulit diubah seperti masih saja yang melakukan kekerasan fisik dan verbal di kalangan jemaat.

Cara menghadapi tantangan tersebut?

Tetap terus mendorong mereka untuk tetap semangat, tidak menyerah dan terus bertahan. Saya sendiri juga harus menjaga komitmen itu dengan selalu mengingat bahwa kita harus tunduk pada kehendak Tuhan. Hayati apa yang Tuhan inginkan bagi anak. Tanamkan dalam hati kita masing-masing bahwa hatinya Tuhan itu selalu terpaut kepada anak.

Seberapa optimis cita-cita GKS Manubara menuju GRA bisa diraih?

Harapan kami, sejak program ini dilaunching pada 9 Juni 2018, saat HUT GKS Manubara yang Ke-2 maka pada Desember 2019 kami sudah bisa memenuhi 7 indikator GRA. (indikator GRA yakni (1) adanya kebijakan perlindungan anak di gereja/sinode, (2) adanya anggaran yang memadai untuk bidang anak (minimal 20%), (3) adanya kelompok/forum anak di gereja yang dilibatkan dalam pengambilan keputusan, (4) adanya sistem perlindungan anak yang berbasiskan gereja dan (5) adanya sumber daya gereja untuk melindungi anak yang berhadapan dengan persoalan hukum. (6) Tersedianya PAUD yang diintegrasikan di sekolah minggu. (7) Adanya program pengasuhan anak di era digital yang holistik di gereja

Apa pesan bagi gereja-gereja lainnya di Sumba?

Semoga gereja-gereja yang lain juga dapat mengembangkan GRA dengan memulai langkah-langkah kecil sesuai dengan potensi yang gerejanya miliki. Sampai saat ini, GKS Tanaraing juga sudah mau untuk terlibat dalam gerakan GRA ini.

 

Ditulis Oleh: Uliyasi Simanjuntak, Staf Area Program Sumba Timur Wahana Visi Indonesia

Artikel Terkait

12 Jun 2019

Duta Besar PBB Lakukan Kunjungan ke Proyek IRED Sumba Timur

Duta Besar PBB Lakukan Kunjungan ke Proyek IRED Sumba Timur

Semua orang di Sumba Timur pasti mengenal pohon cendana. Pohon ini begitu popular…

28 May 2019

Mengaliri Kehidupan Desa

Mengaliri Kehidupan Desa

Pemandangan dari Bukit Desa Mbatapuhu adalah pemandangan yang paling dicari para pemburu foto…

15 May 2019

Meningkatkan Panen Jagung dengan ‘Jalur Ganda’

Meningkatkan Panen Jagung dengan ‘Jalur Ganda’

Tahukah Anda? Bila di dalam satu keluarga mengonsumsi jagung setiap hari, maka diperlukan…

Ikuti Kami

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • Youtube