BERITA & CERITA

Lukas Sang Juru Kunci Air Bersih

23 Aug 2019

Lukas datang setiap hari untuk membuka tempat penampungan air hujan, sehingga masyarakat bisa mengambil air untuk kebutuhan mereka

Asmat Hope - Setelah Kejadian Luar Biasa (KLB) campak dan gizi buruk di Kabupaten Asmat, Papua tahun 2018, Wahana Visi Indonesia (WVI) bekerja sama dengan Keuskupan Agats mendampingi masyarakat di dua distrik, Distrik Sirets dan Distrik Jetsy. WVI memfokuskan pelayanan pada program pelayanan kesehatan ibu dan anak serta program sanitasi total berbasis masyarakat. Membangun tempat penampungan air hujan (PAH) dan wc percontohan adalah beberapa hal yang dilakukan WVI bersama masyarakat di sana. 

Kampung Damen adalah salah satu tempat dimana WVI hadir. Masyarakat di Kampung Damen, sangat sulit mendapatkan air bersih. Satu-satunya sumber air bersih yang bisa digunakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat di sana adalah dari air hujan.

Saat ini PAH sudah bisa diakses dengan baik oleh masyarakat. Guna mengatur pengambilan air ini dan atas kesepakatan bersama masyarakat dengan Pastor Paroki maka ditunjuklah Lukas Opum, atau biasa disapa tete (kakek) Lukas yang juga sebagai pengurus dewan gereja untuk memegang kunci.  

“Kalau pagi, jam enam saya sudah membuka air sampai dengan jam sembilan pagi. Masyarakat bisa ambil air, lalu saya tutup dan jam empat sore baru dibuka lagi. Begitu terus setiap hari, supaya air ini tidak cepat habis dan anak-anak kecil mereka tidak main-main air sembarang, karena air ini cukup untuk minum saja, kalau mandi dan mencuci bisa di kali,” jelas tete Lukas.

Mama Theresia salah satu keluarga yang tiap pagi mengambil air di PAH merasa senang dengan adanya penampungan ini.

“Selama ini kami sekeluarga ambil air minum, mandi dan mencuci semuanya di kali. Tetapi sekarang sudah tidak lagi mengambil air untuk minum di kali. Timba air untuk minum di sini saja,” terangnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Mama Martina, ia dan keluarganya sangat senang ketika adanya penampungan air hujan ini. Mama Martina merasa sangat terbantu mengingat lokasi rumahnya yang jauh dan membuatnya sulit untuk mendapatkan air bersih. Kehadiran PAH membuat hidupnya sedikit jauh lebih mudah dari sebelumnya.

“Saya timba air di sini setiap pagi dan kalau ini habis nanti sore lagi datang timba air. Anak saya biasa bantu saya timba air di sini,” jelasnya tersenyum.

   

 

Ditulis oleh: Solfriamus Dasman, FO Asmat Hope Wahana Visi Indonesia

 

Artikel Terkait

13 Sep 2019

100 Balita Meriahkan Pekan ASI di Pedalaman Asmat

100 Balita Meriahkan Pekan ASI di Pedalaman Asmat

Pekan ASI Sedunia yang dirayakan pada minggu pertama bulan Agustus setiap tahunnya, merupakan…

06 Sep 2019

Anak Sikka Lakukan Karnaval Demi Bebas dari Kekerasan

Anak Sikka Lakukan Karnaval Demi Bebas dari Kekerasan

Bersamaan dengan perayaan kemerdekaan Republik Indonesia, Agustus 2019 lalu, Wahana Visi Indonesia (WVI)…

02 Sep 2019

Optimis Menuju Desa Tanpa Budaya BAB Sembarangan

Optimis Menuju Desa Tanpa Budaya BAB Sembarangan

Sekretaris Desa Merapi Umar (49) adalah seorang yang sangat pro terhadap kehidupan anak…

Ikuti Kami

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • Youtube