BERITA & CERITA

Makan Sayur Sudah Jadi Biasa

03 Oct 2019

Nonong bersama putra semata wayangnya di kebun gizi miliknya

Hampir setiap ibu khawatir jika anaknya tidak suka mengonsumsi sayuran. Sama seperti  Nonong (40), seorang ibu yang sangat kawatir karena anak satu-satunya sangat susah untuk memakan sayur. Namun, hal yang dikawatirkannya berangsur-angsur berubah sejak Wahana Visi Indonesia (WVI) melakukan pelatihan untuk membuat kebun gizi di Desa Lubuk Tajau, Kabupaten Sekadau.

Sebelumnya, sebagian besar masyarakat di Desa Lubuk Tajau membeli sayuran dari penjual sayuran keliling, sehingga para ibu pasti akan mengeluarkan uang untuk membeli sayur, dimana harga sayuran tersebut tergolong lebih mahal jika dibandingkan dibeli di kota. Selain itu anak mereka belum tentu suka makan sayur yang dibeli di tukang sayur keliling.

Melihat kondisi tersebut, WVI Area Program Sekadau bekerja sama dengan Petugas Penyuluh Lapangan untuk melakukan pelatihan kebun gizi. Banyak hal yang orang tua dapatkan dalam pelatihan ini seperti bagaimana cara menanam, jarak yang baik antar tanaman, cara membuat pupuk organik, jam siram tanaman yang tepat, dan masih banyak lagi.

Setelah pelatihan yang didapatkan, Nonong langsung melakukan seperti yang dilatih oleh fasilitator kebun gizi. Semua dilakukannya sesuai dengan yang diajarkan.

Akhirnya perjuangan dan usaha yang dilakukan Nonong membuahkan hasil yang baik. Dalam satu bulan, bahkan Nonong bisa memetik panen sebanyak tiga kali. Tanaman miliknya sangat subur. Pemerintah desa pun terkadang datang meminta sayur untuk dikonsumsi.

Selain itu, penjual sayur keliling juga sudah menawarkan untuk membeli semua sayuran ibu yang suka memasak ini. Namun, Nonong tidak menjual sayurannya.

“Saya tidak menjual karena kalau saya jual saya harus beli sayur lagi untuk keluarga saya. Dan kalau tanaman sendiri itu lebih segar karena mau masak baru dipetik,” jelasnya.

Lebih dari itu semua, salah satu kebahagiaan Nonong adalah anak satu-satunya sudah mau memakan sayur yang dibuatnya.

“Dahulu anak saya susah makan sayur. Sekarang dia sangat suka makan bayam merah, karena ketika mencampurkan bayam merah dengan nasi, maka nasinya juga menjadi warna merah sehingga anak saya suka memakannya,” ujarnya wanita penyuka keripik ubi ini dengan bersemangat.

“Saya sangat senang ada hasil dari keringat saya. Bangun pagi-pagi langsung melihat tanaman hijau, menyiram sayuran dengan hati sukacita. Terima kasih kepada Wahana Visi Indonesia dan para fasilitator yang selalu mendampingi kami walau panas terik tetap mendampingi kami dalam penanaman bibit sayur,” tambahnya.

Nonong masih berharap para ibu di desanya pun melakukan hal yang sama. Ia masih bermimpi agar para ibu lainnya juga memiliki tanaman sayuran, sehingga bisa memberikan sayuran segar kepada anak-anaknya.

“Selain itu juga saya berharap agar ada pelatihan mengolah makanan yang sehat dan menarik bagi anak,” pungkasnya.  

 

Ditulis oleh: Herna Sinulingga, Community Development Coordinator Area Program Sekadau Wahana Visi Indonesia

 

Artikel Terkait

13 Feb 2020

Ribuan Anak Terima Manfaat Respons Papua

Ribuan Anak Terima Manfaat Respons Papua

Kabupaten Wamena sempat dirundung kesedihan pada September 2019 lalu. Kerusuhan yang terjadi di…

11 Feb 2020

Perkataan Membangun yang Membawaku ke Luar Negeri

Perkataan Membangun yang Membawaku ke Luar Negeri

Program Sponsor Anak - Tingginya angka penderita HIV/AIDS di Provinsi Papua…

07 Feb 2020

Kontribusi Pemerintah Daerah Bagi Pembentukan Forum Anak di Sambas

Kontribusi Pemerintah Daerah Bagi Pembentukan Forum Anak di Sambas

Memasuki tahun ke-12 melayani di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, Wahana Visi Indonesia (WVI)…

Ikuti Kami

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • Youtube