BERITA & CERITA

Membentuk Karakter Anak dari Sekolah

15 Jan 2019

Sigit percaya bahwa setiap anak Merauke memiliki potensi.

Merauke adalah wilayah terujung negara Indonesia. Letaknya yang jauh terletak dari Jakarta, Indonesia membuat perkembangan wilayah Merauke sedikit terlambat apalagi bagi mereka yang tinggal di pedalaman Merauke. Untuk menyejahterakan pembangunan di wilayah ini butuh orang-orang yang berani dan berjiwa besar. Salah satunya adalah Sigit Utomo (37) seorang guru yang mengabdi di SMP Negeri Urumb yang terletak di ujung Merauke.

Sigit Utomo sudah beberapa tahun terakhir mengajar pelajaran IPA di SMP Negeri Urumb. Tekad Sigit mengajar adalah membuat anak didiknya menjadi pintar dan terampil. Niat Sigit ini tentu tidak mudah karena ada banyak kendala yang harus ia hadapi sebagai tenaga pengajar.

“Awal saya mengajar, saya kaget karena jumlah siswa yang hadir tidak sebanyak jumlah siswa di absen saya. Kadang hanya beberapa orang murid saja,” cerita Sigit.

Jarak rumah yang jauh, kurangnya sosialisasi tentang pentingnya pendidikan serta lingkungan sekolah yang tidak mendukung, menurut Sigit menjadi kendala terbesar bagi anak-anak untuk dating ke sekolah.

Sigit bersama guru-guru lain sempat kewalahan dengan kondisi ini. Namun semuanya berubah sejak Wahana Visi Indonesia (WVI) mulai mendampingi SMP Urumb lewat program Sekolah Ramah Anak (SRA).

“Kami mendapat pendampingan dan mulai menerapkan SRA. SRA ini membuat anak-anak lebih rajin ke sekolah. Dengan SRA, anak-anak lebih menghargai dan merawat lingkungan mereka,” lanjut Sigit, “SRA juga membuat anak-anak rajin datang ke sekolah karena suasana belajar mengajar di kelas semakin menyenangkan.”

Salah satu metode yang diterapkan Sigit dan guru-guru lain di SMP Urumb adalah praktik Sekolah Hijau dengan pengadaan jam kebersihan di sekolah setiap jam 6.30 pagi. Setelah jam kebersihan, murid-murid dan guru di sekolah mengikuti upacara bendera sehingga rasa nasionalisme tetap tumbuh.

Bagi para guru, WVI juga mengadakan pendampingan tentang SRA sehingga guru bisa memiliki komunikasi yang baik saat mengajar murid-murid di kelas.

“Kami berterima kasih kepada WVI karena dengan pendampingan ini, kami mengerti bahwa tidak ada anak-anak yang nakal karena mereka hanya belum menemukan potensi mereka. Tugas kita sebagai guru adalah mendidik dan mendampingi mereka,” pungkas guru berkacamata tersebut.

 

Ditulis oleh Rena Tanjung, Field Communications Officer, Wahana Visi Indonesia

Artikel Terkait

23 May 2019

Ketika Mobil Sahabat Anak Berperan Bagi Sentani

Ketika Mobil Sahabat Anak Berperan Bagi Sentani

Sudah lebih dari tiga minggu, Mobil Sahabat Anak (MSA) menjadi sahabat bagi anak-anak…

06 May 2019

Bencana yang Membawa 'Berkah' Kemitraan

Bencana yang Membawa 'Berkah' Kemitraan

#PeduliSentani - 16 Maret 2019, Kabupaten Jayapura di Provinsi Papua seketika menjadi…

22 Apr 2019

Lebih dari 1.200 Anak di Sentani Telah Mengikuti Aktivitas Ruang Sahabat Anak

Lebih dari 1.200 Anak di Sentani Telah Mengikuti Aktivitas Ruang Sahabat Anak

#PeduliSentani – Meskipun berada di posko-posko evakuasi, anak-anak terdampak banjir Sentani,…

Ikuti Kami

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • Youtube