DARI LAPANGAN

Mencegah Penyakit Tidak Menular (PTM) dengan Gaya Hidup Sehat

30 Nov, 2017

dr. Lily S. Sulistyowti dan dr. Fiastuti Witjaksono,M.S, SpGK saat memberikan penjelasan terkait risiko Penyakit Tidak Menular dalam acara BRAND'S Health Award 2017

Masyarakat yang sehat merupakan aset yang sangat penting bagi suatu bangsa. Harapan akan munculnya generasi bangsa yang berkualitas bisa dimulai dengan menerapkan gaya hidup sehat di dalam keluarga.

Gaya hidup sehat bisa mencegah hadirnya berbagai penyakit tidak menular (PTM) seperti jantung, stroke dan kencing manis. Meskipun tidak menular, ketiga penyakit ini dikategorikan sebagai lima penyakit yang banyak terjadi di Indonesia.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dr. Lily S. Sulistyowti, MM menyebutkan, PTM di Indonesia memiliki proporsi lebih besar di pelayanan kesehatan dan semakin meningkat di masyarakat dengan usia muda. Bahkan, 7 dari 10 penyebab kematian utama saat ini berasal dari PTM.

BACA JUGA : MENYEBARKAN BIBIT POLA PENGASUHAN YANG BAIK

Faktanya, hanya 30 persen penderita PTM yang terdeteksi. Namun, dari jumlah tersebut hanya 30 persen penderita yang melakukan pengobatan. Sisa dari jumlah tersebut terdiagnosa pasca serangan penyakit terjadi.

World Health Organization (WHO) menyebutkan, 51 persen penyebab kematian di dunia adalah stroke. Sedangkan, 45 persen lainnya adalah jantung. Meski tak menular, kedua penyakit ini disebut juga sebagai silent killer (pembunuh dalam diam).

Seiring dengan fenomena tersebut, melalui INPRES No.1 Tahun 2017, pemerintah telah menerapkan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat. Gerakan ini merupakan suatu tindakan yang melibatkan masyarakat untuk berperilaku hidup sehat.

Tindakan tersebut meliputi kegiatan seperti; tidak merokok, melakukan aktivitas fisik, mengonsumsi sayur dan buah, tidak mengonsumsi alkohol, memeriksa kesehatan secara rutin, membersihkan lingkungan dan menggunakan jamban.

Selain Gerakan Masyarakat Hidup Sehat, menurut dr. Fiastuti Witjaksono,M.S, SpGK selaku Ketua Departemen Ilmu Gizi FKUI, masyarakat juga harus mulai untuk membiasakan mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang sekaligus menjadikannya sebagai suatu kebutuhan.

“Kebiasaan makan dengan gizi seimbang yang semula adalah pilihan, lama-kelaman menjadi kebiasaan dan tanpa disadari menjadi gaya hidup,” jelasnya.

Dirinya menambahkan, masyarakat dengan usia produktif (18-35 tahun) adalah mereka yang harus menjaga pola makan seimbang. Hal ini sangat penting mengingat tingginya tingkat kesibukan, terutama bagi masyarakat di perkotaan.

Menurutnya, bijaksana dalam mengaji informasi kesehatan, mengonsumsi buah dan sayuran dalam 4-5 porsi per hari serta rutin melakukan olahraga bisa menurunkan angka kematian akibat PTM.  

 

Ditulis oleh Putri ianne Barus, Field Communication Officer Wahana Visi Indonesia