BERITA & CERITA

Menghidupkan Tanah Gersang Sekolah

09 Aug 2019

Anak-anak saat membuat lubang tanam di halaman sekolah

Botol air mineral bekas yang berisi air terikat di tiap pohon yang tertanam di halaman SLTP N Satap Napu, Sumba Timur. Ini adalah salah satu cara yang dilakukan oleh para siswa di sekolah tersebut untuk menjaga agar pohon yang mereka tanam tetap lembap dan bertahan di tengah kondisi Desa Napu yang panas dan jarang hujan ini.

Petrus Mila Mau (34), Guru Bagian Kesiswaan di sekolah ini adalah seseorang yang mendorong anak didiknya melakukan usaha menghijaukan halaman sekolah. Kegiatan ini sudah dimulai sejak November 2018 yakni dengan membuat lubang tanam.

“Ada 105 lubang tanam yang kita buat, sesuai dengan jumlah siswa yang ada di sini. Pembuatan lubang tanam ini memerlukan waktu dua bulan dan dikerjakan di waktu sore, sehingga tidak memberatkan para siswa. Satu siswa bertanggung jawab pada satu lubang tanam,” tuturnya.

Tak hanya para siswa, Petrus juga menggali satu lubang tanam untuk pohon miliknya sendiri di sekolah tersebut.

Merespons kegiatan tersebut, seorang siswa, Beni (14) menyebutkan bahwa dirinya akan tetap semangat merawat pohon yang ia tanam karena ia sudah menggali lubang tanam untuk pohonnya dengan tekun.

“Kami juga menebar pupuk kandang dan pupuk daun di lubang tanam. Untuk pengadaan anakan, saya menghubungi pihak IRED (Indonesian Rural Economic Development .red) progam,” imbuhnya.

Proyek IRED Wahana Visi Indonesia (WVI) di Sumba Timur bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup dalam mendistribusikan anakan sakura Sumba, kelor, mahoni, dan labung (pohon lokal) ke SLTP N SATAP Napu. Awal Desember 2018 lalu semua pohon sudah ditanam.

Perawatan terhadap pohon-pohon tersebut terus dilakukan oleh para siswa dengan membersihkan dari gulma dan menutupi pangkal pohonya dengan rumput yang telah dibersihkan (mulsa). Tujuan pemberian mulsa agar pangkal pohon tetap dingin, sehingga matahari yang terik tidak terlalu menembus pangkal pohon tanaman.

“Saya bangga dengan setiap perjuangan anak-anak. Mereka tidak lagi harus dikomando tetapi telah menyadari perannya dalam merawat pohon yang mereka tanam. Mereka sekarang saling berlomba dengan kawan-kawannya untuk memelihara tanamannya sampai tumbuh besar. Saat ini tanaman kelor ada yang sudah mencapai 1 meter, begitu pula dengan tanaman sakura Sumba,” ungkap Petrus bersemangat.

Petrus berharap bila pohon-pohon tersebut sudah besar, anak-anak bisa bermain dengan leluas di bawah pohon yang sejuk.

Banyak pihak yang mendukung inisiasi penghijauan lokasi sekolah ini, salah satunya ialah May Ataronu selaku Penyuluh Swadaya (PS) Desa Napu Rambu. PS yang berprofesi sebagai guru ini mengajarkan kepada anak didiknya cara menanam pohon dan teknik memelihara tanaman yang baik.

Aksi ini mendapatkan apreasiasi dari Camat Haharu, Hina Ndujurmana (61). Dalam kunjungannya ke SLTP Satap Napu ia mengapresiasi inisiasi penanaman pohon dan mengatakan bahwa SLTP Satap Napu layak menjadi contoh bagi sekolah lainnya.

 

Ditulis oleh: Darmo Umbu Wunda, Fasilitator Pengembangan Proyek IRED Wahana Visi Indonesia

Artikel Terkait

30 Jul 2019

Menjangkau Jiwa untuk Kelola Lahan Secara Organik

Menjangkau Jiwa untuk Kelola Lahan Secara Organik

Tangannya cekatan membersihkan rumput-rumput yang mulai tumbuh degan subur di antara tanaman terung…

25 Jul 2019

FOTO: WVI Sumba Timur Rayakan HAN 2019 dengan Kasih Sayang

FOTO: WVI Sumba Timur Rayakan HAN 2019 dengan Kasih Sayang

Sumba Timur merupakan kabupaten di NTT yang menerima pelaporan kasus kekerasan tertinggi terhadap…

23 Jul 2019

Kembali ke Indonesia, Oslin Terima Penghargaan di Hari Anak Nasional 2019

Kembali ke Indonesia, Oslin Terima Penghargaan di Hari Anak Nasional 2019

Roslinda (14), yang kerap disapa Oslin, merupakan perwakilan anak Indonesia asal Desa Kombapari,…

Ikuti Kami

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • Youtube