DARI LAPANGAN

Menjadi Orang Tua dari Anak Berkebutuhan Khusus Bukanlah Masalah Besar

8 hari yang lalu

Zahro merasakan perubahan yang luar biasa dengan bergabung bersama kelompok Anak Berkebutuhan Khusus

Menjadi orang tua tunggal tidaklah mudah. Bahkan, belum tentu setiap orang bisa melakukan peran ini. Menjadi ayah dan ibu harus dilakukan dalam waktu bersamaan, seperti menafkahi, mendidik dan merawat anak terkasih. Hal inilah yang dialami Zahro. Wanita ini harus merawat putranya, Moch. Zaelani (11 bulan) seorang diri.  

Si kecil Zaelani merupakan penyandang disabilitas Down Syndrome. Cukup lama Zahro merasakan kesusahan dan kesedihan karena harus membagi waktu untuk bekerja dan menjaga anaknya. Ia juga memiliki keterbatasan pengetahuan dalam merawat anak berkebutuhan khusus.

Kesedihan yang dialaminya beranjak sirna saat dirinya mendapatkan manfaat dari program child needy yang dilakukan oleh Wahana Visi Indonesia (WVI). Program ini adalah bagian dari revitalisasi usaha mikro untuk orang tua anak sponsor WVI/RC (Registered Children) yang benar-benar membutuhkan bantuan dalam mengelola usahanya.

BACA JUGA : CARA MENYEBARKAN POLA PENGASUHAN YANG BAIK

Zahro yang sebelumnya pernah berjualan jajanan kecil-kecilan memilih untuk menambah usahanya dengan membuka toko kecil yang menjual jajanan dan beberapa jenis kebutuhan pokok bagi masyarakat di sekitar tempat tinggalnya. Perlahan namun pasti, toko kecil beliau kemudian berkembang dan bisa menjadi penopang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Kebahagiaan pun mulai tumbuh dalam diri Zahro karena dalam satu waktu ia bisa mencurahkan waktu untuk merawat putranya sekaligus menjaga toko kecilnya.

“Kami merasa sangat beruntung dan bersyukur bisa dibantu memperbesar usaha oleh Wahana Visi, sekarang ini hasilnya bisa cukup buat makan dan hidup sehari-hari. Saya tidak bisa bayangkan jika ikut kerja orang lain terus siapa yang akan menjaga anak saya. Terimakasih Wahana Visi,” ujarnya.

Zahro dan putranya juga tergabung dengan kelompok anak berkebutuhan khusus (ABK) “Harapan Bunda” bentukan WVI bersama masyarakat. Didampingi kader wilayah, secara rutin setiap satu bulan sekali  Zahro beserta putranya menghadiri pertemuan kelompok ABK Harapan Bunda.

Zahro belajar banyak pengetahuan dasar bagaimana mendampingi dan merawat anak berkebutuhan khusus. Selain itu, dirinya juga mendapatkan pelajaran dari anggota lain tentang suka duka merawat anak berkebutuhan khusus melalui sharing pengalaman di tiap pertemuan.

Pasca bergabung dengan kelompok tersebut, Zahro merasakan dirinya tidak berjuang seorang diri. Ia melihat ada orang tua lainnya yang juga merasakan hal serupa dengannya. Ia berharap kelompok ABK ini terus ada karena beliau sudah banyak merasakan manfaatnya. Beliau juga berharap semakin banyak anak dan keluarga yang tertolong melalui kelompok ini baik yang sudah menjadi anggota maupun yang hendak berbung.

Hal senada juga disampaikan oleh Aminah, seorang kader wilayah yang secara rutin mendampingi dirinya.

“Sebagai kader masyarakat saya bisa melihat kondisi ibu Zahro dan keluarga yang kian membaik. Tentunya hal ini menjadi kebahagiaan baginya. Harapan saya semoga melalui kelompok ABK Harapan Bunda, orang tua bisa belajar mengenali potensi anaknya dan terus dimaksimalkan sehingga suatu saat anak bisa hidup mandiri,” jelasnya.

Kini kesusahan dan kesedihan yang pernah Zahro alami perlahan sirna. Bermodalkan usaha toko kecil yang beliau miliki saat ini serta pengetahuan dasar bagaimana mendampingi anak berkebutuhan khusus telah berbuah menjadi kebahagiaan, semangat, serta rasa sayang yang berlimpah untuk merawat putra kesayangannya.

 

Ditulis oleh Budi Hermawan, Sponsorship Information Officer Urban Surabaya Wahana Visi Indonesia