DARI LAPANGAN

Menjadi Pengajar Anak Bantu Kami Lebih Percaya Diri

08 Feb 2018

Suasana kelas PAUD di Desa Jono Oge, Kecamatan Sigi Biromaru, Sulawesi Tengah siang itu ramai diisi oleh puluhan anak yang tergabung dalam Kelompok Belajar Anak (KBA). Mereka duduk dengan tertib memperhatikan Uslifat (17), Putri (15) dan Dian (17) yang akan mengajarkan mereka tentang Hak Anak.

Hari itu jadi pertemuan pertama Uslifat, Putri dan Dian dengan anak-anak binaan Wahana Visi Indonesia (WVI) Area Program Sigi-Palu-Donggala. Meski baru saja kembali dari sekolah, ketiga pengajar muda ini tetap antusias membagikan ilmu kepada anak-anak di hadapan mereka.  

“Siapa yang tahu apa itu hak anak?” tanya salah satu dari mereka saat membuka pembelajaran di kelas tersebut.

Ini bukanlah kali pertama bagi Uslifat, Putri dan Dian untuk membawakan materi Hak Anak. Mereka juga telah pernah memberikan materi serupa saat perayaan Hari Anak Nasional di Palu tahun lalu.

BACA JUGA: CEGAH MASALAH GIZI DENGAN NUTRISI PENUH DI 1000 HARI PERTAMA KEHIDUPAN

Satu persatu penjelasan terkait Hak Anak mereka jelaskan di depan kelas. Beberapa penjelasan turut mereka tuliskan di kertas berukuran besar yang telah tersedia. Bahkan mereka turut mengajarkan lagu Hak Anak kepada anak-anak peserta kelas KBA. Suasana kelas yang tenang mendadak riuh saat lagu tersebut dinyanyikan.

Uslifat, Putri dan Dian tampak percaya diri membawakan setiap materi pembelajaran. Rasa percaya diri tersebut ternyata sudah terbentuk sejak mereka mengikuti KBA sejak delapan tahun silam.

“Sebenarnya kami juga memiliki kegiatan belajar sendiri di Taman Belajar Anak (TBA) Al-Amanah di Desa Padende, Kecamatan Marawola. Itu merupakan tempat anak-anak bergabung untuk bermain dan belajar di luar kegiatan sekolah,” ujar Dian.

Menurut Dian, kegiatan di TBA diselenggarakan oleh WVI dan dilakukan di desa-desa tertentu. Kegiatan TBA tidak selalu belajar, tetapi anak-anak yang tergabung di dalamnya juga diajarkan untuk menari, menyanyi dan sebagainya.

Meski sudah bergabung sejak 2010, nyatanya Uslifat, Putri dan Dian  baru aktif bergabung mengajar dalam beberapa tahun belakangan ini. Sejak mengikuti kegiatan tersebut Uslifat, Putri dan Dian merasakan perubahan yang sangat signifikan di dalam pribadi mereka.

“Dulunya saya tidak pintar bicara, masih malu-malu walaupun itu cuma perkenalan atau pimpin doa. Tapi setelah ikut pelatihan-pelatihan jadinya lebih terasah lagi kemampuan berbicara saya,” kenang Uslifat.

Serupa Uslifat, Putri dan Dian juga merasakan hal yang sama. Lewat kegiatan di TBA, mereka dilatih untuk percaya diri sekaligus mereka diajak untuk berani dalam bertindak. 

Dengan aktif terlibat di TBA, ketiganya mengaku mendapatkan ilmu-ilmu yang berguna bagi kehidupan sosial mereka. Itulah mengapa mereka ingin turut membagikan ilmu tersebut kepada setiap anak yang mereka ajar.

Ketiga calon penerus bangsa ini mengharapkan peran mereka sebagai pengajar anak bisa memberikan dampak positif bagi setiap anak. Dengan begitu apa yang mereka kerjakan selama ini tidaklah sia-sia.

“Semoga anak-anak bisa lebih percaya diri dan termotivasi dengan adanya kami memfasilitasi mereka,” tutup Putri.  

Ditulis oleh Putri ianne Barus, Field Communications Officer Wahana Visi Indonesia

Artikel Terkait

07 Feb 2018

Melihat Pembuatan Camilan Daun Kelor Khas Kabupaten Sigi Sulawesi Tengah

Melihat Pembuatan Camilan Daun Kelor Khas Kabupaten Sigi Sulawesi Tengah

Nama daun kelor tentu sudah tidak asing di telinga masyarakat Indonesia. Bahkan ada…

05 Feb 2018

Menjadi Tutor Bagi Teman Sebaya

Menjadi Tutor Bagi Teman Sebaya

Ferlin, seorang anak berusia 12 tahun baru saja membuka sesi drama di Sekolah…

30 Jan 2018

Kebun Bersama untuk Ekonomi Keluarga

Kebun Bersama untuk Ekonomi Keluarga

Sebagai ibu rumah tangga, penghasilan Warda (48) tidaklah besar. Ia menggantungkan hidupnya hanya…

Ikuti Kami

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • Youtube