DARI LAPANGAN

Meskipun Indah, Sekolah Ini Dibangun Tanpa Toilet

09 Apr 2018

SDN 02 Sungai Betung berdiri dengan kokoh. Sayangnya siswa/i di sekolah ini tidak memiliki fasilitas memadai di sekolahnya

Suatu bangunan sekolah hendaknya memiliki fasilitas yang berguna bagi murid dan guru. Sayangnya, beberapa sekolah di wilayah-wilayah terpencil di Indonesia tidak memiliki fasilitas tersebut. Salah satunya terdapat di Kecamatan Sungai Betung, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat.

Sekilas tidak ada yang salah dengan bangunan sekolah ini. Bangunan sekolah terlihat kokoh dengan hamparan rumput hijau di depannya. Namun, saat tim Wahana Visi Indonesia berbincang dengan guru dan murid-murid di sekolah ini, kami mendapati kenyataan yang menyedihkan.

Sekolah dengan enam kelas ini telah berdiri sejak tahun 1961. Itulah mengapa sekolah ini menjadi sekolah tertua di Desa Suka Maju, Kecamatan Sungai Betung. SDN 02 Sungai Betung merupakan sekolah favorit pada masanya.

Seiring berjalannya waktu, material bangunan SD ini tidak lagi kokoh. Bangunannya perlahan rapuh, bahkan kerap bergoyang di kala hujan. Bangunan sekolah mulai benar-benar roboh dan dibangun kembali pada kisaran tahun 2003-2004.

Sayangnya pasca pembangunan baru, gedung sekolah ini tidak dilengkapi dengan fasilitas toilet. Hanya ada satu toilet yang diperuntukkan bagi guru dan kepala sekolah. Sedangkan, 122 murid di sekolah tersebut harus mencari akal untuk melakukan aktivitas biologisnya.

“Kami sudah pernah mengajukan dana ke desa dan sudah diberikan semen. Selanjutnya kami meminta orang tua siswa untuk mengumpulkan 20 ribu per siswa untuk pembangunan toilet, tapi ternyata dana itu tetap tidak cukup untuk membuat toilet. Pada 2015 kami sudah meminta bantuan kepada Dinas Pendidikan, tapi tetap saja tidak ada aksi,” kata Marina (58), Kepala Sekolah SDN 02 Sungai Betung yang baru menjabat Januari 2018 silam.

Proses pembuatan toilet sudah pernah diserahkan kepada Komite Sekolah yang terdiri dari orang tua siswa. Sayangnya, dana yang sudah terkumpul tersebut masih belum bisa digunakan untuk membangun toilet siswa yang layak pakai.

Uang sekitar Rp2 juta sudah digunakan untuk pembangunan fisik toilet. Dengan menggunakan hebel/bata ringan, toilet dua sekat sudah sempat didirikan di samping sekolah. Selang tiga tahun pembangunannya, toilet tak layak pakai tersebut pun kini telah ditumbuhi ilalang yang tinggi dan rawan binatang berbisa.

“Kami tidak bisa bertindak banyak, karena dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) yang kami miliki pun tidak boleh digunakan untuk memperbaiki fasilitas sekolah,” tambah Marina.

Seorang siswi di sekolah ini mengaku kerap melakukan aktivitas BAK (Buang Air Kecil) dan BAB (Buang Air Besar) di hutan yang terletak persis di belakang sekolah. Tak jarang dirinya merasa malu jika ada teman-temannya yang usil mencoba mengintip dari kejauhan.

“Kalau lagi pelajaran biasanya minta izin ke luar ke bapak atau ibu guru. Kalau ada penjaga sekolah biasanya minta izin ke wc di rumahnya. Kalau kebelet tidak bisa ke hutan, biasanya di bawah pohon kayu,” ujarnya.

Hal serupa dilakukan ratusan siswa lainnya. Jika keinginan BAB timbul, murid-murid di sekolah ini kerap pergi ke sungai yang terletak lumayan jauh dari sekolah.

“Biasanya langsung masuk kelas karena tidak ada sabun untuk cuci tangan. Teman-teman juga melakukan hal yang sama,” tambahnya.

Tidak hanya toilet yang menjadi permasalahan utama di sekolah ini. Uria (51) selaku guru agama mengatakan, perhatian dinas terhadap sekolah juga sangatlah minim. Berbagai fasilitas belajar mengajar utama seperti meja dan kursi siswa juga tidak mendapatkan perhatian.

“Kami tidak dapat meja dan kursi dari dinas, jadi kami gunakan kayu bekas untuk memperbaiki meja dan kursi yang rusak. Kami tidak mendapatkan bantuan dari dinas, sementara sekolah lain mendapatkannya,” pungkas Uria.

Selama ini para siswa di SDN 02 Sungai Betung memang tidak pernah mengeluh. Mereka bersukaria melakukan aktivitas belajar mengajar di sekolah tersebut. Mereka adalah anak negeri, penerus masa depan bangsa. Namun, jika kesehatan dan fasilitas terbaik tidak bisa mereka rasakan, apakah mereka masih bisa meneruskan tongkat estafet pembangunan negeri ini?

Ditulis oleh Putri ianne Barus, Field Communications Officer Wahana Visi Indonesia

Artikel Terkait

18 Apr 2018

Peserta Forum Anak Jangan Takut Bicara

Peserta Forum Anak Jangan Takut Bicara

Bertemu dengan pemimpin daerah tentulah menjadi kebanggaan semua orang. Perasaan ini juga yang…

12 Apr 2018

Bergabunglah Menjadi Relawan Wahana Visi Indonesia

Bergabunglah Menjadi Relawan Wahana Visi Indonesia

Tidak semua orang memiliki panggilan hati menjadi relawan. Namun dengan menjadi relawan, setiap…

27 Mar 2018

Harapan Kecil untuk Kecamatan yang Stop BABS

Harapan Kecil untuk Kecamatan yang Stop BABS

Kecamatan Nanga Taman, Sekadau, Kalimantan Barat merupakan salah satu kecamatan yang menunjukkan kemajuan…

Ikuti Kami

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • Youtube