BERITA & CERITA

Nurziran: Saya Takut Gempa Datang Lagi

08 Oct 2018

Nurziran (14), salah seorang anak terdampak gempa dan tsunami di Palu

#SatuHatiUntukSulteng - Adzan Maghrib memanggil. Nurziran mulai menyiapkan diri dan hati untuk segera sholat di masjid dekat rumahnya. Baru selangkah berjalan, gadis cilik berusia 14 tahun ini merasakan tanah  sekitarnya mulai bergoyang. Ia hampir saja jatuh dan menabrak imam yang akan memimpin sholat di masjid. Gempa bumi!

 “Saya kaget. Saya dan paman saya langsung berlari ke rumah untuk menjemput nenek saya. Kami semua lari ke gunung karena air laut sudah mulai naik,” cerita Nurziran yang masih mengingat jelas kejadian yang terjadi pada hari Jumat sore, 28 September 2018 lalu.

Nurziran, nenek, paman dan bibinya lalu mengungsi di perbukitan di atas kampung. Dari ketinggian tersebut mereka bisa melihat kampung mereka rata dengan tanah, lumpur, dan air. Malam itu, Nurziran dan keluarganya harus menginap di atas  bukit.

 “Semuanya gelap. Saya kedinginan karena lupa bawa sarung. Kami semua tidur di tenda seadanya,” lanjut gadis cilik tersebut.

Gempa bumi dengan magnitudo 7.4 Skala Richter yang menimpa wilayah Palu, Sigi dan Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah meninggalkan pengalaman pahit bagi Nurziran. Ia selalu merasa ketakutan meski sudah berada di lokasi yang aman.

 “Saya takut gempa datang lagi,” ujarnya cemas.

Tinggal di posko evakuasi membuat Nurziran tidak bisa mendapat fasilitas sama seperti saat ia berada di rumah. Pakaian yang ia kenakan hanya pakaian yang melekat di badan. Sementara seragam serta peralatan sekolahnya rusak akibat gempa bumi. Nyaris tidak ada yag tersisa di rumah Nurziran kecuali puing-puing bangunan.

Gadis cilik yang telah lama menjadi piatu ini tidak mau lama-lama tinggal di pos evakuasi. Ia ingin segera pulang ke rumah neneknya dan beraktivitas seperti biasa. Kini, Nurziran memerlukan bantuan supaya ia cepat pulih dan bisa berkegiatan seperti dulu.

“Saya butuh makanan, pakaian, tenda dan selimut supaya tidak kedinginan. Saya ingin kembali ke rumah dan tidak mau ada gempa lagi,” tutupnya.

Wahana Visi Indonesia (WVI) telah merespons bencana gempa bumi sejak 30 September 2018 lalu. Salah satu respons awal yang dilakukan oleh WVI adalah melakukan distribusi perlengkapan posko evakuasi (shelter kit) berupa selimut dan terpal serta melakukan pendampingan psikososial anak melalui Ruang Sahabat Anak.

Ditulis oleh: Rena Tanjung, Field Communication Officer Wahana Visi Indonesia

Artikel Terkait

19 Feb 2019

Melaporkan Kasus Kekerasan Anak Kini Lebih Mudah

Melaporkan Kasus Kekerasan Anak Kini Lebih Mudah

#SatuHatiUntukSulteng – Kekerasan terhadap anak memiliki banyak bentuk, diantaranya kekerasan dalam…

08 Feb 2019

Lewat PDAM Distribusi Air Menjadi Lebih Efisien

Lewat PDAM Distribusi Air Menjadi Lebih Efisien

#SatuHatiUntukSulteng – Kebutuhan air masih menjadi prioritas bagi warga yang hingga…

30 Jan 2019

Sekarang Julianto Bisa Melaut Kembali

Sekarang Julianto Bisa Melaut Kembali

#SatuHatiUntukSulteng- Sore itu saat tengah membersihkan kapal motor yang biasa digunakan…

Ikuti Kami

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • Youtube