BERITA & CERITA

Pahlawan Jamban

14 Aug 2019

Ella saat bermain boneka tangan bersama anak-anak

Hari Kemanusiaan Sedunia - Tinggal jauh dari keluarga, teman dan kota kelahirannya, Angela Elisabeth (32), biasa disapa Ella, mengabdikan hidupnya untuk membantu masyarakat terutama dalam sektor tanggap bencana. Angela memilih untuk berkontribusi pada kesehatan masyarakat melalui program kebersihan air dan sanitasi. Selama fase pemulihan beberapa daerah di Sulawesi Tengah pasca gempa dan tsunami, Angela bekerja untuk menyediakan air bersih dan jamban sehat bagi masyarakat.

'Saya pertama kali melakukan tanggap darurat di Kabuapten Toli-tolo, Sulawesi Tengah. Jaraknya 1.979 km dari kampung halaman saya di Alor, Nusa Tenggara Timur,” ujar Ella. “Saya tidak pernah membayangkan bekerja untuk sebuah respons tanggap darurat seperti ini sebelumnya. Semua proses berjalan dengan cepat. Rasanya seperti membuat candi dalam satu malam karena waktunya sedikit sedangkan masyarakat memerlukan bantuan kami," lanjutnya.

Angela memulai perjalanannya sebagai pekerja kemanusiaan dengan Wahana Visi Indonesia (WVI) sejak tujuh tahun lalu. Setelah lulus dari fakultas kesehatan masyarakat, ia tertarik untuk bekerja di sektor kemanusiaan terkait dengan kesehatan masyarakat.

Dibesarkan di daerah yang paling sulit di Indonesia, Ella menyaksikan bagaimana orang-orang di wilayahnya sulit mengakses air bersih. Angela sangat termotivasi untuk berkontribusi lebih banyak bagi masyarakat.

“Saya memulai pekerjaan di kota asal saya di Nusa Tenggara Timur. Di sana, banyak masyarakat kesulitan mendapatkan akses ke air bersih. Masyarakat masih hidup dalam kekurangan sehingga tak jarang mereka tidak mampu membangun toilet sederhana dan tangki air bersih di rumah. Keadaan ini benar-benar memotivasi saya untuk lebih kreatif dan melakukan hal-hal yang baik bagi mereka, sehingga mereka dapat mengakses air bersih dan jamban,” ujar wanita muda yang memiliki hobi traveling ini.

Angela telah bekerja untuk beberapa kegiatan tanggap darurat seperti banjir bandang Tolitoli, gempa Lombok dan gempa Sulawesi Tengah bersama dengan WVI. Di Lombok, Angela membangun jamban sederhana untuk masyarakat dan anak yang terdampak gempa. Bersama dengan timnya, ia dapat membangun lebih dari 1.000 jamban darurat dalam sebulan.

“Beberapa orang meragukan pekerjaan saya. Pengalaman ini terjadi di Lombok. Saya tidak pernah bermimpi bahwa saya dapat membangun ribuan jamban dalam sebulan. Namun, saya tidak sendirian melakukannya karena kami bekerja sama dengan masyarakat. Mereka secara sukarela membangun jamban setelah kami melakukan sosialisasi. Menurut saya ini adalah seni bekerja sama. Saat kita dekat dengan mereka, masyarakat mau bekerja bersama kami karena mereka mengerti bahwa apa yang kami lakukan adalah untuk mereka,” jelasnya.

Ella merasa senang karena akhirnya ia menyediakan kebutuhan paling mendasar bagi orang-orang yang terkena dampak bencana. Karyanya terbayar ketika ia bisa melihat orang-orang menggunakan jamban. 

 

“Salah satu hadiah terbesar yang bisa saya dapatkan dari pekerjaan saya adalah melihat orang-orang bahagia karena mereka dapat menggunakan jamban. Ketika saya berada di Lombok, salah satu perwakilan pemerintah berterima kasih kepada tim kami atas apa yang telah kami lakukan karena akhirnya mereka bisa menggunakan jamban dalam situasi darurat."

Tidak semua pekerjaannya berjalan dengan baik. Beberapa penuh dengan tantangan. Terkadang, kurangnya kesadaran tentang kesehatan ibu dan anak di kalangan masyarakat membuat masyarakat tidak bisa berkontribusi penuh terhadap pembangunan jamban. Angela dan tim harus melakukan lebih banyak upaya diseminasi bahwa masyarakat sebelum pembangunan jamban terjadi.

 

 

Toilet untuk Semua Anak

Sebagai seorang pekerja sosial wanita seperti Ella, terkadang banyak orang meragukannya. Namun, Ella, tidak pernah mendengarkan pendapat mereka.

"Saya percaya bahwa pria dan wanita diciptakan seimbang. Wanita juga bisa melakukan apa yang bisa dilakukan pria, termasuk memimpin tim dan membangun jamban dan pipa air," ujar anak pertama di keluarganya ini. "Beberapa orang bahkan anggota tim saya dulu meragukan saya karena wanita tidak melakukan pekerjaan semacam ini. Namun, itu menjadi motivasi saya untuk melakukan lebih banyak untuk mereka."

Ella mengatakan bahwa menjadi pekerja kemanusiaan wanita adalah sebuah hal yang istimewa. Sebagai wanita, ia menjadi lebih peka terhadap kebutuhan anak-anak dan masyarakat. Dengan cara inilah, Ella dan tim telah berhasil membangun jamban ramah anak di Palu.

 

“Dengan toilet ramah anak, anak-anak dapat menggunakan jamban dengan mudah seperti yang orang dewasa dapatkan dalam situasi tanggap darurat. Di Palu, saat ini kami membangun 154 toilet yang ramah anak. Kami akan membangun 346 jamban lagi pada fase pemulihan,” tambahnya.

Masih ada jalan panjang bagi Ella dan pekerja kemanusiaan lain tapi Ella selalu menempatkan mimpinya sebagai motivasi.

“Bersama dengan organisasi tempat saya bekerja, Wahana Visi Indonesia, saya akan melakukan segalanya untuk anak-anak karena visi kami untuk setiap anak, hidup utuh sepenuhnya, doa kami untuk setiap hati, tekad untuk mewujudkannya," tutup Ella.

Hingga saat ini, program pembangunan toilet ramah anak di Palu masih berlangsung dan telah memberi manfaat bagi sekitar 20.000 orang di wilayah tersebut.

 

Ditulis oleh: Rena Tanjung, Communications Officer Wahana Visi Indonesia 

Artikel Terkait

15 Aug 2019

Memberi Hidup untuk Sesama

Memberi Hidup untuk Sesama

Hari Kemanusiaan Sedunia - Nurhayati (47), biasa disapa Nur, telah menjadi…

08 Aug 2019

Semangat Guru PAUD untuk Kemajuan Posyandu dan Kesehatan Anak

Semangat Guru PAUD untuk Kemajuan Posyandu dan Kesehatan Anak

Murniati Darman (41) merupakan kader Posyandu Mawar 1 di Kelurahan Baiya, Sulawesi Tengah…

31 Jul 2019

Dinas Sosial Provinsi Sulawesi Tengah Aplikasikan Toilet Ramah Anak WVI

Dinas Sosial Provinsi Sulawesi Tengah Aplikasikan Toilet Ramah Anak WVI

#SatuHatiUntukSulteng - Gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Sulawesi Tengah…

Ikuti Kami

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • Youtube