BERITA & CERITA

Pejuang Tumbuh Kembang Anak

30 Apr 2019

Maria Susanti (kiri), Ida Farida (tengah) and Rena Tresnawati (kanan) adalah tiga orang pejuang tumbuh kembang anak asal Desa Merapi, Kabupaten Sekadau.

Sudah setahun ini Desa Merapi, Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat, memiliki gedung Pendidikan Anak Usia Dini – Holistik Integratif (PAUD-HI). Gedung ini berlantai dua, kegiatan PAUD-HI dilakukan di lantai bawah sedangkan lantai di atasnya digunakan sebagai kantor Badan Usaha Milik Desa (BUMDES). Yang menjadi istimewa, gedung PAUD-HI ini dibangun atas inisiatif Pemerintah Desa Merapi setelah diluncurkannya Perarturan Desa (perdes) tentang Perlindungan Anak.

“Sebetulnya tahun 2006 kami punya PAUD, yang diinisiasi oleh Dinas Pendidikan. Namun, hanya berjalan selama dua atau tiga tahun, lalu mandek,” ujar Saleh (47), Kepala Desa Merapi. Padahal menurut Saleh, awalnya ada 40 anak yang mengikuti kegiatan, tapi lama-lama berkurang. “Mungkin kurang sosialisasi, karena hanya merupakan program dinas. Masyarakat pun merasa tidak ada manfaatnya,” ia menjelaskan.

Kegiatan PAUD dilanjutkan kembali pada tahun ajaran 2017/2018 di aula kantor desa. Tidak lama kemudian gedung PAUD-HI pun berdiri berkat dana desa. Di gedung baru ini selain dilangsungkan kegiatan PAUD setiap hari, juga posyandu dan Bina Keluarga Balita (BKB) setiap tanggal 20.

“Jadi, pas anak-anak ditimbang saat posyadu, ibu-ibunya ikut kegiatan BKB,” kata Ida Farida (30), tutor PAUD sekaligus kader BKB. Ibu yang memiliki satu putri di TK ini melanjutkan, “Kami mensosialisasikan tumbuh kembang anak melalui Kartu Kembang Anak (KKA). Misalnya, bayi umur 8 bulan sudah bisa apa dan apa saja yang harus dilakukan ibunya; lalu kalau anak mimisan, ibu harus ngapain.”

Rena Tresnawati (27) menambahkan, “Sosialisasi BKB ditujukan bagi ibu-ibu yang anaknya berusia sampai 3 tahun. Untuk memantau (tumbuh kembang) anak-anak usia 4-5 tahun ketemu ibu-ibunya di PAUD. Sama seperti Ida, Rena juga tutor PAUD merangkap kader BKB.

Satu dari tujuh kader Posyandu Anggrek Putih di Dusun Merapi 1 adalah Maria Susanti (32). Ibu berputra dua orang ini bercerita, ada dua posyandu di Desa Merapi. Satunya lagi Posyandu Mawar di Dusun Merapi 2 dengan ima orang kader posyandu. “Sebelum menjadi kader, saya sudah rajin ke posyandu membawa anak-anak saya. Saya senang menjadi kader, banyak ilmu yang didapat. Wahana Visi Indonesia (WVI) mendampingi pelatihan dan penyuluhan buat para kader, tentang PMBA (Pemberian Makan Bayi dan Anak) misalnya,” papar wanita yang biasa dipanggil Santi ini. 

Baik Ida, Santi maupun Rena, mengatakan bahwa tantangan terberat menjadi kader adalah mengumpulkan para ibu. Mereka harus terus diingatkan untuk rajin datang ke posyandu, ikut pertemuan BKB dan juga memasukkan anaknya ke PAUD. Jangan bosan memanggil mereka demi anak-anak Desa Merapi yang sehat dan pintar, ujar ketiga pejuang tumbuh kembang anak ini menutup pembicaraan.

 

Ditulis oleh: Regina Veronica Edijono, Editor, Wahana Visi Indonesia

Artikel Terkait

02 Aug 2019

Kami Orang Desa Tidak Boleh Minder

Kami Orang Desa Tidak Boleh Minder

#PekanASISedunia - Bidan Marcerina Anyen (26), biasa dipanggil Bidan Anyen, sangat…

16 Jul 2019

Oslin Angkat Isu Penelantaran Anak Indonesia kepada Utusan Khusus Sekjen PBB

Oslin Angkat Isu Penelantaran Anak Indonesia kepada Utusan Khusus Sekjen PBB

Roslinda, atau Oslin (14), wakil anak Wahana Visi Indonesia (WVI) asal Sumba Timur…

26 Jun 2019

Memperpanjang Harapan dengan ‘Pos Gizi’

Memperpanjang Harapan dengan ‘Pos Gizi’

Stunting masih menjadi masalah yang serius sekaligus ‘seksi’ untuk diperbincangkan. Media massa pun…

Ikuti Kami

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • Youtube