BERITA & CERITA

Pendidikan Anak Alor Tidak Lagi Diabaikan

04 Jan 2018

Para tokoh masyarakat dari Rumpun Adat Kulligang, (kiri ke kanan): Ismail Kawa (Kepala Desa Lamma), Sergius Jala Mau (Tokoh Adat), Marthen Beda (Ketua Lembaga Adat Kulligang) dan Jacob Kakutung (Tokoh Agama).

Belis (mas kawin) yang ditandai dengan moko (benda bersejarah yang terbuat dari perunggu dan berbentuk mirip gendang) dan gong, merupakan ciri khas masyarakat Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT). Penerapan belis yang tinggi membuat susah para calon pengantin. Banyak pasangan yang sulit kawin adat akibat harga moko yang tinggi. Hal ini merupakan tantangan bersama masyarakat Alor.

Wahana Visi Indonesia (WVI) bekerja bersama masyarakat Alor - termasuk di dalamnya tokoh adat, tokoh agama dan tokoh pemerintah - dalam menghadapi tantangan tersebut. Proses yang panjang, dimulai pada tahun 2007, menghasilkan sebuah refleksi yang mendalam dan melahirkan gagasan untuk melakukan revitalisasi budaya. Upaya penyederhanaan kawin adat ini diharapkan membawa perubahan bagi pemenuhan keutuhan hidup anak-anak, generasi penerus Alor.

Pada tahun 2014, sebanyak tujuh rumpun adat di Kabupaten Alor telah melakukan kesepakatan adat dan mengikuti aturan adat belis yang baru dan tentunya sudah lebih ringan. Hingga akhirnya, di penghujung 2017, seluruh rumpun adat yang berjumlah dua belas telat menerima proses perubahan ini.

BACA JUGA: CARA AGNI PRATISTA ATASI BABY BLUES SYNDROME

Marthen Beda, Ketua Lembaga Adat dari Rumpun Adat  Kulligang bercerita bahwa sebelum melakukan revitalisasi budaya, masyarakat sulit meningkatkan kesejahteraan anak terutama di bidang pendidikan. Hal tersebut dikarenakan semua hasil usaha dan pendapatan orang tua dari bidang petanian, seperti padi dan jagung, serta hasil ternak seperti kambing, babi, dan ayam, semuanya disiapkan untuk membiayai masalah adat (belis nona dan belis moko). Kesejahteraan dan pendidikan anak ditelantarkan.

“Ya, jadi mulai tahun 2014 ke bawah itu banyak yang tidak ada akte nikah, akte kelahiran, hampir semua kampung tidak ada itu. Tapi 2014 ke atas sampai 2016-2017 itu semua sudah memiliki, karena di bidang pendidikan dia harus tuntut anak harus punya akte kelahiran sehingga mereka bisa masukkan di dalam sekolah, mulai dari SD sampai ke SMP, itu harus ada dulu,” ungkap Marthen Beda.

Kepala Desa Lamma, Ismail Kawa, yang juga mewakili rumpun adat yang membenarkan kondisi tersebut. Dirinya menjelaskan, kini dengan adanya sistem penjaminan, anak-anak bisa kembali bersekolah.

“Ya, jadi sementara kita jalani itu dengan Surat Baptis dari gereja, itu merupakan jaminan untuk anak bisa sekolah sambil menunggu ibu bapaknya sudah nikah (secara adat, agama dan negara) baru bisa ambil akte (pernikahan dan kelahiran anak). Memang agak sedikit repot tapi bisa teratasi,” ungkapnya.

Marthen Beda melanjutkan, dengan adanya revitalisasi budaya adat, kesejahteraan masyarakat dapat meningkat. Mereka kini dapat menyekolahkan anak-anaknya, bahkan sampai ke perguruan tinggi dan mendapat gelar S1, S2 dan S3.

Kesaksian lain diungkapkan oleh Markus Samoy, Kepala Desa Tulleng yang mewakili Rumpun Adat Abui Lembur.

“Kalau dulu, sebelum (revitalisasi budaya) tahun 2012, anak-anak hanya bersekolah sebatas SMP. Setelah 2012, pendidikan anak-anak di Desa Tulleng sudah sampai tingkat sarjana. Pada tahun 2017 ini, sudah ada 8 orang yang lulus studi S1 dan S2, dan ada 12 orang yang masih kuliah,” jelasnya.

Ketiga tokoh masyarakat Alor di atas mengucapkan rasa hormat dan terima kepada WVI, lembaga adat, tokoh agama dan tokoh pemerintah yang telah bekerja sama menyukseskan revitalisasi budaya di Alor.

 

Ditulis oleh: Regina Veronica Edijono, Editor Wahana Visi Indonesia

Artikel Terkait

26 Sep 2018

Orang Tua Punya Usaha, Anak Bahagia

Orang Tua Punya Usaha, Anak Bahagia

Kuanfatu, salah satu desa layanan Wahana Visi Indonesia (WVI) yang terletak 43 km…

21 Sep 2018

Satu Hati Ciptakan Indonesia Bebas Stunting

Satu Hati Ciptakan Indonesia Bebas Stunting

Mengatasi stunting (tinggi badan lebih rendah dibanding standar usia) masih menjadi salah satu…

05 Sep 2018

#BeraniMimpi3 Seandainya Air Jadi Lebih Dekat

#BeraniMimpi3 Seandainya Air Jadi Lebih Dekat

#BeraniMimpi3 - Kehidupan mulai menggeliat di Desa Wolomotong, Kabupaten Sikka, Provinsi…

Ikuti Kami

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • Youtube