BERITA & CERITA

Saya Tidak Mau Anak Saya ‘Cemen’

03 Nov 2015

Shanty rajin memeriksakan kesehatan dan berat badan anaknya, Susan ke Posyandu Poma, Kabupaten Sikka, NTT.

Seiring dengan perubahan zaman, pertumbuhan balita di Posyandu bisa dipantau menggunakan telpon pintar. Data balita akan dikirim ke server dan hasilnya bisa di unduh oleh tenaga kesehatan dalam bentuk data laporan Posyandu. Ternyata penggunaan telepon pintar ini membuat beberapa ibu dari Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur merasa terbantu

Salah satunya adalah kelompok ibu di Posyandu Poma. Shanty (23) salah satu ibu muda, ibu dari Susan yang baru berumur 4 bulan 3 hari dan Sherly (28) ibu dari Putra yang berumur 11 bulan mengakui keunggulan penggunaan telepon pintar ini karena mereka bisa langsung mengetahui kondisi kesehatan anak mereka. Bagi mereka berdua, istilah ‘cemen’ adalah istilah yang familiar bagi kalangan ibu-ibu muda yang sering membawa anak mereka ke Posyandu ini sebab bagi anak yang mengalami penurunan berat badan maka mereka akan mendapat sebutan cemen. Cemen juga disimbolkan dengan jempol yang menunjuk ke bawah yang tergambar dalam aplikasi Posyandu di telepon pintar. Setiap kali memeriksakan kesehatan anak mereka ke Posyandu, maka setiap kali itulah para ibu menantikan apakah anak mereka akan mendapat status cemen atau tidak.

Kali ini saat Shanty membawa anaknya ke Posyandu, ia merasa senang karena jempol yang ada di layar telepon pintar menunjuk ke atas yang berarti bahwa anaknya memiliki berat badan yang sesuai dengan usianya.
“Saya merasa senang karena Susan memiliki status gizi yang baik karena di layar telepon ada gambar jempol yang menunjuk ke atas. Jadi anak saya tidak cemen bulan ini,” kata Shanty.

Bulan lalu, berat badan Susan sempat turun sehingga gambar jempol menunjuk ke bawah. Hal yang sama juga dialami oleh Putra, anak dari Sherly. Melihat kondisi ini, Sherly sempat malu dan sedih.

“Karena berat badan Putra berkurang, saya mencoba merawat Putra dengan lebih rajin dan memberinya makanan bergizi. Hasilnya bulan ini, Putra tidak cemen. Saya lega dan mulai saat ini, Putra harus mendapat jempol ke atas,” katanya.

Semoga ibu-ibu muda ini selalu bisa mempertahankan pola asuh yang sudah benar terhadap anak-anak mereka supaya anak ini bisa tumbuh menjadi generasi yang hebat di Sikka.

 

Ditulis oleh Hermince Brikmar, Maternal Health and Child Nutrition Coordinator, Wahana Visi Indonesia Kantor Operasional Sikka

Artikel Terkait

21 Feb 2020

Pemerintah Kabupaten Lombok Utara Berikan Bangunan Permanen untuk Anak di Dusun Pengembuk

Pemerintah Kabupaten Lombok Utara Berikan Bangunan Permanen untuk Anak di Dusun Pengembuk

#LombokBangkitKembali – Wahana Visi Indonesia (WVI) bekerja sama dengan IKEA Indonesia…

20 Feb 2020

Pendamping yang Setia

Pendamping yang Setia

Pak Tobing (48), demikian ia biasa disapa, adalah salah satu pendamping forum anak…

18 Feb 2020

Dari Desa Terpencil, Manisah Giatkan Perempuan untuk Menabung

Dari Desa Terpencil, Manisah Giatkan Perempuan untuk Menabung

Bersinar, demikian Manisah (37) menamai kelompok VSLA yang terletak di Desa Lapaopao, Kecamatan Wolo,…

Ikuti Kami

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • Youtube