DARI LAPANGAN

Sedia Penampung Air Hujan (PAH) Sebelum Musim Kemarau

12 Sep 2018

Peserta pelatihan mempraktikkan pengolahan air minum dengan SoDis (Solar Water Disinfectan), yaitu teknik sederhana mengdisinfektasi air dengan menggunakan sinar matahari dan botol air mineral, sehingga air layak untuk diminum.

Setidaknya ada lima desa di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT) yang memiliki keterbatasan dalam hal air bersih untuk kebutuhan rumah tangga. Mereka adalah warga di Desa Neke (Kecamatan Oenino), serta Desa Kuanfatu, Basmuti, Kelle dan Kelletunan (Kecamatan Kuanfatu).

Pada saat musim kemarau, warga berjalan kaki sejauh 2 km untuk menimba air di kali dan mata air. Sayangnya, terkadang kering juga, mereka harus membeli air seharga Rp2.000-Rp5.000/jeriken. Maka warga dan pemerintah desa sepakat melakukan upaya  untuk mendekatkan sumber air bagi keluarga. Salah satunya adalah pengadaan Penampung Air Hujan (PAH) dengan konsep panen air saat musim hujan. Ke depannya diharapkan ada 62 PAH tersedia di lima desa ini.

Perwakilan warga Desa Neke ikut dilibatkan dalam pelatihan Komite Air pada Juni 2018 yang dilakukan di desa lainnya yakni Oebola dan Sillu, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang. Peserta dari Desa Neke sebanyak 6 orang sedangkan 15 orang lainnya dari Desa Oebola dan Sillu. Mereka mendapat penjelasan tentang mengelola sumber air demi kesehatan anak dan keluarga. Pelatihan selama empat hari, sejak 20-23 Juni 2018 di Kota Soe (ibukota Kabupaten TTS) ini difasilitasi oleh staf Wahana Visi Indonesia (WVI) dari Kantor Nasional Jakarta dan Area Program (AP) WVI di Kabupaten TTS. Beberapa materi dan praktik yang diberikan adalah menggambarkan siklus air, mengukur pH air (ukuran kadar keasaman atau basa suatu larutan, red), dan menghitung debit air.

 

Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang dibuat oleh perwakilan dari Desa Neke

Perasaan gembira terlihat pada wajah para peserta karena pengetahuan dan keterampilan mereka bertambah. Sem Nubatonis, Penatua Majelis Gereja Desa Neke, mengatakan, “Pelatihan ini membuat kami tahu tentang pengelolaan air bersih.”

Hal serupa diungkapkan oleh Kris, warga Desa Oebola, “Pengetahuan yang diberikan sangat bermanfaat, bisa diterapkan di desa. Kami juga perlu pendampingan untuk pembentukan komite air.”

Selain itu, ada harapan yang disampaikan oleh Mama Yuliana, Majelis Gereja Desa Oebola. “Mama-mama (ibu-ibu, red) juga perlu dilibatkan kegiatan seperti ini, jangan bapak-bapak saja,” ujarnya.

Di dua desa target (pada tahap 1), Neke dan Kelletunan, telah dilakukan pertemuan untuk menyepakati pola kerja dan manajemen pengelolaan air. Dengan demikian, distribusi tangki/penampung dan instalasi atau pemasangan jaringan diawali dari kedua desa ini pada minggu ketiga September 2018.

Untuk mendukung tersedianya 62 PAH di lima desa yang telah disebutkan di atas, Wahana Visi Indonesia bekerja sama dengan Alfa Omega Church menyelenggarakan Worship Night bersama Sound of Praise dengan tema “Loved to Love”. Persembahan lagu-lagu rohani sekaligus pengumpulan donasi ini berlangsung di GBI Bethlehem Malang pada Rabu, 12 September 2018 dan di GAB Pusat Mojokerto pada Jumat, 14 September 2018.

 

Ditulis oleh: Otniel Rissy, Area Program Coordinator, Wahana Visi Indonesia AP TTS

Artikel Terkait

23 Aug 2018

Usaha Ternak Babi untuk Tabungan Pendidikan

Usaha Ternak Babi untuk Tabungan Pendidikan

Bone, desa yang terletak di Kecamatan Amanuban Tengah, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS),…

18 Sep 2017

Cita-citaku Terkendala Jarak dan Biaya

Cita-citaku Terkendala Jarak dan Biaya

“Nama saya Yonris, 11 tahun. Saya pernah tahan kelas karena tidak lancar membaca, menulis dan…

15 Nov 2016

Menjadi Superhero di Posyandu

Menjadi Superhero di Posyandu

Wahana Visi Indonesia (WVI) kantor operasional Sekadau mengadakan pelatihan SDIDTK (Stimulasi, Deteksi dan Intervensi Dini…

Ikuti Kami

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • Youtube