BERITA & CERITA

Semangat Guru PAUD untuk Kemajuan Posyandu dan Kesehatan Anak

08 Aug 2019

Murniati Darman saat memberikan edukasi kepada orang tua balita tentang pemberian makan bayi dan anak (PMBA) di kegiatan Pos Gizi.

Murniati Darman (41) merupakan kader Posyandu Mawar 1 di Kelurahan Baiya, Sulawesi Tengah sejak 2012. Selain menjadi kader, Murniati juga telah menjadi seorang guru PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) sejak 2009. Kesehariannya sebagai guru PAUD tidak mengurangi keaktifannya sebagai kader. Beliau begitu semangat ketika berbicara tentang posyandu.

“Saya semangat menjalankan posyandu karena saya ingin posyandu maju dan dekat dengan masyarakat,” ujar ibu lima orang anak ini.

Semangat Murniati sebagai kader posyandu juga terlihat dalam menjalankan Pos Gizi yang merupakan program intervensi Puskesmas Pantoloan bersama Wahana Visi Indonesia (WVI) melalui proyek iREACH (IT-Based Empowerment of Maternal and Child Health).

WVI adalah yayasan sosial kemanusiaan Kristen yang bekerja untuk membuat perubahan  berkesinambungan pada kehidupan anak, keluarga dan masyarakat yang hidup dalam kemiskinan. Salah satu upaya untuk membuat perubahan tersebut di Kota Palu, WVI lewat proyek iREACH yang berfokus pada program kesehatan dan nutrisi, ingin meningkatkan gizi anak balita. Hal ini dilakukan dengan memperkuat sistem pemantauan dan rujukan masyarakat lewat penguatan posyandu dan inovasi informasi data dan teknologi.

Proyek iREACH telah mendampingi 107 posyandu bekerja sama dengan delapan puskesmas sejak 2017, salah satunya adalah Puskesmas Pantoloan. Berbulan-bulan pascagempa berkekuatan magnitudo 7,4 yang mengguncang Sulawesi Tengah pada September 2018 lalu, banyak anak yang mengalami gizi kurang. Hal ini turut terjadi di wilayah dampingan Puskesmas Pantoloan.

Melihat kondisi ini Puskesmas Pantoloan mengajak WVI melalui proyek iREACH untuk bekerja sama membuat program Pos Gizi sebagai rujukan masyarakat. Program ini telah dilakukan di lima posyandu, salah satunya adalah Posyandu Mawar 1. 

  

Awalnya, Murniati pesimis dengan kegiatan Pos Gizi karena pertama kali dilakukan di wilayahnya. Ia berpikir peserta Pos Gizi tidak akan datang, tidak ada dukungan dari tokoh masyarakat, serta kegiatannya tidak akan menarik. Namun, dirinya mengusahakan agar hal-hal tersebut tidak terjadi, sehingga ia menemui RW untuk mendapatkan dukungan tokoh masyarakat serta mengajak peserta Pos Gizi untuk hadir.

Selain itu, agar kegiatan menjadi menarik, Murniati bersedia mengambil peran dalam kelas Pos Gizi. Ia melakukan praktik memasak, bermain dengan anak, dan meminta tenaga kesehatan bersama WVI untuk melatihnya agar dapat memberikan edukasi kepada ibu balita tentang pesan kunci kesehatan.

“Saya senang dengan kegiatan Pos Gizi ini, karena selama ini saya hanya bisa bermain dengan anak, tetapi di Pos Gizi saya bisa mengajar ibu-ibu tentang materi kesehatan dan belajar memasak menu baru yang murah dan bisa saya praktikkan di rumah,” jelasnya.

Tidak hanya mengambil peran di kelas Pos Gizi, Murniati juga akan melakukan kunjungan ke rumah-rumah hingga mengambil peran di bagian penimbangan bayi. Dengan begitu ia bisa mengetahui langsung peningkatan berat badan anak, serta memberikan penghargaan kepada anak yang telah mengalami kenaikan berat badan.

 

Ditulis oleh: Regina S. Lumentut, iREACH Officer, Wahana Visi Indonesia

Artikel Terkait

26 Jul 2019

Bangun Rumah Rusak dengan Dana BaNTu Guna

Bangun Rumah Rusak dengan Dana BaNTu Guna

#SatuHatiUntukSulteng - Bank Sulteng cabang Tawaeli di Kota Palu terlihat sangat ramai…

07 Jan 2019

Tidak Sekadar Menjadi Guru

Tidak Sekadar Menjadi Guru

Ervina (36) adalah salah satu kader di Desa Bonebae 2, Kabupaten Touna, Sulawesi…

25 Jan 2018

Pemerintah Kota Palu Komitmen Dukung Penguatan Sistem Pemantauan Posyandu Lewat iREACH

Pemerintah Kota Palu Komitmen Dukung Penguatan Sistem Pemantauan Posyandu Lewat iREACH

Kehadiran Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) pernah unggul pada era Orde Baru. Namun, program…

Ikuti Kami

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • Youtube