BERITA & CERITA

Seni: Saya Tidak Mau Melahirkan di Tenda

10 Oct 2018

Saat ini Seni sedang mengandung anak ketiganya. Doanya hanyalah bisa melahirkan di tempat yang layak, bukan di sebuah tenda

#SatuHatiUntukSulteng - Kandungan Seni (39) sudah berusia delapan bulan. Dengan penuh harap, ia menunggu kelahiran anak ketiganya. Wanita paruh baya ini telah menunggu anak ketiganya selama beberapa tahun. Usia anak ketiga Seni selisih 12 tahun lebih muda dari anak keduanya dan 19 tahun lebih muda dari anak sulungnya. Bidan telah memperkirakan kelahiran bayinya pada 22 Oktober 2018.

Namun, mimpi Senin untuk memiliki anak ketiga hampir saja hilang ketika gempa bumi dan tsunami melanda Palu pada 28 September 2018. Rumahnya rusak dan tenggelam karena likuifaksi (penurunan sedimen tanah karena pergerakan air tanah yang disebabkan oleh gempa bumi dan tsunami-red).

“Saya lari cepat sekali sampai lupa pakai sandal dan sepatu,” ujar Seni membuka ceritanya.

Gempa bumi dan tsunami datang secara tiba-tiba dan tidak terduga. Seni ada di dapur ketika gempa dan tsunami datang. Saat itu ia tengah menyiapkan makanan untuk keluarganya. Tiba-tiba, rumahnya bergetar dan kemudian tenggelam bak ditelan bumi. Gempa bumi ternyata telah memicu terjadinya likuifaksi di Desa Jono Oge. Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana per 7 Oktober 2018, gempa berkekuatan 7,4 Skala Richter telah mengakibatkan 1.763 orang meninggal dunia dan ratusan orang terluka. Lebih dari 60.000 rumah dan fasilitas umum juga dilaporkan rusak.

“Saya memegang perut saya sambal berlari. Saya takut janin saya kenapa-kenapa. Saya lari cepat sekali. Mungkin janin saya ikut membantu saya berlari. Itulah kenapa saat saya lari, saya tidak pernah merasa lelah atau sakit,” ujar ibu dua anak ini.

Seni terus berlari bersama suami dan putrid sulungnya sampai ia menyadari bahwa anak keduanya tidak bersama mereka.

“Saya Cuma bisa teriak ‘YaTuhan, anak saya mana?’ Saya tidak dapat menemukannya di mana-mana. Saya panik. Saya menangis dan hampir menyerah. Beberapa jam berikutnya akhirnya saya menemukan anak saya di tempat yang lebih aman bersama kerabat. Puji Tuhan, anak saya aman," cerita Seni,

“Saya meninggalkan rumah saya. Saya tidak membawa apa pun kecuali tas kecil berisi Alkitab di dalamnya karena waktu itu saya baru saja pulang dari gereja. Saya tidak bawa baju Satu-satunya baju saya adalah yang saya pakai sekarang,” tambahnya lagi.

Sekarang, Seni menghabiskan hari ditenda posko evakuasi Jono Oge yang juga terletak di lapangan kering. Ia harus berbagi tenda dengan lima keluarga lainnya. Tidak ada tempat khusus untuknya. Namun, Seni selalu bersyukur atas kondisi saat ini.

“Saya tetap bersyukur. Banyak orang meninggal karena gempa tetapi saya bisa tetap hidup. Keluarga saya aman,” kata Seni dengan penuh rasa syukur.

Sebagai wanita hamil yang tinggal di tempat pengungsian, Seni tentu berhadapan dengan masalah lain.

“Saya butuh air banyak tapi airnya tidak tersedia di sini. Kadang-kadang saya mandi pakai air dari got. Sedangkan untuk air minum, suami saya perlu jalan jauh untuk mengambil air bersih lalu kami memasaknya di sini sehingga saya bisa minum,” ujarnya.

Setiap malam, Seni harus tidur. Hal ini menimbulkan masalah besar baginya.

"Kalau hujan turun, air masuk ke tenda. Saya sering tidak bisa tidur di tenda karena terlalu kecil, panas dan sesak," katanya berbagi pengalaman.

Wahana Visi Indonesia, sebagai organisasi yang berfokus pada anak, melakukan tanggap darurat gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah dengan mendistribusikan peralatan tenda termasuk selimut, terpal dan tikar termasuk Seni.

“Saya sangat senang karena saya bisa pakai selimut kalau tidur. Terpal juga sangat membantu kami sehingga air hujan tidak masuk lagi. Saya juga bisa tidur di atas tikar sehingga badan saya tidak sakit,” kata Seni.

Meskipun beberapa perawat telah mengunjungi dan memeriksa kehamilannya, Seni berharap tidak melahirkan di tenda.

“Saya harap saya tidak melahirkan di tenda dan merawat bayi saya di sini. Saya butuh perlengkapan bayi dan bisa merawat bayi saya di rumah,”ujar Seni mengungkapkan keinginannya.

Seni berterima kasih kepada semua orang yang telah membantunya. Meski tidak menjawab semua kebutuhannya sekarang tetapi bantuan yang ia peroleh bisa mendukung hidupnya di tenda.

“Terima kasih Wahana Visi Indonesia telah mendukung kami dan memberi kami selimut, tikar dan kain terpal. Barang-barang ini sangat membantu kami,” tutupnya.

Saat ini, Wahana Visi Indonesia tengah melakukanresponstanggapdaruratgempabumidantsunami Sulawesi Tengah sejak 30 September 2018. Program ini akan dilanjutkan dengan program yang berfokus pada kesehatan ibu dan anak, air dan sanitasi, dukungan psikososial dan pendidikan dalam situasi darurat.

 

Ditulis oleh: Rena Tanjung, Field Communications Officer Wahana Visi Indonesia

Artikel Terkait

16 Oct 2018

Hancurnya Pelabuhan Wani, Tempat Bermain Kami

Hancurnya Pelabuhan Wani, Tempat Bermain Kami

#SatuHatiUntukSulteng - Seminggu telah berlalu sejak gempa bumi dan tsunami menghantam…

15 Oct 2018

Sekarang Bayi Saya Bisa Tidur Nyenyak

Sekarang Bayi Saya Bisa Tidur Nyenyak

#SatuHatiUntukSulteng - Ruth (38) tak berhenti mencium pipi Janetta. Ruth sangat menyayangi anak…

09 Oct 2018

Gempa Bumi Melenyapkan Boneka Kesayangan Olivia

Gempa Bumi Melenyapkan Boneka Kesayangan Olivia

#SatuHatiUntukSulteng - Sore itu, Olivia (10) sedang asyik menikmati aktivitasnya menonton pertandingan…

Ikuti Kami

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • Youtube