DARI LAPANGAN

Sumber Air Itu Tak Lagi Sejauh 2 Kilometer

09 Jan 2018

Berkat usaha Haripuddin, kini warga Desa Keisio telah bisa merasakan air bersih di rumah mereka. Selain itu keinginan warga untuk membuat toilet juga semakin besar.

Bagi masyarakat perkotaan, mendapatkan air bersih bukanlah hal yang sulit. Namun tidak bagi masyarakat Desa Keisio yang terletak di Kec. Lalolae, Kab. Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara. Masyarakat desa ini harus menempuh jarak yang panjang hanya untuk mendapatkan air bersih.

Perjalanan warga desa pun tidaklah mulus. Jalan menanjak hingga 2 kilometer adalah salah satu yang harus dihadapi. Inilah mengapa warga desa enggan membuat jamban di rumah tinggal mereka. Sulitnya mendapatkan air bersih di desa tersebut masih menjadi alasan utama dari permasalahan tersebut.

”Untuk makan dan minum sehari-hari saja sulit memperoleh air, apalagi untuk mandi dan BAB,” ujar salah seorang warga.

Melihat kondisi tersebut, WVI (Wahana Visi Indonesia) bekerja sama dengan Dinkes Koltim (Dinas Kesehatan Kolaka Timur) dan Pemerintah Desa Keisio mengajak warga desa yang belum memiliki jamban untuk mendapatkan pemahaman akan bahaya BABS (Buang Air Besar Sembarang), dan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat). Pada kegiatan tersebut diadakan pula komitmen peserta yang hadir untuk membuat jamban.

Namun, warga tidak melakukan komitmen tersebut. Warga yang telah berjanji tersebut, belum juga membuat jamban sampai waktu yang telah disepakati bersama.

BACA JUGA: CERITA UNIK RELAWAN SAAT BERKUNJUNG KE POSYANDU

Hal inilah yang mendorong mantan Sekdes (Sekretaris Desa) Haripuddin (49) untuk door to door ke rumah-rumah warga yang belum membuat jamban. Hampir semua warga yang dikunjungi beralasan belum membuat jamban karena sulit mendapatkan air. Meski begitu, Haripuddin tak lantas patah semangat menyampaikan pentingnya PHBS.

Pucuk dicinta ulam tiba. Tepat pada akhir 2016, Haripuddin mendapatkan informasi tentang program air bersih Pamsimas (Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat) di Kab. Koltim. Tetapi, untuk mendapatkan program tersebut harus mengajukan proposal. 

Berbekal pengetahuannya semasa menjadi Sekdes, Haripuddin bersama salah satu tim Codec (Community Development Committee) dampingan WVI di Project Cocoa Life yang pernah mengikuti pelatihan pembuatan proposal dan leadership, membuat proposal untuk program Pamsimas.  

Disadari Haripuddin ternyata program tersebut tidak hanya selesai dengan membuat proposal saja. Tetapi juga dibutuhkan pengawalan dari tingkat desa, kecamatan hingga kabupaten. Hal inilah yang mendorong dirinya untuk mengawal proposal tersebut dengan biaya sendiri .

Haripuddin harus menempuh jarak hingga 23 km untuk memastikan proposal tersebut diterima dengan baik hingga di Kabupaten Kolaka Timur. Jalan berliku dan longsor kala hujan menjadi tantangan terberatnya kala itu.

Kini Haripuddin boleh berbangga hati. Kerja keras ayah empat anak ini berbuah manis dengan terwujudnya program Pamsimas di 2017. Warga mendapatkan air dengan teknik pipanisasi dari sumber mata air ke rumah warga di dusun 3 dan 5.

Para warga yang belum membuat jamban pun akhirnya memutuskan untuk memiliki jamban sendiri, sekalipun mereka masih menantikan air mengalir ke kediaman mereka.

“Kalau di rumah kita tidak memiliki jamban, apalagi di saat malam hari ketika ingin buang air besar, aduh! sakitnya itu di sini,” ujar Haripuddin sambil menepuk dada.

#Mondelez #CocoaLife 

Ditulis oleh Rudy, Fasilitator Lapangan Proyek Cocoa Life Wahana Visi Indonesia.

Artikel Terkait

29 Mar 2018

Kesejahteraan Anak Urban Bergantung Pada Semua Pihak

Kesejahteraan Anak Urban Bergantung Pada Semua Pihak

Anak-anak yang tinggal di lingkungan urban perkotaan rentan mengalami berbagai permasalahan kompleks yang…

27 Mar 2018

Harapan Kecil untuk Kecamatan yang Stop BABS

Harapan Kecil untuk Kecamatan yang Stop BABS

Kecamatan Nanga Taman, Sekadau, Kalimantan Barat merupakan salah satu kecamatan yang menunjukkan kemajuan…

14 Mar 2018

Ibu Lipah : Saya Dulu Benci Wahana Visi

Ibu Lipah : Saya Dulu Benci Wahana Visi

Srimulyati Lipah, atau biasa dikenal dengan sebutan Ibu Lipah (35) adalah seorang pemimpin…

Ikuti Kami

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • Youtube