DARI LAPANGAN

Teknik 'Double Digging' Ubah Sayur Menjadi Ikan di Kabupaten Ngada

07 Nov, 2017

Mama Ursula (49) saat menyirami tanaman di halaman rumahnya yang telah berubah menjadi lebih hijau dan subur

Tidak ada yang bisa diharapkan dari tanah di desa Uluwae, kecamatan Bajawa Utara, kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Kondisinya yang kering dan keras membuat tanah di desa ini sangat mustahil untuk ditanami tumbuhan seperti tanaman sayur. Namun, dengan teknik double digging (dua kali menggali), masyarakat bisa merasakan manfaat dari tanah di desa mereka.

Mama Ursula (49) adalah salah satu warga desa yang berhasil mendapatkan keuntungan dari teknik pertanian ini. Pasalnya kondisi tanah yang sangat tidak bersahabat membuat dirinya kesulitan untuk mendapatkan panganan berupa sayuran.

Belum lagi jarak desa yang terpencil, dikelilingi bukit serta konsisi jalan yang kurang mendukung semakin menyulitkan Mama Ursula untuk memperoleh sayuran dan lauk yang hanya dijual di pasar di daerah Soa. Biaya yang tidak sedikit juga harus dikeluarkannya jika ingin tiba di sana.

"Di desa kami, harga sayur dan lauk masih mahal. Kami tidak bisa membelinya setiap hari," ungkap Mama Ursula.

Kini dengan adanya pendampingan dari Wahana Visi Indonesia (WVI) di desa Uluwae sejak 2016, Mama Ursula dan warga desa lainnya mulai terbantu untuk melakukan implementasi penyediaan makanan bergizi bagi anak. Melalui program Kebun Gizi, orang tua di Uluwae mendapatkan pelatihan pemanfaatan pekarangan rumah untuk menyediakan sumber gizi bagi anak dan keluarga.

Remondtius Bajo, cucu Mama Ursula menjadi salah satu dari ratusan anak yang membutuhkan asupan gizi seimbang di desa tersebut. Dengan adanya program Kebun Gizi, kini Remond berhasil mendapatkan sumber makanan yang lebih sehat dan bergizi.

Lewat proses double digging tersebut, pekarangan rumah Mama Ursula kini telah menghijau dan tidak pernah berhenti menghasilkan sayur. Sayur inilah yang sehari-hari dikonsumsi oleh Mama Ursula, Remond dan anggota keluarga lainnya untuk dijual dan ditukarkan dengan ikan, tahu dan tempe.

 

Ditulis oleh Santo Petrus & Sprianus Wio Koe, Fasilitator Pengembangan & Lapangan, Wahana Visi Indonesia Kantor Operasional Nagekeo & Ngada