DARI LAPANGAN

Terpilih ke Kanada, Kristian G. Tigor Lebih Percaya Diri Kurangi Kekerasan Anak

14 Nov, 2017

Kristian Gerano Tigor (bawah-kedua dari kiri) bersama anak-anak peserta The WHO 8th Milestones of Global Campaign for Violence Prevention Meeting

Kristian Genaro Tigor (16) menjadi salah satu anak yang mendapatkan kesempatan hadir di The WHO 8th Milestones of Global Campaign for Violence Prevention Meeting di Ottawa, Kanada. Bersama Wahana Visi Indonesia (WVI), Kristian bersama dua orang anak Indonesia lainnya mendapatkan kesempatan untuk menyuarakan pendapat mereka terkait hak anak di Indonesia kepada dunia.

Kristian mulai bergabung menjadi salah satu anak binaan WVI sejak 2015. Ia memulai pengalamannya bersama WVI dengan bergabung dalam pertemuan anak di Wamena untuk membicarakan pembentukan Formatur Forum Anak Kabupaten Jayawijaya. Pasca mengikuti pertemuan tersebut, Kristian melanjutkan untuk terus aktif bersama WVI lewat beberapa acara seperti Forum Anak Daerah, Rangkaian Perayaan Hari Anak Nasional tingkat kabupaten dan sebagainya.

Perjalanan Kristian menuju Ottawa, Kanada dimulai sejak dirinya mengikuti diskusi yang diselenggarakan tim Child Protection (CP) Unit pada 2016. Dirinya turut terlibat dalam kelompok dari Area Program (AP) Lauk Nayak yang membahas isu terkait penelantaran anak.  

Putra kelahiran Wamena ini bergabung bersama kelompok Komunitas Sahabat Nusantara yang membawakan isu anak lewat film dokumenter. Lewat film “Sa Butuh Ko Pu Cinta”, Kristian bersama teman-temannya memaparkan fenomena yang terjadi pada anak-anak jalanan di Wamena.

Film yang telah diunggah ke saluran Youtube ini telah mampu merebut perhatian lebih dari 1.000 mata. Melalui film ini, Kristian kemudian berhasil mendapatkan ‘tiket emas’ menuju Kanada pada 19-20 Oktober 2017 lalu.

YUK CARI TAHU KAMPANYE PENGHAPUSAN KEKERASAN TERHADAP ANAK!

Lewat keberangkatannya ke Kanada, Kristian mengaku bangga dan mendapatkan kepercayaan diri yang lebih lagi. Ia juga mendapatkan banyak pengalaman baru terkait hak dan isu terhadap anak yang terdapat di negara-negara luar, dari para anak yang turut hadir pada pertemuan tersebut.

 “Saya belajar dari kisah teman-teman negara lain, ternyata di sana masih ada kekerasan juga. Misalnya di Afrika yang belum tercipta Undang-Undang Perlindungan anak. Kasihan mereka, karena kalau anak melapor ke Polisi belum tentu ada tindak lanjut dari Kepolisian,” ungkapnya.

Sepulang dari Kanada, Kristian kini masih tetap aktif berkomunikasi dengan teman-temannya yang berasal dari Filipina, Uganda, Mexico, South Africa, Nigeria, Paraguay, El Salvador, dan Sri Lanka. Bahkan mereka membuat kelompok bernama CYPAC (Children and Young People Advisory Council) dan berkomitmen untuk terus menekan angka kekerasan anak di lingkungan mereka masing-masing.

Kristian berpesan agar kekerasan pada anak harus dihilangkan segera. Bahkan ia mengimbau agar anak-anak yang mengalami kekerasan tidak merasa takut untuk mengutarakan kejadian yang sebenarnya.

“Jangan takut untuk melaporkan ke pihak yang berwajib kalau mengalami kekerasan, karena kita dilindungi Undang-Undang anak,” pungkasnya.

 

Ditulis oleh Putri Ianne Barus, Field Communication Officer Wahana Visi Indonesia