DARI LAPANGAN

Yali Inggibal, Pahlawan Jamban dari Papua

28 Nov, 2017

Jika Tuhan kasih ide tapi kita tidak pakai, itu berarti kita yang salah - Yali Inggibal

Harga semen di Desa Manda, Kabupaten Jayawijaya, Papua bisa mencapai Rp800.000 per sak. Akibatnya, jamban permanen di wilayah tersebut sangat jarang ditemui sehingga warga pun memilih untuk Buang Air Besar Sembarangan (BABS) di sekitar Honai. Tentunya, kebiasaan ini memicu berbagai penyakit yang mengancam kesehatan warga Desa Manda.

Merespons hal ini, Wahana Visi Indonesia (WVI) melakukan pemicuan untuk menyadarkan warga tentang bahaya BABS. Pada saat inilah, Yali Inggibal (49) mulai terlibat.

Awalnya, Yali hanya bertugas menerjemahkan instruksi fasilitator dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Walak, bahasa lokal Desa Manda. Sebagai penerjemah, Yali seharusnya tidak terpengaruh. Namun, ia justru menjadi satu-satunya orang yang resah memikirkan dampak ketiadaan jamban di desanya.

Setelah berdiskusi dengan salah satu fasilitator WVI, Yali menemukan bahan pengganti semen untuk membuat jamban, yakni abu sisa pembakaran tungku. Temuan ini segera disampaikan ke kawan-kawan yang lain.

Perjuangan Yali berbuah manis. Warga desa akhirnya sepakat membangun 58 jamban rumah tangga dan 5 jamban umum. Semuanya dibangun secara gotong royong membangun jamban ini.

Guna menjamin perubahan perilaku hidup bersih dan sehat ini, Yali menggerakkan desanya dan desa tetangga untuk menyepakati denda adat sejumlah Rp300.000 bagi mereka yang tertangkap melakukan BABS.

Berkat perjuangan Yali, Kementerian Kesehatan akhirnya meresmikan Desa Air Garam dan Desa Manda sebagai dua desa pertama yang bebas BABS di Papua pada 30 Januari 2015. Kini usahanya pun sudah tercium sampai ke ibu kota. Ia sempat mendapat penghargaan sebagai pahlawan kesehatan dalam acara 1000 Hari Pertama Kehidupan tahun 2015 dan diundang dalam sesi wawancara di stasiun televisi nasional.

"Jika Tuhan kasih ide tapi kita tidak pakai, itu berarti kita yang salah," jelas ayah empat anak yang sesekali merangkap sebagai Guru SD ini.

 

Ditulis oleh Rena Tanjung, Field Communication Officer Wahana Visi Indonesia