PUBLIKASI MEDIA

Dari Sumba Timur ke Ajang Internasional: Suarakan Komitmen Perlindungan Anak

22 Jul, 2019

Dari Sumba Timur ke Ajang Internasional: Suarakan Komitmen Perlindungan Anak

Oslin saat menyampaikan pidatonya di depan delegasi negara-negara (kiri). Oslin bersama para menteri dari beberapa negara (kanan).

Jakarta, Senin, 22 Juli 2019 – Roslinda (14), dipanggil Oslin, siswi kelas 3 SMP asal Sumba Timur,  telah menjadi  wakil anak dari Indonesia untuk berbicara di rangkaian kegiatan terkait High Level Political Forum (HLPF) on Sustainable Development di New York, 9-18 Juli 2019 yang lalu. Pertemuan ini merupakan agenda tahunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk melihat sejauh mana  implementasi agenda tujuan pembangunan berkelanjutan (sustainable development goals, SDGs) telah dilaksanakan Dalam acara ini, Oslin khususnya berbicara mengenai target pembangunan 16.2, tentang penghapusan kekerasan terhadap anak

Oslin melakukan upaya advokasi Forum Anak yang diketuainya sejak tahun 2018 yang mendatangkan perubahan positif di wilayahnya. Beberapa diantaranya ialah wilayah ini memiliki komitmen untuk menjadi Desa Layak Anak, mengadvokasi kepemilikan akta lahir dan kini 100% anak telah memiliki akta lahir, keterlibatan aktif Forum Anak di musrembangdes (musyarawarah rencana pembangunan desa) berkontribusi positif dengan adanya alokasi dana desa sebesar Rp 60 juta untuk kampanye penghapusan kekerasan terhadap anak, dan diterbitkannya peraturan desa perlindungan anak untuk mencegah pernikahan dini dan kewajiban kepemilikan akta lahir

4 Pesan Advokasi
Oslin dalam partisipasinya di 5 side events HLPF 2019, mengangkat 4 pesan advokasi yang terkait dengan pentingnya akta kelahiran, mekanisme perlindungan anak dengan optimalisasi pelaporan dan kader perlindungan anak, pentingnya partisipasi anak dalam keputusan perencanaan pembangunan bersama pemerintah, dan ajakan untuk tiap pihak terlibat dalam upaya pencegahan perkawinan anak. Pada side event bertajuk Leave No Child Behind: Achieving the SDGs through Investing in the Rights of the Child, Oslin berkesempatan untuk berdiri dan menjadi salah satu key speaker bersama dengan para menteri dan delegasi dari berbagai negara, termasuk dengan Menteri Bappenas Indonesia, Bambang Brodjonegoro. Turut hadir pula Yohana Yambise, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, dalam sesi Putting Children at The Heart of the 2030 Agenda dimana Oslin juga berperan sebagai key speaker.

 “Untuk seluruh anak di dunia, saya dorong agar kita semua berani menyuarakan pendapat kita. Jangan takut! Saya mau melihat dunia ini bebas dari kekerasan terhadap anak,” tegas Roslinda dalam pidatonya yang disambut riuh tepukan tangan.

Pada sesi audiensi dengan Utusan Khusus Sekjen PBB Urusan Penghapusan Kekerasan Terhadap Anak, Najat Maala M’Jid, Oslin menyampaikan berbagai masalah kekerasan terhadap anak, termasuk penelantaran anak dan perkawinan anak, di Indonesia, secara khusus dari daerah asalnya Sumba Timur. Dengan tegas Oslin menyampaikan harapannya agar United Nations (Perserikatan Bangsa Bangsa) mampu berfokus pada mekanisme perlindungan anak, agar pola pelaporan kasus kekerasan bisa diakses hingga desa dan mendorong negara-negara untuk melakukan aksi nyata, bukan sekedar rencana atau program. 

Mengetahui upaya yang dilakukan oleh Oslin, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), memberikan apresiasi dalam bentuk piagam penghargaan atas prestasi Oslin sebagai bagian dari forum anak yang memperjuangkan hak sipil anak dan akte kelahiran di wilayahnya. Penghargaan ini akan diterima oleh Oslin dalam peringatan Hari Anak Nasional di Makassar, 23 Juli 2019.

Perjuangan Belum Usai
HLPF 2019 telah berakhir dan penghargaan dari KemenPPPA telah diterima, tetapi upaya advokasi untuk perlindungan anak tidak berhenti disini. Sepulang dari HLPF 2019, Oslin berkomitmen untuk melakukan kegiatan advokasi mendorong perlindungan anak di wilayahnya.. Kolaborasi dengan sekolah dan berbagai pihak terkait akan terus diupayakan. Didampingi oleh Wahana Visi Indonesia (WVI), Oslin siap membagikan pengalamannya kepada teman-teman sebayanya melalui alat peraga kampanye yang kreatif dan edukatif dan mendorong mereka untuk terlibat dalam upaya kampanye penghapusan kekerasan terhadap anak.

 ---

Sekilas Mengenai Wahana Visi Indonesia (WVI)

Wahana Visi Indonesia (WVI) adalah yayasan sosial kemanusiaan  yang bekerja untuk membuat perubahan yang berkesinambungan pada kehidupan anak, keluarga dan masyarakat yang hidup dalam kemiskinan. WVI mendedikasikan diri untuk bekerjasama dengan masyarakat yang paling rentan tanpa membedakan agama, ras, etnis dan gender. Pada Tahun Fiskal 2019, WVI hadir di 52 titik wilayah di 14 provinsi di Indonesia melalui program pengembangan masyarakat dan program-program khusus lainnya. WVI melayani di sektor pendidikan, kesehatan, penguatan ekonomi dan perlindungan anak, dengan pendekatan pengembangan masyarakat jangka panjang, manajemen bencana, dan advokasi.

Untuk informasi lebih lanjut, silahkan hubungi:
Theodora Paramita, Media Relations Executive
Wahana Visi Indonesia
E-mail   : theodora_paramita@wvi.or.id
Telp     : 081249600431

Junito Drias, Advocacy Specialist
Wahana Visi Indonesia
E-mail   : junito_drias@wvi.or.id
Telp     : 081285131838