LEMBAGA DONOR

Kerja Sama Berbagai Pihak, Turunkan Angka DBD

30 Jul 2018

Wahana Visi Indonesia (WVI) melalui proyek SiGAP (Strengthening Government’s Ability towards Disaster Preparedness), yang didanai oleh USAID, melakukan pendampingan bagi kader pemantau jentik (jumantik) di Cilincing dan Penjaringan (Jakarta Utara) serta Kampung Melayu dan Jatinegara (Jakarta Timur). Upaya ini dilakukan untuk mencegah kembali Kejadian Luar Biasa Demam Berdarah Dengue (KLB DBD) di sana.

Pendampingan tersebut berupa pelatihan untuk kader jumantik guna membangun kapasitas. “Pelatihan ini bermanfaat karena kader jumantik jadi lebih paham melakukan pendekatan kepada masyarakat ketika akan melakukan pemantauan jentik, sehingga mereka akan lebih mengerti bahaya penyebaran nyamuk DBD.” papar Popon Rosyanti, kader jumantik dari Kelurahan Kampung Melayu.

Bersama proyek SiGAP, Kelurahan Kampung Melayu setuju membuat dokumen Sistem Kewaspadaan Dini (SKD) KLB DBD. Penyusunan SKD DBD melibatkan berbagai unsur di kelurahan termasuk lurah, sekretaris kelurahan, seksi kesejahteraan rakyat (kesra), seksi prasarana dan kebersihan, seksi pemerintahan, ketentraman dan ketertiban serta satuan pelaksana Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP). Selain itu juga sejumlah pemangku kepentingan seperti kepala puskesmas, seluruh ketua RW, Satuan Petugas Polisi Pamong Praja (Satgas Pol PP) serta Satuan Pelaksana Kependudukan dan Catatan Sipil. Mereka membangun dan menyepakati indikator untuk peringatan dini dan serangkaian aksi yang dilakukan sesuai indikator, serta menunjuk pihak-pihak yang akan menindaklajuti sesuai indikator.

Pemerintah Kelurahan Kampung Melayu juga melakukan uji coba aplikasi pelaporan jumantik menggunakan telepon pintar. Penggunaan aplikasi SmartDB ini membantu kader untuk pelaporan lebih cepat. Terdapat dua kali pelaporan yaitu laporan pemantauan per minggu dan hasil rekap laporan per bulan. Area pemantauan jentik tidak hanya sebatas pada wadah penampungan air dan rumah warga, namun dilakukan juga di saluran air, talang air, rumah kosong serta fasilitas umum.

Mereka pun mengembangkan media Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) untuk kader jumantik berupa buku saku dan lembar balik. Media KIE ini membantu kader jumantik dalam melakukan penyuluhan kepada warga.

Setelah adanya pendampingan oleh WVI, kegiatan pemantauan jentik dilakukan lebih intensif dan efektif, satu minggu sekali.  Hal ini diperkuat oleh pernyataan Lurah Kampung Melayu, Setiyawan. Katanya, kegiatan Jumat Keliling (Jumling) dilakukan pemerintah kelurahan secara bergiliran (satu RW setiap minggu) berinteraksi langsung dengan masyarakat, tidak hanya bertemu dengan kader jumantik untuk memberi pengarahan, namun juga ke rumah-rumah warga.

Dampak positif dari kegiatan-kegiatan tersebut adalah menurunnya kasus DBD di Kelurahan Kampung Melayu. Menurut Setiyawan, pada 2016 terdapat empat puluh kasus DBD yang tersebar di RW 01 hingga RW 08, dan menurun menjadi tujuh kasus pada 2018.

“Dengan adanya pendampingan oleh WVI, Kelurahan Kampung Melayu merasa kader jumantik lebih peka tentang kondisi wilayah terkait dengan tiga indikator Aman, Waspada dan Bahaya. Kemampuan mereka untuk mengantisipasi perubahan sistem pemantauan jentik dengan adanya SmartDB pun meningkat. Selain itu komunikasi dan koordinasi antara puskesmas dan kelurahan menjadi lebih lancar,” jelas Setiyawan menutup pembicaraan.

 

Penulis: Ezra, Proyek SiGAP, Wahana Visi Indonesia

Artikel Terkait

01 Nov 2018

Proyek RISE untuk Masyarakat Sumba Barat Daya

Proyek RISE (Rural Integrated Sector Empowerment) melalui sektor kesehatan dan ekonomi turut berkontribusi dalam…

09 Nov 2017

Kembangkan Jakarta Siaga Call Center 112, SiGAP Lakukan Studi Banding ke Malaysia

Pengembangan Jakarta Siaga 112 Call Center sebagai pilot project nasional di Indonesia sangatlah penting untuk…

22 May 2017

Fenomena La Nina Meningkatkan Potensi Demam Berdarah (DBD)

La Nina merupakan salah satu fenomena yang mempengaruhi iklim di Indonesia, dimana kondisi mendinginnya suhu…

Ikuti Kami

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • Youtube