Dukung Literasi Papua, WVI dan Mitra Universitas Terbitkan Buku Cerita Anak

17 Juni 2026

Admin CMS

Bagikan sekarang

cover image

Kompas.com, Jakarta - Wahana Visi Indonesia (WVI) menerbitkan lebih dari 1.000 buku cerita untuk mengatasi tantangan literasi di Papua.

WVI berkolaborasi dengan Teach for Indonesia Bina Nusantara (Binus) University, Jakarta International University (JIU), dan Universitas Pelita Harapan (UPH) dalam mendukung literasi di Papua melalui "Serah Terima Buku Baca Cerita Anak Papua Jilid 2".

Kolaborasi ini menjadi bagian dari solusi atas tantangan aksesibilitas terhadap buku bacaan yang dihadapi anak-anak Papua.

“WVI percaya bahwa setiap anak berhak belajar dengan baik dan bermimpi," ujar Resource Development & Communications Director Wahana Visi Indonesia, Asteria Aritonang dalam keterangan tertulis, dilansir Selasa (6/1/2026).

WVI luncurkan buku cerita untuk masyarakat Papua

Rencananya, sebanyak 1.080 eksemplar buku cerita akan dihadirkan pada 45 rumah baca dampingan WVI di Papua untuk anak-anak dan para guru relawan setempat.

Dalam menyediakan buku bacaan di Papua, WVI memberikan tiga catatan penting. Apa saja?

Pengembangan literasi di Papua masih menantang

Pertama, mengembangkan literasi di Papua masih menjadi tantangan berat dan membutuhkan perhatian yang serius. Berdasarkan data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2024, tingkat literasi Papua hanya 47,57 persen. Persentase itu menunjukkan kesenjangannya dengan daerah lain di Indonesia perlu segera ditangani. Hal itu menghambat masyarakat Papua, terutama anak-anak, dalam mencapai potensi terbaiknya dan mendapatkan kualitas kehidupan yang lebih baik.

Buku yang relevan dengan budaya Papua

Kedua, cerita dalam buku relevan dengan budaya Papua. Melalui kolaborasi tersebut, WVI menghadirkan 24 buku cerita anak yang merefleksikan budaya, nilai, dan kehidupan masyarakat Papua.

Penulis buku-buku cerita tersebut merupakan pengajar dan pendamping masyarakat Papua, yang memahami konteks kehidupan anak secara langsung.

Dengan demikian, cerita dalam buku-buku tersebut akan terasa relevan dan dekat dengan kehidupan anak-ana di Papua.

Kolaborasi tersebut melanjutkan inisiatif literasi sejak 2024, yang pada tahap pertama menghasilkan 10 buku kontekstual Papua.

Pada tahap kedua, program diperluas dengan melibatkan UPH dan JIU, serta berkolaborasi dengan ilustrator yang melakukan riset dan diskusi mendalam bersama penulis.

Ilustrasi dibuat sesuai penggambaran budaya lokal setempat untuk memikat minat baca anak-aanak Papua.

"Kolaborasi ini menjadi bagian dari solusi atas tantangan akses buku bacaan bagi mereka.

Bukan hanya bacaan yang menarik dan kreatif, namun juga relevan serta dekat dengan kehidupan anak-anak Papua,” tutur Asteria.

Ruang Berkarya untuk Masyarakat Papua

Ketiga adalah terkait ruang berkarya bagi mahasiswa untuk anak-anak Papua.

Program kolaborasi ini membuka kesempatan bagi mahasiswa Binus, UPH, dan JIU untuk terlibat sebagai student volunteer yang tergabung dalam komunitas KinCir.

Mereka berkontribusi sebagai penulis dan ilustrator, yang sekaligus belajar bekerja nyata bagi Papua.

“Tanpa program ini, mahasiswa kami tidak memiliki kesempatan untuk berkontribusi langsung sebagai student volunteer Kincir WVI.

Inilah ruang berharga bagi mereka untuk berkarya dan bekerja nyata bagi Papua.

Kami berharap semakin banyak kaum muda terlibat dalam gerakan literasi,” ucap Deputy Head of New Media Program Binus, Liliek Adelina Suhardjono.

Melalui program kolaborasi ini, WVI bersama Binus, UPH, dan JIU berharap dapat memperkuat budaya literasi dan mendukung anak-anak Papua tumbuh menjadi generasi yang percaya diri, cakap, serta bangga akan budayanya.